Opini

Sombong dalam Ibadah: Dosa yang Terlihat Suci

albadarpost.com, OPINISombong dalam ibadah sering hadir dengan wajah paling sopan. Ia menyamar sebagai kesalehan, bersembunyi dalam kesombongan spiritual, dan tumbuh pelan sebagai ujub dalam amal. Banyak orang takut pada dosa terang-terangan, tetapi sedikit yang waspada pada ilusi kesalehan yang diam-diam menggerogoti hati. Padahal penyakit hati religius justru lebih sulit terdeteksi karena ia memakai jubah suci.

Manusia gemar menghitung rakaat. Namun jarang ada yang menghitung kadar kesombongan yang ikut naik setiap kali dipuji. Ia rajin berzikir, tetapi tersinggung ketika tidak disebut alim. Ia gemar bersedekah, tetapi kecewa ketika namanya tidak diumumkan.

Di titik ini, satir kehidupan terasa getir. Kita khawatir terlihat hina di mata manusia, tetapi santai saja ketika terlihat angkuh di hadapan Tuhan.

Dosa yang Menundukkan, Ibadah yang Meninggikan Diri

Syekh Ibnu Athaillah dalam Hikam pernah menyentil logika keagamaan yang terlalu percaya diri. Beliau menegaskan bahwa maksiat yang melahirkan penyesalan bisa lebih baik daripada ibadah yang menumbuhkan kesombongan. Pernyataan ini bukan pembelaan terhadap dosa. Justru ini tamparan halus bagi mereka yang merasa sudah sampai.

Baca juga: Strategi Pemkot dalam Upaya Revitalisasi Pasar Cikurubuk

Seseorang terjatuh dalam dosa, lalu ia menangis dalam sunyi. Ia merasa kecil. Ia mengetuk pintu ampunan tanpa percaya diri sedikit pun. Namun justru dari kehinaan itu tumbuh ketergantungan kepada rahmat Allah.

Sebaliknya, ada yang berdiri tegak setelah tahajud panjang. Ia merasa selangkah lebih dekat ke surga dibanding tetangganya. Ia berbicara tentang keikhlasan sambil diam-diam menikmati reputasi. Tanpa sadar, ibadah berubah fungsi. Sujud tak lagi menjadi tunduk, melainkan panggung pertunjukan moral.

Al-Qur’an mengingatkan dengan tegas dalam QS. An-Nisa: 36 bahwa Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri. Artinya jelas. Ukuran kemuliaan bukan pada banyaknya amal, melainkan pada bersihnya hati.

Kesombongan Spiritual yang Tak Terlihat

Kesombongan spiritual jarang mengaku sombong. Ia hadir dalam bentuk nasihat panjang yang terasa merendahkan. Ia menyelinap dalam ceramah yang penuh sindiran. Bahkan ia bisa tersembunyi dalam doa yang terdengar khusyuk.

Rasulullah SAW bersabda dalam riwayat Muslim bahwa seseorang tidak akan masuk surga jika di hatinya ada kesombongan walau sebesar biji sawi. Ukurannya kecil. Dampaknya besar. Ia seperti debu di lensa; tipis, tetapi cukup untuk mengaburkan pandangan.

Imam Al-Ghazali dalam tradisi tasawuf menekankan bahwa penyakit hati lebih berbahaya daripada penyakit tubuh. Tubuh yang sakit masih bisa beribadah dengan hati yang bersih. Namun hati yang sakit bisa membuat ibadah kehilangan makna.

Karena itu, muhasabah menjadi penting. Evaluasi diri bukan sekadar menghitung amal, melainkan meneliti niat. Kita perlu bertanya dalam diam: apakah sujud ini benar-benar tunduk, atau hanya ingin terlihat tunduk?

Antara Kehinaan dan Kemuliaan

Syekh Ibnu Athaillah mengingatkan agar kehinaan tidak membuat putus asa, dan kemuliaan tidak membuat lupa diri. Nasihat ini sederhana, tetapi daya ledaknya besar.

Kehinaan bisa menjadi pintu tawadhu jika seseorang mengubahnya menjadi energi taubat. Namun kemuliaan bisa menjelma jebakan ketika ia memicu rasa unggul atas orang lain. Di sinilah paradoks itu muncul. Kita takut reputasi rusak, tetapi jarang takut hati mengeras.

Baca juga: Saat Diky Candra Marah, Publik Soroti Koordinasi Pemkot Tasikmalaya

QS. An-Najm: 32 menutup ruang klaim kesalehan dengan kalimat yang tajam: jangan merasa diri suci. Hanya Allah yang mengetahui siapa yang benar-benar bertakwa. Ayat ini meruntuhkan panggung kesalehan instan. Ia mengingatkan bahwa takwa bukan trofi publik.

Menjadi Hamba, Bukan Pesaing Surga

Pada akhirnya, keselamatan tidak bergantung pada daftar amal yang panjang. Ia bergantung pada rahmat Allah yang luas. Amal penting, tetapi kerendahan hati jauh lebih menentukan.

Maksiat tetap harus ditinggalkan. Namun ujub dalam amal perlu diwaspadai setiap hari. Oleh sebab itu, setiap keberhasilan perlu diikat dengan syukur. Setiap pujian perlu dibalas dengan kesadaran bahwa semua berasal dari-Nya.

Jika suatu hari terjatuh, bangkit dengan istighfar. Sebaliknya, jika suatu hari dipuji, tundukkan hati sebelum tepuk tangan merusak niat. Dengan cara itu, kehinaan tidak menjatuhkan martabat, dan kemuliaan tidak mengangkat ego.

Sombong dalam ibadah adalah ironi paling sunyi dalam kehidupan religius. Ia tidak berteriak. Ia berbisik. Namun bisikannya mampu mengubah sujud menjadi sekadar gerakan tanpa makna.

Dan pada akhirnya, yang menyelamatkan bukanlah jumlah ibadah, melainkan kerendahan hati yang terus dijaga.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Penulis: Diki Samani (Pemimpin Redaksi)


Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button