Guru SMK Dituntut Terus Upgrade Skill, Teknologi Makin Cepat
- account_circle redaktur
- calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
- visibility 84
- comment 0 komentar
- print Cetak

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Republik Indonesia, Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed. (Foto: SMKN 1 Tasikmalaya).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HUMANIORA — Guru SMK kini menghadapi tantangan yang tidak kalah penting dari para siswanya. Ketika teknologi dan kebutuhan dunia kerja terus bergerak, guru vokasi juga perlu memperbarui kompetensi agar pembelajaran tetap relevan. Karena itu, peningkatan kemampuan guru SMK menjadi bagian penting dalam menyiapkan lulusan yang mampu beradaptasi dengan perubahan industri.
Isu tersebut mengemuka saat Program Peningkatan Kompetensi bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Vokasi Tahun 2026 Angkatan 4 dibuka di SMK Negeri 1 Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin, 10 Agustus 2026. Program tersebut diselenggarakan untuk memperkuat kualitas SDM pendidikan vokasi agar semakin selaras dengan kebutuhan dunia industri.
Ada satu pesan penting di balik program itu: bukan hanya siswa yang harus terus belajar. Guru SMK pun harus mampu mengejar perkembangan teknologi.
Teknologi Bergerak, Kompetensi Guru Tak Boleh Berhenti
Perubahan teknologi membuat dunia pendidikan vokasi menghadapi tantangan baru. Peralatan kerja, sistem produksi, perangkat digital, hingga kecerdasan buatan berkembang dengan cepat.
Dalam kondisi tersebut, kemampuan teknis yang pernah dikuasai seorang guru belum tentu selamanya cukup untuk kebutuhan pembelajaran.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat menekankan pentingnya upskilling bagi guru vokasi. Menurutnya, perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat sehingga guru perlu terus meningkatkan kompetensinya agar tidak tertinggal.
Pesan itu menjadi relevan bagi SMK karena sekolah kejuruan memiliki hubungan langsung dengan kebutuhan dunia kerja.
Siswa tidak hanya belajar teori. Mereka juga mempelajari keterampilan yang kelak digunakan ketika memasuki industri, dunia usaha, atau membuka pekerjaan sendiri.
Karena itu, guru yang mengajarkan keterampilan tersebut perlu memahami perkembangan bidang keahliannya.
Guru SMK Bukan Sekadar Pengajar di Kelas
Selama ini, pembicaraan mengenai kesiapan lulusan SMK sering berfokus pada siswa.
Apakah mereka memiliki keterampilan?
Apakah mereka menguasai teknologi?
Dan apakah mereka siap memasuki dunia kerja?
Semua pertanyaan tersebut penting. Namun, ada satu pertanyaan lain yang tidak kalah mendasar: apakah kompetensi yang diajarkan di sekolah masih sesuai dengan kebutuhan lapangan?
Di titik inilah posisi guru SMK menjadi sangat strategis.
Guru vokasi bukan hanya menyampaikan materi pelajaran. Mereka juga membentuk keterampilan praktis, cara berpikir, kedisiplinan, serta kemampuan siswa menghadapi lingkungan kerja.
Oleh sebab itu, peningkatan kompetensi guru seharusnya tidak berhenti pada kegiatan pelatihan. Pengalaman industri, sertifikasi, praktik teknologi terbaru, dan hubungan dengan dunia usaha juga dapat memperkaya proses pembelajaran.
Pemerintah sebelumnya juga menjalankan berbagai program peningkatan kompetensi guru SMK yang diarahkan pada kebutuhan dunia kerja. Kemendikdasmen menyebut peningkatan kompetensi guru memiliki peran penting dalam mendorong kualitas pembelajaran vokasi dan menghasilkan lulusan yang lebih relevan dengan kebutuhan industri.
Mengapa Perubahan Teknologi Harus Diikuti Guru?
Ada alasan sederhana mengapa kompetensi guru perlu terus diperbarui.
Siswa SMK dipersiapkan untuk memasuki dunia yang berubah. Jika teknologi di industri berkembang, pembelajaran di sekolah juga perlu menyesuaikan.
Misalnya, perkembangan kecerdasan buatan mulai memengaruhi berbagai pekerjaan. Begitu pula otomatisasi, sistem digital, Internet of Things, hingga penggunaan perangkat lunak khusus di sejumlah bidang.
Guru tidak harus menguasai seluruh teknologi tersebut.
Namun, guru perlu memahami teknologi yang memang berkaitan dengan bidang keahliannya. Dengan begitu, mereka dapat menentukan keterampilan mana yang penting bagi siswa.
Pendekatan tersebut juga membuat pembelajaran lebih kontekstual.
Siswa tidak sekadar belajar menggunakan perangkat karena ada di laboratorium. Mereka memahami bagaimana teknologi tersebut digunakan dalam pekerjaan nyata.
Pada akhirnya, sekolah dapat menjadi jembatan yang lebih kuat antara pendidikan dan kebutuhan industri.
Tantangan Berikutnya: Jangan Sampai Sekolah Tertinggal Industri
Program peningkatan kompetensi guru menjadi langkah penting. Namun, pelatihan saja tidak cukup.
Sekolah juga perlu membangun hubungan yang kuat dengan dunia usaha dan dunia industri.
Kolaborasi tersebut dapat membantu guru memahami perubahan kebutuhan tenaga kerja. Selain itu, sekolah dapat memperoleh gambaran mengenai teknologi yang mulai digunakan di lapangan.
Bagi SMK di Tasikmalaya dan daerah lain di Jawa Barat, kebutuhan tersebut memiliki konteks tersendiri.
Karakter industri setiap daerah tidak selalu sama. Karena itu, kompetensi yang dikembangkan sekolah idealnya juga mempertimbangkan potensi ekonomi dan kebutuhan tenaga kerja di wilayah masing-masing.
Dengan cara tersebut, peningkatan kompetensi guru tidak berhenti sebagai program administratif.
Hasilnya harus terlihat di ruang kelas.
Materi pembelajaran menjadi lebih relevan. Praktik siswa menjadi lebih kontekstual. Selanjutnya, lulusan memiliki bekal yang lebih sesuai dengan perubahan dunia kerja.
Guru Terus Belajar, Siswa Mendapat Dampaknya
Pada akhirnya, persoalan pendidikan vokasi bukan hanya tentang seberapa cepat siswa belajar.
Ada rantai yang saling berkaitan.
Guru belajar, kemudian pengetahuan tersebut masuk ke ruang kelas. Siswa mempraktikkannya, lalu keterampilan itu mereka bawa ketika memasuki dunia kerja.
Karena itu, kualitas guru memiliki pengaruh besar terhadap kualitas pembelajaran.
Guru SMK juga tidak harus menjadi ahli dalam semua teknologi baru. Yang jauh lebih penting adalah memiliki kemauan untuk terus belajar dan kemampuan untuk memilah perkembangan yang benar-benar relevan dengan bidangnya.
Program peningkatan kompetensi yang dibuka di Tasikmalaya menjadi pengingat bahwa pendidikan vokasi harus bergerak bersama perubahan zaman. Dunia kerja tidak menunggu sekolah selesai memperbarui diri.
Sekolah pun tidak boleh hanya mengejar teknologi setelah industri menggunakannya.
Justru sebaliknya, pendidikan vokasi harus berusaha membaca perubahan sejak dini.
Sebab, ketika teknologi bergerak lebih cepat daripada pembelajaran, yang dipertaruhkan bukan cuma kemampuan guru. Masa depan lulusan SMK ikut berada di garis depan.
Dan di situlah ukuran keberhasilan pendidikan vokasi sebenarnya: bukan seberapa banyak guru mengikuti pelatihan, tetapi seberapa nyata ilmu baru itu membuat siswa lebih siap menghadapi dunia yang terus berubah. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar