Qanaah di Era Digital: Mengapa Kita Selalu Merasa Kurang?
- account_circle redaktur
- calendar_month Sabtu, 10 Okt 2026
- visibility 28
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustra seseorang merenungkan gaya hidup konsumtif dan perbandingan sosial di media sosial.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH — Kita hidup pada zaman ketika banyak hal terasa semakin mudah diperoleh, tetapi rasa cukup justru semakin sulit ditemukan. Penghasilan bertambah, kebutuhan ikut berkembang. Ponsel yang baru dibeli beberapa bulan lalu mulai terasa biasa saja. Sementara itu, linimasa media sosial terus menyuguhkan rumah yang lebih besar, perjalanan yang lebih jauh, dan gaya hidup yang tampak lebih menarik.
Tanpa disadari, ukuran kecukupan perlahan bergeser. Apa yang dahulu menjadi impian, hari ini terasa biasa. Apa yang dulu dianggap kemewahan, sekarang mulai diperlakukan sebagai kebutuhan.
Di tengah keadaan seperti itu, qanaah di era digital bukan sekadar ajaran untuk menerima keadaan, melainkan kemampuan menjaga hati agar tidak terus-menerus diperbudak oleh keinginan.
Persoalannya bukan apakah manusia boleh memiliki lebih banyak. Persoalannya adalah ketika keinginan terus bertambah, sementara rasa syukur tidak pernah diberi kesempatan untuk tumbuh.
Qanaah Bukan Berarti Berhenti Berusaha
Qanaah sering disalahpahami sebagai sikap pasrah, tidak ambisius, atau menerima keadaan tanpa berusaha memperbaikinya. Padahal, merasa cukup tidak berarti seseorang harus berhenti bekerja, belajar, atau membangun kehidupan yang lebih baik.
Islam tidak melarang manusia mencari rezeki dan mengembangkan kemampuannya. Yang perlu dijaga adalah orientasi di balik usaha tersebut: apakah kita bekerja untuk memenuhi kebutuhan dan menjalankan tanggung jawab, atau terus mengejar pengakuan agar terlihat lebih berhasil daripada orang lain?
Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa keberuntungan berkaitan dengan keislaman, kecukupan rezeki, dan pemberian sifat qanaah terhadap apa yang Allah karuniakan. Rujukan hadis tersebut dapat dibaca melalui Sahih Muslim nomor 1054.
Pesannya bukan bahwa kemiskinan harus diterima tanpa ikhtiar. Sebaliknya, manusia tetap perlu berusaha secara halal, memperbaiki keadaan, dan memenuhi tanggung jawabnya. Qanaah membantu seseorang membedakan kebutuhan yang patut diperjuangkan dari keinginan yang tidak pernah mengenal batas.
Kita boleh mengejar kehidupan yang lebih baik tanpa harus membenci kehidupan yang sedang dijalani.
Ketika Standar Cukup Terus Berpindah
Bayangkan seseorang yang bertahun-tahun berusaha mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan tetap. Ketika berhasil, ia merasa lega. Namun, setelah beberapa waktu, muncul keinginan baru: kendaraan yang lebih bagus, rumah yang lebih luas, atau liburan yang terlihat menarik di media sosial.
Keinginan tersebut tidak otomatis salah. Masalah muncul ketika kebahagiaan selalu ditunda sampai target berikutnya tercapai.
Kita berkata akan merasa tenang setelah memiliki tabungan tertentu. Setelah tabungan tercapai, muncul target baru. Kita berjanji akan menikmati hidup setelah pekerjaan lebih mapan. Ketika keadaan membaik, pikiran justru dipenuhi standar keberhasilan berikutnya.
Akhirnya, hidup terasa seperti perlombaan yang garis finisnya terus dipindahkan.
Di sinilah qanaah menjadi penting. Seseorang perlu memiliki ukuran keberhasilan yang tidak hanya ditentukan oleh jumlah harta, tetapi juga oleh kemampuan memenuhi kebutuhan, menjaga kesehatan, menunaikan kewajiban, merawat hubungan keluarga, dan menggunakan rezeki secara bertanggung jawab.
Al-Qur’an mengingatkan manusia agar tidak sekadar menginginkan kelebihan yang diberikan kepada orang lain, melainkan memohon karunia Allah. Pesan ini terdapat dalam QS An-Nisa ayat 32.
Ayat tersebut relevan ketika kehidupan orang lain mulai menjadi tolok ukur bagi kebahagiaan kita sendiri.
Media Sosial Membuat Kita Mudah Lupa Bersyukur
Media sosial tidak selalu menjadi sumber masalah. Banyak orang menggunakannya untuk belajar, bekerja, membangun usaha, dan menjaga silaturahmi. Namun, media sosial juga dapat membentuk persepsi yang tidak seimbang tentang kehidupan.
Kita melihat pencapaian orang lain, tetapi tidak selalu mengetahui proses, beban, kegagalan, atau keadaan sebenarnya di balik unggahan mereka. Potongan kehidupan yang tampil di layar kemudian dibandingkan dengan kehidupan kita secara utuh.
Perbandingan semacam itu mudah melahirkan perasaan tertinggal. Rumah sendiri terasa kurang nyaman setelah melihat rumah orang lain. Pekerjaan terasa tidak membanggakan setelah menyaksikan promosi rekan. Bahkan waktu istirahat dapat terasa sia-sia ketika linimasa dipenuhi cerita tentang orang-orang yang tampak produktif sepanjang hari.
Pola ini berdekatan dengan persoalan membandingkan diri di media sosial. Kita bukan hanya melihat kehidupan orang lain, tetapi terkadang menggunakan kehidupan itu untuk menghakimi diri sendiri.
Karena itu, qanaah perlu berjalan bersama kesadaran digital. Kita perlu menyaring apa yang dikonsumsi, memahami bahwa unggahan tidak menggambarkan keseluruhan kenyataan, dan berhenti menjadikan pencapaian orang lain sebagai ukuran tunggal harga diri.
Bukan berarti kita harus menjauhi semua media sosial. Yang lebih penting ialah memastikan bahwa apa yang kita lihat tidak mengambil alih cara kita menilai nikmat yang sudah dimiliki.
Lima Latihan Qanaah di Era Digital
Qanaah bukan hanya gagasan yang dibicarakan dalam kajian keagamaan. Sikap ini dapat dilatih melalui keputusan sehari-hari.
Pertama, bedakan kebutuhan dan keinginan. Sebelum membeli sesuatu, tanyakan apakah barang tersebut benar-benar diperlukan atau hanya menarik karena sedang populer. Pertanyaan sederhana ini dapat membantu mengendalikan belanja impulsif.
Kedua, batasi kebiasaan membandingkan diri. Jika akun tertentu terus memicu rasa rendah diri atau keinginan konsumtif, pertimbangkan untuk mengurangi paparan terhadap konten tersebut. Gunakan media sosial dengan tujuan yang jelas, bukan sekadar mengikuti arus.
Ketiga, catat nikmat yang sering dianggap biasa. Kesehatan, kesempatan bekerja, keluarga, makanan yang tersedia, dan waktu untuk beribadah sering luput dari perhatian karena hadir setiap hari. Melatih syukur membantu kita melihat kembali hal-hal yang selama ini terabaikan.
Keempat, tetapkan ukuran cukup yang realistis. Tentukan kebutuhan pokok, target keuangan, kewajiban keluarga, serta tujuan jangka panjang. Dengan ukuran yang jelas, seseorang dapat mengejar kemajuan tanpa harus terus mengikuti standar hidup orang lain.
Kelima, jadikan kelebihan sebagai sarana memberi manfaat. Ketika rezeki bertambah, pertanyaannya bukan hanya apa lagi yang bisa dibeli, melainkan juga siapa yang bisa dibantu dan tanggung jawab apa yang dapat ditunaikan dengan lebih baik.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa jika manusia bersyukur, Allah akan menambah nikmat kepadanya, sebagaimana disebutkan dalam QS Ibrahim ayat 7. Syukur tidak berarti mengabaikan kesulitan. Syukur berarti menyadari nikmat yang ada sambil tetap berikhtiar menghadapi kekurangan.
Belajar Merasa Cukup Tanpa Kehilangan Ambisi
Qanaah juga berkaitan dengan cara seseorang memandang dunia. Dalam pembahasan zuhud di era digital, persoalannya bukan semata-mata memiliki atau tidak memiliki harta, melainkan bagaimana harta menempati hati dan memengaruhi keputusan hidup.
Seseorang dapat memiliki penghasilan besar, tetapi tetap hidup sederhana dan dermawan. Sebaliknya, seseorang dapat memiliki harta terbatas, tetapi terus merasa harus membuktikan sesuatu kepada orang lain.
Ukuran qanaah bukan sedikit atau banyaknya kepemilikan semata. Yang lebih mendasar adalah apakah seseorang mampu mengelola keinginannya, bersyukur atas rezekinya, dan tetap berusaha tanpa mengorbankan prinsip.
Kita tidak perlu berhenti bercita-cita. Kita hanya perlu berhenti menggantungkan seluruh kebahagiaan pada sesuatu yang belum dimiliki.
Pada akhirnya, pertanyaan pentingnya bukan berapa banyak yang sudah kita kumpulkan, melainkan apakah semua yang dikejar membuat hidup lebih bermakna.
Sebab, jika ukuran cukup selalu mengikuti apa yang dimiliki orang lain, sebanyak apa pun yang berhasil kita dapatkan, kita akan terus merasa kekurangan di hadapan keinginan sendiri.
Qanaah mengajarkan kita untuk tetap melangkah, tanpa kehilangan kemampuan menikmati nikmat yang sudah ada. (Red)
- Penulis: redaktur






