Breaking News
light_mode
Beranda » Perspektif » Mengapa Abdurrahman bin Auf Tak Pernah Diperbudak Hartanya?

Mengapa Abdurrahman bin Auf Tak Pernah Diperbudak Hartanya?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Jumat, 7 Agt 2026
  • visibility 88
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, PERSPEKTIF — Mengapa banyak orang berubah setelah kaya?

Bukan karena mereka tiba-tiba menjadi jahat.

Bukan pula karena lupa cara bersyukur.

Namun, perlahan mereka mulai merasa bahwa semua yang dimiliki lahir semata-mata dari kerja kerasnya sendiri. Di saat yang sama, rasa takut kehilangan harta tumbuh semakin besar.

Fenomena itu tidak hanya terjadi hari ini. Dalam psikologi dikenal istilah loss aversion, yaitu kecenderungan manusia lebih takut kehilangan sesuatu daripada menikmati keuntungan yang baru diperoleh. Semakin besar kekayaan, sering kali semakin besar pula kecemasan untuk melepaskannya.

Akan tetapi, kisah Abdurrahman bin Auf, salah satu sahabat Nabi yang kaya, justru berjalan ke arah sebaliknya. Semakin Allah melimpahkan rezeki kepadanya, semakin ringan tangannya berbagi. Kekayaan dalam Islam baginya bukan tujuan hidup, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Lalu, bagaimana mungkin seorang saudagar yang sangat kaya mampu hidup zuhud tanpa diperbudak hartanya?

“Tunjukkan Saja Kepadaku Di Mana Pasar”

Ketika hijrah ke Madinah, Abdurrahman bin Auf datang hampir tanpa membawa harta. Rasulullah ﷺ kemudian mempersaudarakannya dengan Sa’ad bin Rabi’, seorang sahabat Anshar yang terkenal berkecukupan.

Sebagai bentuk persaudaraan, Sa’ad menawarkan setengah hartanya kepada Abdurrahman. Bahkan, ia bersedia membagi kebun dan seluruh kenyamanan hidup yang dimilikinya.

Namun, jawaban Abdurrahman membuat banyak orang takjub hingga hari ini.

“Semoga Allah memberkahi keluarga dan hartamu. Tunjukkan saja kepadaku di mana pasar.”

(HR. Bukhari No. 2048)

Kalimat itu bukan sekadar penolakan yang sopan.

Itu adalah pernyataan tentang harga diri, kerja keras, dan keyakinan bahwa rezeki terbaik adalah yang diperoleh melalui usaha yang halal.

Sejak saat itu, ia berdagang dengan jujur. Keuntungan terus bertambah. Usahanya berkembang pesat. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, namanya dikenal sebagai salah satu saudagar terbesar di Madinah.

Ketika Ratusan Unta Memasuki Madinah

Bayangkan suasana Madinah pada suatu hari.

Debu beterbangan di jalan.

Suara langkah unta bergemuruh dari kejauhan.

Penduduk keluar rumah karena melihat kafilah dagang yang sangat besar memasuki kota.

Dalam sejumlah kitab sejarah Islam disebutkan bahwa Abdurrahman bin Auf pernah memiliki kafilah dagang dengan ratusan unta yang membawa berbagai barang perdagangan. Riwayat mengenai jumlah pastinya berbeda-beda di berbagai sumber, tetapi para ulama sepakat bahwa beliau termasuk sahabat Nabi yang sangat kaya sekaligus sangat dermawan.

Yang menarik bukanlah banyaknya unta.

Yang luar biasa adalah sikap pemiliknya.

Ketika kekayaan datang bertubi-tubi, ia tidak membangun tembok yang lebih tinggi untuk melindungi hartanya. Sebaliknya, ia membuka pintu sedekah lebih lebar.

Baginya, harta hanyalah titipan.

Bukan identitas.

Islam Tidak Pernah Memusuhi Orang Kaya

Sebagian orang mengira menjadi kaya bertentangan dengan ajaran Islam.

Padahal, Rasulullah ﷺ bersabda,

«نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلرَّجُلِ الصَّالِحِ»

“Sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki oleh orang yang saleh.”

(HR. Ahmad, dinilai hasan oleh sejumlah ulama)

Artinya, Islam tidak melarang umatnya menjadi sukses dalam bisnis atau memiliki kekayaan.

Yang dilarang adalah ketika hati mulai diperbudak oleh harta.

Allah SWT juga berfirman,

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ

“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.”

(QS. Ali ‘Imran: 92)

Ayat ini bukan hanya dibaca oleh Abdurrahman bin Auf.

Ia menghidupkannya dalam keseharian.

Zuhud Bukan Menolak Dunia, Tetapi Menguasainya

Banyak orang memahami zuhud sebagai hidup miskin.

Padahal, para ulama menjelaskan bahwa zuhud berarti dunia berada di tangan, bukan di hati.

Abdurrahman bin Auf bekerja keras.

Ia membangun usaha.

Ia mengembangkan perdagangan.

Namun, setiap kali Allah menambah hartanya, ia juga memperbesar kepeduliannya kepada sesama.

Allah mengingatkan,

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ…

“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga, dan berlomba memperbanyak harta serta anak.”

(QS. Al-Hadid: 20)

Ayat ini tidak melarang memiliki kekayaan.

Ayat ini mengingatkan agar manusia tidak kehilangan arah ketika kekayaan bertambah.

Pelajaran yang Masih Relevan Hari Ini

Di era media sosial, ukuran keberhasilan sering dihubungkan dengan rumah, kendaraan, investasi, atau jumlah pengikut.

Tanpa disadari, banyak orang sibuk memperbesar aset, tetapi lupa memperbesar manfaat.

Abdurrahman bin Auf menunjukkan ukuran yang berbeda.

Ia tidak pernah menjadikan kekayaan sebagai tujuan akhir.

Ia menjadikan kekayaan sebagai jalan menuju ridha Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda,

«لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ»

“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta, melainkan kekayaan yang sesungguhnya adalah kaya hati.”

(HR. Bukhari No. 6446 dan Muslim No. 1051)

Mungkin itulah sebabnya sejarah tidak mengingat Abdurrahman bin Auf karena jumlah hartanya.

Sejarah mengingatnya karena cara ia memperlakukan hartanya.

Banyak orang mengumpulkan harta agar hidupnya terasa aman.

Abdurrahman bin Auf mengumpulkan harta agar lebih banyak yang bisa ia lepaskan di jalan Allah.

Sebab yang membuat seseorang mulia bukanlah seberapa besar kekayaan yang berhasil dikumpulkan, melainkan seberapa ringan hati melepaskannya demi meraih ridha Allah. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jangkrik Ciamis

    Jangkrik Ciamis Naik Kelas, 70 Persen Dijual Langsung

    • calendar_month Kamis, 20 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 33
    • 0Komentar

    AlbadarPost.com, BERITA DAERAH – Jangkrik Ciamis mulai memasuki pola usaha yang berbeda. Kelompok Peternak Jangkrik Boss di Desa Margaharja, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Ciamis, mulai mengurangi ketergantungan pada pengepul melalui penguatan budidaya jangkrik, teknologi tepat guna, dan digital marketing. Perubahan paling terlihat berada pada jalur pemasaran. Berdasarkan hasil program pendampingan, porsi penjualan melalui pengepul turun dari […]

  • Pendidikan Era Digital

    Kemendikdasmen Ungkap Tantangan Pendidikan Era Digital

    • calendar_month Sabtu, 25 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 95
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Kemajuan teknologi telah mengubah wajah pendidikan era digital di Indonesia. Digitalisasi pendidikan menghadirkan berbagai kemudahan, mulai dari akses informasi tanpa batas hingga pembelajaran yang lebih fleksibel melalui perangkat digital. Namun, di balik berbagai peluang tersebut, muncul pula sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi bersama. Melalui materi edukasi dalam program Selasar (Selasa Belajar) yang dipublikasikan […]

  • Kepala Desa Masuk Kampus

    Program Kepala Desa Masuk Kampus Resmi Dimulai

    • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 132
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL — Biasanya mereka memimpin rapat desa, meninjau pembangunan jalan, atau berdialog dengan warga di balai desa. Namun, mulai akhir Juni 2026 ini, sejumlah kepala desa dari berbagai daerah di Indonesia akan kembali memasuki ruang kelas. Bedanya, kali ini mereka belajar di salah satu kampus terbaik di Indonesia, Universitas Indonesia (UI). Kemendagri dan […]

  • Tafsir Al-Hasyr 18

    Allah Bertanya, Apa Bekalmu untuk Esok?

    • calendar_month Sabtu, 8 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 42
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH – Setiap pagi, jutaan orang berangkat bekerja sambil membawa daftar target. Ada yang mengejar kenaikan jabatan, menabung untuk membeli rumah, membangun usaha, atau menyiapkan masa pensiun. Semua itu penting. Namun, di tengah kesibukan tersebut, Tafsir Al-Hasyr 18 menghadirkan satu pertanyaan yang jauh lebih dalam: apa yang sudah kita siapkan untuk “esok” yang sebenarnya? […]

  • fikih keluarga kontemporer

    Mengapa Ulama Kini Bahas Ancaman Nonmiliter?

    • calendar_month Rabu, 29 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 75
    • 0Komentar

    AlbadarPost.com, HUMANIORA – Mengapa ulama kini ikut membahas ancaman nonmiliter? Pertanyaan itu mungkin terdengar tidak biasa. Namun, di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan sosial, isu tersebut dinilai semakin relevan untuk dikaji dari perspektif hukum Islam. Itulah salah satu tema yang akan dibahas dalam forum akademik yang mempertemukan ulama, akademisi, dan peneliti di Pesantren Buntet, […]

  • kebiasaan pagi orang sukses

    Orang Sukses Dunia Punya 7 Kebiasaan Pagi, Nomor 5 Jarang Disadari

    • calendar_month Rabu, 25 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 158
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Banyak orang mengira kesuksesan datang dari kerja keras sepanjang hari. Padahal, rahasianya sering dimulai sejak pagi. Kebiasaan pagi orang sukses sering terlihat sederhana, namun rutinitas kecil ini membentuk pola pikir yang fokus dan produktif. Menariknya, rutinitas pagi orang sukses atau morning routine orang sukses jarang disadari banyak orang. Kebiasaan ini membantu mereka […]

expand_less