Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Syekh Athaillah: Bahaya Mengejar Terkenal dalam Beramal

Syekh Athaillah: Bahaya Mengejar Terkenal dalam Beramal

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
  • visibility 216
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Syekh Athaillah, melalui hikmah-hikmahnya dalam Al-Hikam, mengajarkan bahwa tawadhu, ikhlas, dan menjauhi riya merupakan fondasi setiap amal. Pesan itu justru terasa semakin relevan ketika banyak orang berlomba mengejar perhatian, pengakuan, dan popularitas. Di tengah budaya yang mengukur keberhasilan dari seberapa sering seseorang tampil, ajaran Syekh Athaillah mengajak manusia kembali memeriksa niat sebelum mencari tepuk tangan.

Fenomena tersebut bukan hanya terjadi di ruang publik. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dapat tergoda mengukur nilai dirinya dari pujian yang diterima. Amal yang semula lahir karena Allah perlahan berubah menjadi upaya memperoleh pengakuan. Di sinilah letak ironi zaman: semakin mudah dikenal, semakin berat menjaga keikhlasan.

Syekh Athaillah menulis sebuah hikmah yang terus dikutip hingga kini:

اِدْفِنْ وُجُوْدَكَ فِيْ أَرْضِ الْخُمُوْلِ، فَمَا نَبَتَ مِمَّا لَمْ يُدْفَنْ لَا يَتِمُّ نَتَاجُهُ

“Tanamlah dirimu dalam tanah kerendahan. Sebab setiap sesuatu yang tumbuh tetapi tidak ditanam, tidak akan sempurna buahnya.”

Kalimat singkat itu menghadirkan gambaran sederhana. Pohon yang berakar kuat tidak lahir dari tempat yang tinggi, melainkan dari tanah yang rela diinjak. Semakin dalam akar menembus bumi, semakin kokoh pohon menghadapi angin.

Tawadhu Bukan Merendahkan Diri, Tetapi Menempatkan Hati

Sebagian orang memahami tawadhu sebagai sikap meremehkan kemampuan diri. Padahal Islam mengajarkan hal yang berbeda. Tawadhu berarti menyadari bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah, sehingga tidak ada alasan untuk menyombongkan diri.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Man tawādha’a rafa’ahullāh wa man takabbara waḍa’ahullāh.”

“Siapa yang merendahkan diri karena Allah, Allah akan mengangkat derajatnya. Sebaliknya, siapa yang menyombongkan diri, Allah akan merendahkannya.” (HR. Muslim)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa kemuliaan tidak lahir dari pencitraan. Sebaliknya, Allah sendiri yang meninggikan orang-orang yang menjaga kerendahan hati.

Karena itu, seorang mukmin tidak menjadikan popularitas sebagai tujuan. Jika kemudian ia dikenal karena ilmunya atau manfaat yang diberikannya, hal itu merupakan amanah yang harus dijaga, bukan prestasi yang layak dibanggakan.

Popularitas Bisa Menjadi Nikmat, Bisa Pula Menjadi Ujian

Ulama besar Ibrahim bin Adham pernah mengingatkan:

“Tidak benar-benar jujur kepada Allah orang yang mencintai popularitas.”

Ucapan tersebut tidak berarti Islam melarang seseorang dikenal masyarakat. Banyak nabi, sahabat, dan ulama saleh memiliki pengaruh yang luas.

Namun persoalannya bukan pada dikenal atau tidak dikenal, melainkan pada tujuan di balik setiap amal.

Jika seseorang berbuat baik agar dipuji, maka pujian itulah yang sedang ia kejar. Sebaliknya, apabila ia beramal semata-mata mengharap rida Allah, maka pujian maupun celaan manusia tidak lagi menjadi penentu kebahagiaannya.

Di sinilah hati diuji. Semakin besar sorotan, semakin besar pula godaan untuk menikmati tepuk tangan.

Orang Ikhlas Tidak Gelisah Ketika Namanya Terlupakan

Ayyub As-Sakhtiyani pernah berkata:

“Demi Allah, tidak ada hamba yang benar-benar ikhlas kepada Allah kecuali ia merasa senang jika dirinya tidak menjadi pusat perhatian.”

Nasihat ini terasa begitu kontras dengan kebiasaan manusia modern. Banyak orang takut kehilangan perhatian, padahal para ulama terdahulu justru takut kehilangan keikhlasan.

Mereka memahami bahwa amal tidak memerlukan panggung agar bernilai. Sebaliknya, amal yang tersembunyi sering kali lebih selamat dari penyakit hati.

Keikhlasan tumbuh ketika seseorang tetap berbuat baik, sekalipun tidak ada yang memuji dan tidak ada yang mengetahui.

Riya Datang Tanpa Suara

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa riya, meskipun sedikit, termasuk bentuk syirik kecil. Hadis ini menjadi peringatan agar setiap muslim terus mengoreksi niatnya.

Riya sering kali tidak hadir dalam bentuk kesombongan yang terang-terangan. Ia muncul melalui bisikan halus: ingin dianggap dermawan, ingin dipandang paling saleh, atau berharap memperoleh penghormatan dari manusia.

Karena itulah para ulama lebih sering memeriksa niatnya sendiri daripada sibuk menilai niat orang lain.

Sikap tersebut menjadi pelajaran penting. Memperbaiki hati jauh lebih bermanfaat daripada mengejar citra yang hanya bertahan sesaat.

Kemuliaan Tidak Selalu Berjalan Bersama Ketenaran

Dalam hadis yang diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa Allah mencintai hamba-hamba yang bertakwa, rendah hati, dan tidak mencari ketenaran. Jika mereka tidak terlihat, tidak ada yang mencarinya. Namun di sisi Allah, mereka memiliki kedudukan yang mulia.

Inilah ukuran yang berbeda antara langit dan bumi.

Manusia sering mengukur keberhasilan dari seberapa banyak orang mengenalnya. Allah justru melihat seberapa bersih hati seseorang ketika beramal.

Syekh Athaillah mengingatkan bahwa akar yang tersembunyi justru menopang pohon yang menjulang. Demikian pula keikhlasan. Ia mungkin tidak tampak di mata manusia, tetapi menjadi sebab diterimanya amal di sisi Allah.

Pada akhirnya, sejarah tidak selalu diubah oleh mereka yang paling terkenal. Sering kali, perubahan besar lahir dari hati-hati yang bekerja dalam diam, beramal tanpa menunggu tepuk tangan, lalu pulang membawa satu harapan: semoga Allah menerima setiap langkah yang tidak pernah diketahui manusia. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ilustrasi seseorang berdiri di panggung mengejar popularitas sementara bayangan dirinya tertunduk dalam kerendahan hati

    Saat Ibadah Jadi Ajang Pamer

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 198
    • 0Komentar

    albadarpost.com, OPINI – Di zaman ketika tepuk tangan terasa lebih nikmat daripada doa, Bahaya Cinta Popularitas menjadi penyakit rohani yang kerap tidak disadari. Cinta ketenaran, hasrat tampil terkenal, dan obsesi menjadi sorotan publik sering menyusup ke dalam amal baik. Padahal, Syekh Athoillah dalam Hikam telah mengingatkan, “Tanamlah dirimu dalam tanah kerendahan, sebab sesuatu yang tumbuh […]

  • Mitigasi Kekeringan

    Kemarau Mengintai, Tasikmalaya Siapkan Tiga Langkah Antisipasi

    • calendar_month Kamis, 6 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 87
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Musim kemarau belum mencapai puncaknya. Namun ancaman yang menyertainya mulai menjadi perhatian. Mitigasi kekeringan kini menjadi fokus Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya karena dampaknya tidak hanya berkaitan dengan berkurangnya pasokan air bersih, tetapi juga berpotensi memengaruhi lahan pertanian serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Berangkat dari potensi tersebut, Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya […]

  • Suasana malam takbiran Dzulhijjah di kampung Indonesia dengan gema takbir, bedug musala, dan warga bersiap menyambut Idul Adha.

    Bukan Sekadar Kurban, Ini Rahasia Besar Bulan Dzulhijjah

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 175
    • 0Komentar

    analbadarpost.com, HIKMAH – Bulan Dzulhijjah selalu identik dengan haji, kurban, dan gema takbir Idul Adha. Namun ternyata, ada banyak fakta Dzulhijjah yang jarang diketahui masyarakat. Bulan terakhir dalam kalender Hijriah ini bukan hanya tentang penyembelihan hewan kurban, tetapi juga tentang perubahan hati, momentum memperbaiki hidup, hingga suasana spiritual yang terasa berbeda dibanding bulan lainnya. Bahkan […]

  • Kesehatan Publik

    Singapura Perketat Vape, Pasar Gelap Ikut Bergerak

    • calendar_month Senin, 19 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 186
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Singapura kembali menegaskan posisinya sebagai negara dengan pendekatan keras terhadap zat adiktif. Pemerintah memperluas penindakan terhadap rokok elektrik atau vape dengan alasan perlindungan kesehatan publik, menyusul temuan meningkatnya penggunaan vape yang dicampur zat narkotika. Kebijakan ini tidak hanya berdampak pada perilaku konsumsi di dalam negeri, tetapi juga memunculkan perdebatan tentang kebebasan […]

  • restorative justice Bogor

    Kejari Bogor Hentikan Perkara Saepul Lewat Restorative Justice

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 112
    • 0Komentar

    Kejari Bogor hentikan perkara penadah motor lewat restorative justice setelah terpenuhi syarat hukum dan kesepakatan damai. albadarpost.com, HUMANIORA – – Kejaksaan Negeri Kabupaten Bogor menghentikan perkara penadahan motor curian yang menjerat Saepul, 24 tahun, melalui mekanisme restorative justice Bogor. Langkah ini diambil setelah semua syarat yuridis dan sosial terpenuhi, termasuk kesepakatan damai antara pihak korban […]

  • Harkitnas Tasikmalaya

    Harkitnas Kodim Tasikmalaya: Dandim Soroti Ancaman Digital

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 144
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Harkitnas Kodim Tasikmalaya atau Hari Kebangkitan Nasional ke-118 di Makodim 0612/Tasikmalaya berlangsung penuh khidmat, Rabu (20/05/2026). Namun di balik upacara bendera dan barisan prajurit yang berdiri tegak di Lapangan Makodim, tersimpan pesan penting tentang tantangan baru bangsa Indonesia: ancaman era digital terhadap generasi muda. Upacara dipimpin langsung Dandim 0612/Tasikmalaya Letkol Czi M. […]

expand_less