Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Harga Diri Bukan Soal Uang, Mengapa Kita Masih Mengukurnya?

Harga Diri Bukan Soal Uang, Mengapa Kita Masih Mengukurnya?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • visibility 23
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Seseorang bisa bekerja keras bertahun-tahun, hidup sederhana, dan memenuhi kebutuhan keluarganya dengan jujur. Namun, di tengah masyarakat yang gemar menilai keberhasilan dari penghasilan, kehidupan seperti itu terkadang masih dianggap belum cukup berhasil.

Sebaliknya, orang yang datang dengan mobil baru, mengenakan barang bermerek, atau bercerita tentang pencapaian finansialnya sering mendapat sambutan berbeda. Pertanyaan yang muncul bukan lagi tentang bagaimana ia memperlakukan orang lain, melainkan seberapa jauh kehidupannya terlihat sukses.

Begitulah harga diri perlahan dipersempit menjadi urusan uang. Seolah-olah manusia baru pantas dihormati setelah memiliki cukup banyak hal untuk dipamerkan.

Padahal, jika penghormatan harus dibeli dengan kekayaan, orang yang paling kaya semestinya menjadi manusia yang paling mulia. Kenyataannya, uang dapat membeli banyak barang, tetapi tidak otomatis membeli kejujuran, kebijaksanaan, atau ketulusan.

Ketika Penghasilan Menjadi Rapor Kehidupan

Di meja makan keluarga, dalam obrolan reuni, hingga percakapan antartetangga, penghasilan kerap menjadi ukuran keberhasilan yang tidak tertulis.

Seseorang yang baru membeli rumah mendapat pujian. Orang yang naik jabatan dianggap berhasil. Sementara itu, mereka yang masih berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari terkadang harus menghadapi pertanyaan yang terdengar sederhana, tetapi terasa menekan: kapan hidupnya akan berubah?

Tidak ada yang salah dengan rumah yang lebih baik, pekerjaan yang mapan, atau penghasilan yang meningkat. Semua itu bisa menjadi hasil kerja keras yang patut disyukuri.

Masalah muncul ketika pencapaian tersebut berubah menjadi ukuran tunggal untuk menilai manusia.

Kita mulai lupa bahwa seseorang mungkin berpenghasilan sederhana, tetapi tidak pernah mengambil hak orang lain. Ada orang yang tidak memiliki banyak harta, tetapi tetap memenuhi tanggung jawab terhadap keluarganya. Ada pula orang yang hidupnya tampak biasa saja, tetapi kehadirannya menjadi tempat orang lain mencari pertolongan.

Sayangnya, nilai-nilai semacam itu tidak selalu terlihat dalam foto, angka rekening, atau percakapan tentang jabatan.

Masyarakat akhirnya lebih mudah menghitung apa yang dimiliki seseorang daripada memahami bagaimana ia menjalani hidupnya. Padahal, keadaan ekonomi seseorang tidak cukup untuk menentukan nilai dirinya sebagai manusia.

Gengsi: Membeli Pengakuan dengan Uang Sendiri

Keinginan memperbaiki kehidupan merupakan hal yang wajar. Kita boleh memiliki rumah yang nyaman, membeli kendaraan, mengenakan pakaian yang baik, dan menikmati hasil kerja keras.

Namun, ada pertanyaan yang perlu diajukan sebelum membeli sesuatu: apakah kita benar-benar membutuhkannya, atau sekadar tidak ingin terlihat tertinggal?

Pertanyaan itu penting karena gengsi dapat menyamar sebagai kebutuhan.

Ponsel masih berfungsi, tetapi harus diganti agar tidak dianggap ketinggalan zaman. Pakaian masih layak, tetapi terasa memalukan ketika teman-teman mengenakan merek terkenal. Penghasilan belum mencukupi kebutuhan pokok, tetapi cicilan baru tetap diambil demi mempertahankan penampilan.

Akhirnya, uang yang seharusnya membantu kehidupan justru habis untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain.

Ironinya, orang yang ingin terlihat mampu bisa berakhir kesulitan memenuhi kebutuhan sendiri. Ia tampak berhasil di hadapan orang lain, tetapi diam-diam menghitung sisa uang untuk bertahan sampai akhir bulan.

Tentu, tidak semua orang yang membeli barang mahal sedang mengejar pengakuan. Persoalannya bukan pada harga barang, melainkan pada alasan di balik keputusan tersebut.

Jika keputusan keuangan lebih banyak dikendalikan oleh rasa malu, takut diremehkan, dan keinginan menyamai kehidupan orang lain, kita perlu mengevaluasi kembali standar keberhasilan yang selama ini digunakan.

Sebab, tidak masuk akal mengorbankan ketenangan hidup hanya demi memperoleh penilaian baik dari orang-orang yang bahkan tidak ikut menanggung cicilan kita.

Apa Kata Islam tentang Kemuliaan Manusia?

Islam tidak mengajarkan bahwa kekayaan merupakan sesuatu yang buruk. Harta dapat menjadi sarana memenuhi kebutuhan keluarga, membantu sesama, membangun usaha, dan menjalankan berbagai kebaikan.

Namun, kekayaan bukan ukuran mutlak kemuliaan manusia.

Allah SWT berfirman dalam (Al-Qur’an Al-Hujurat: 13):

اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

Ayat ini menempatkan ketakwaan sebagai ukuran kemuliaan di sisi Allah, bukan kekayaan, keturunan, jabatan, atau penampilan.

Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa Allah tidak melihat rupa dan harta manusia, tetapi melihat hati dan amal mereka:

Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa Allah tidak melihat rupa dan harta manusia, tetapi melihat hati dan amal mereka.

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

(HR. Muslim, nomor 2564)

Pesan tersebut tidak berarti manusia harus mengabaikan penampilan, pekerjaan, atau kondisi ekonominya. Islam justru mendorong umatnya untuk berusaha, bekerja dengan cara yang halal, dan menunaikan tanggung jawab.

Yang perlu diluruskan adalah anggapan bahwa kepemilikan harta otomatis membuat seseorang lebih terhormat, sedangkan keterbatasan ekonomi menjadikannya kurang bernilai.

Orang kaya tetap perlu menjaga akhlaknya. Orang yang hidup sederhana tetap memiliki martabat yang harus dihormati. Keduanya tidak layak dinilai hanya dari apa yang tampak di permukaan.

Harta dapat menunjukkan kemampuan ekonomi seseorang, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan kualitas akhlaknya.

Qanaah Bukan Berarti Berhenti Berusaha

Salah satu cara menjaga harga diri adalah memahami qanaah dalam Islam, yaitu sikap merasa cukup atas rezeki yang Allah berikan tanpa meninggalkan ikhtiar untuk memperbaiki kehidupan.

Qanaah bukan alasan untuk bermalas-malasan atau menerima ketidakadilan. Seseorang tetap boleh mencari penghasilan lebih baik, mengembangkan usaha, menabung, dan merencanakan masa depan keluarganya.

Bedanya, ia berusaha untuk memperbaiki keadaan, bukan semata-mata mengejar pengakuan.

Ketika melihat orang lain membeli rumah baru, misalnya, kita tidak harus merasa gagal. Kita bisa menjadikannya inspirasi untuk menyusun rencana keuangan sendiri tanpa merendahkan pencapaian yang sudah dimiliki.

Begitu pula ketika penghasilan belum sesuai harapan. Evaluasi pekerjaan, tingkatkan keterampilan, dan cari peluang yang realistis. Namun, jangan menjadikan kondisi keuangan saat ini sebagai alasan untuk menganggap diri tidak berharga.

Pembaca yang ingin mendalami sikap merasa cukup dan hubungannya dengan kehidupan seorang Muslim dapat melanjutkan pembahasan melalui artikel Qanaah dalam Islam di AlbadarPost.

Berhenti Mengukur Diri dengan Kehidupan Orang Lain

Lalu, bagaimana menjaga harga diri ketika lingkungan terus membandingkan pencapaian?

Pertama, tentukan ukuran keberhasilan yang masuk akal bagi kehidupan sendiri. Bagi seseorang, keberhasilan berarti memiliki usaha yang berkembang. Bagi orang lain, keberhasilan bisa berarti mampu membiayai pendidikan anak, melunasi utang, atau hidup tanpa mengambil hak orang lain.

Tidak semua pencapaian harus terlihat mengesankan di mata publik.

Kedua, pisahkan kebutuhan dari gengsi. Sebelum mengambil cicilan atau membeli barang mahal, pertimbangkan manfaatnya, kemampuan membayar, dan dampaknya terhadap kebutuhan keluarga. Jangan sampai keinginan terlihat berhasil justru membuat kehidupan semakin rapuh.

Ketiga, berhenti menjadikan kehidupan orang lain sebagai rapor pribadi. Apa yang terlihat di media sosial biasanya hanya sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Kita tidak selalu mengetahui beban, perjuangan, atau masalah di balik penampilannya.

Keempat, tetaplah menghormati orang tanpa melihat jumlah penghasilannya. Cara kita memperlakukan pekerja kecil, tetangga yang sedang kesulitan, atau orang yang tidak memiliki kedudukan dapat menunjukkan nilai-nilai yang benar-benar kita pegang.

Pada akhirnya, memperbaiki keadaan ekonomi dan menjaga harga diri bukanlah dua hal yang bertentangan. Kita tetap boleh bercita-cita memiliki kehidupan yang lebih baik, selama tidak menjadikan kekayaan sebagai satu-satunya alasan untuk menghormati diri sendiri maupun orang lain.

Sebab, hidup bukan perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling mampu terlihat berhasil.

Jangan sampai kita sibuk membeli pengakuan hingga lupa membangun kualitas diri. Jika harga diri harus terus dibuktikan dengan uang, berapa pun kekayaan yang terkumpul mungkin tidak akan pernah terasa cukup. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less