Paspor Indonesia Peringkat 67, Mengapa Malaysia Bisa Melesat?
- account_circle redaktur
- calendar_month 51 menit yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

Paspor Indonesia.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, LIFESTYLE – Paspor Indonesia kembali menjadi sorotan setelah Henley Passport Index 2026 merilis daftar terbaru kekuatan paspor dunia. Dalam indeks tersebut, paspor RI menempati peringkat ke-67, dengan akses ke 71 destinasi melalui skema bebas visa atau visa saat kedatangan. Sebaliknya, dokumen perjalanan Indonesia masih terpaut cukup jauh dari Malaysia yang masuk jajaran 10 besar dunia. Data terbaru ini kembali memunculkan pertanyaan: mengapa Paspor Indonesia masih tertinggal dari Malaysia?
Perlu dipahami, Henley Passport Index tidak mengukur tingkat kemajuan, kekuatan ekonomi, atau kualitas suatu negara. Indeks ini hanya menilai kemudahan pemegang paspor memasuki negara lain tanpa visa reguler atau dengan visa saat kedatangan, berdasarkan data resmi dari International Air Transport Association (IATA).
Malaysia Unggul Berkat Akses Visa yang Lebih Luas
Malaysia berada di peringkat ketujuh dunia dalam Henley Passport Index 2026. Pemegang paspor Malaysia dapat mengakses lebih dari 180 negara dan wilayah tanpa mengurus visa reguler sebelum keberangkatan.
Capaian tersebut tidak muncul dalam waktu singkat. Selama bertahun-tahun, Malaysia membangun hubungan diplomatik yang luas, memperkuat kerja sama bilateral, serta menjaga kepercayaan internasional dalam bidang mobilitas lintas negara.
Kombinasi faktor tersebut membuat semakin banyak negara memberikan kemudahan perjalanan bagi warga Malaysia.
Sementara itu, Indonesia terus memperluas kerja sama internasional. Namun, jumlah negara yang membuka akses bebas visa bagi WNI masih belum sebanyak yang dimiliki Malaysia.
Bukan Sekadar Soal Ekonomi
Banyak orang beranggapan kekuatan paspor bergantung pada besarnya ekonomi suatu negara. Kenyataannya, penilaian dalam Henley Passport Index lebih menitikberatkan pada kebijakan visa antarnegara.
Semakin banyak negara yang memberikan akses masuk tanpa visa atau melalui visa saat kedatangan, semakin tinggi pula posisi sebuah paspor dalam peringkat global.
Karena itu, negara dengan perekonomian besar belum tentu memiliki paspor yang lebih kuat apabila kerja sama mobilitas internasionalnya masih terbatas.
Begini Posisi Indonesia di ASEAN
Jika dibandingkan dengan beberapa negara di Asia Tenggara, posisi Indonesia masih berada di kelompok menengah.
Singapura kembali mempertahankan gelar sebagai pemilik paspor terkuat di dunia dengan akses ke 192 destinasi. Malaysia menyusul di posisi ketujuh dengan akses ke lebih dari 180 tujuan.
Sementara itu, Indonesia berada di peringkat ke-67 dengan akses ke 71 destinasi.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa ruang peningkatan masih terbuka, terutama melalui perluasan kerja sama bebas visa dan penguatan hubungan bilateral dengan negara lain.
Apa Dampaknya bagi WNI?
Bagi masyarakat yang sering bepergian ke luar negeri, kekuatan paspor memberikan manfaat nyata.
Semakin banyak negara yang memberikan fasilitas bebas visa, semakin mudah seseorang melakukan perjalanan bisnis, wisata, pendidikan, maupun kegiatan profesional. Proses administrasi menjadi lebih sederhana, waktu persiapan lebih singkat, dan biaya pengurusan dokumen dapat ditekan.
Sebaliknya, jika akses bebas visa masih terbatas, pemegang paspor harus memenuhi persyaratan tambahan sebelum memasuki sejumlah negara.
Meski demikian, peringkat paspor tidak memengaruhi hak dasar warga negara di dalam negeri. Indeks ini lebih menggambarkan tingkat kemudahan mobilitas internasional.
Indonesia Masih Berpeluang Naik
Posisi ke-67 bukanlah angka yang bersifat permanen.
Perubahan peringkat sangat bergantung pada perkembangan hubungan diplomatik, kebijakan visa antarnegara, keamanan dokumen perjalanan, hingga tingkat kepercayaan internasional terhadap sistem keimigrasian suatu negara.
Pemerintah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir terus memperkuat digitalisasi layanan keimigrasian sekaligus memperluas kerja sama internasional. Jika upaya tersebut menghasilkan lebih banyak perjanjian bebas visa, peluang peningkatan peringkat pada masa mendatang tetap terbuka.
Karena itu, kekuatan paspor tidak dapat dibangun dalam waktu singkat. Dibutuhkan konsistensi diplomasi dan kerja sama lintas negara selama bertahun-tahun.
Data Ini Perlu Dipahami Secara Utuh
Informasi mengenai peringkat paspor kerap memunculkan persepsi bahwa suatu negara lebih unggul dibanding negara lain. Padahal, Henley Passport Index hanya mengukur kemudahan akses perjalanan internasional, bukan kualitas pemerintahan, tingkat kesejahteraan masyarakat, atau daya saing ekonomi.
Oleh sebab itu, hasil indeks sebaiknya dipahami sebagai gambaran mengenai mobilitas global warga negara, bukan sebagai ukuran menyeluruh tentang kemajuan sebuah bangsa.
Paspor memang berbentuk buku kecil, tetapi nilainya jauh melampaui ukuran fisiknya. Semakin banyak pintu dunia yang terbuka bagi WNI, semakin luas pula peluang Indonesia membangun koneksi, investasi, pendidikan, dan kolaborasi di tingkat global. Peringkat hanyalah angka, tetapi kepercayaan dunia adalah tujuan yang sesungguhnya. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar