Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Hutan Lahan Terbakar, Apa Kata Al-Qur’an tentang Kerusakan Alam?

Hutan Lahan Terbakar, Apa Kata Al-Qur’an tentang Kerusakan Alam?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Rabu, 26 Agt 2026
  • visibility 59
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH — Hutan dan lahan kembali menghadapi ancaman kebakaran di sejumlah wilayah Indonesia. Di tengah situasi tersebut, ayat Al Quran tentang kerusakan lingkungan menjadi relevan untuk direnungkan, terutama QS Ar-Rum ayat 41 yang berbicara tentang kerusakan di darat dan laut akibat perbuatan manusia.

Pesannya tidak berhenti pada persoalan lingkungan. Ayat tersebut mengajak manusia melakukan introspeksi dan kembali memperbaiki apa yang telah rusak.

Namun, satu batas penting harus dijaga. QS Ar-Rum ayat 41 tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa setiap kebakaran hutan merupakan azab Allah atau akibat dosa masyarakat tertentu. Penyebab setiap peristiwa tetap harus dibuktikan melalui data, kajian ilmiah, dan investigasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

QS Ar-Rum Ayat 41: Ketika Kerusakan Muncul di Bumi

Allah SWT berfirman dalam QS Ar-Rum ayat 41:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Ayat tersebut terdapat dalam Surah Ar-Rum ayat 41. Salah satu kata penting di dalamnya adalah al-fasad, yang berarti kerusakan atau keadaan yang keluar dari tatanan yang baik.

Dalam konteks kekinian, pesan tersebut dapat menjadi bahan refleksi ketika manusia menghadapi berbagai persoalan lingkungan. Hutan yang rusak, pencemaran, eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan, hingga praktik yang meningkatkan risiko kebakaran merupakan persoalan yang tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab manusia.

Karena itu, ayat Al Quran tentang kerusakan lingkungan bukan hanya bahan renungan keagamaan. Pesannya juga memiliki relevansi dengan cara manusia memperlakukan bumi.

Karhutla Bukan Sekadar Api dan Asap

BNPB pada 25 Agustus 2026 melaporkan kejadian kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia, antara lain Pandeglang, Tojo Una-Una, Belitung Timur, dan Sidenreng Rappang.

Data tersebut menunjukkan bahwa karhutla masih menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian. Kondisi cuaca yang kering juga dapat meningkatkan kerentanan wilayah terhadap kebakaran.

Meski demikian, penyebab setiap kejadian tidak boleh langsung disimpulkan tanpa pemeriksaan. Faktor cuaca, kondisi vegetasi, aktivitas manusia, pengelolaan lahan, maupun faktor lain harus dianalisis berdasarkan bukti.

Di titik inilah pesan QS Ar-Rum ayat 41 menjadi penting.

Al-Qur’an mengingatkan manusia agar melihat konsekuensi dari tindakan yang dilakukan. Dengan demikian, ayat tersebut dapat menjadi dorongan untuk memperkuat pencegahan, menjaga kawasan hutan, menghindari pembakaran lahan secara sembarangan, dan memperbaiki tata kelola lingkungan.

Al-Qur’an memberi pesan moral; ilmu pengetahuan dan investigasi menjelaskan sebab sebuah peristiwa. Keduanya tidak perlu dipertentangkan.

Jangan Terburu-buru Menyebut Bencana sebagai Azab

Pembahasan mengenai bencana selalu memiliki sisi sensitif.

Ketika gempa, banjir, longsor, atau kebakaran terjadi, sebagian orang mungkin menghubungkannya dengan dosa manusia. Dalam perspektif keagamaan, manusia memang diperintahkan melakukan introspeksi. Namun, introspeksi berbeda dengan menuduh korban.

Gempa bumi, misalnya, memiliki mekanisme geologi yang dapat dijelaskan melalui aktivitas tektonik. Pada 25 Agustus 2026, BMKG mencatat gempa magnitudo 5,1 di wilayah barat daya Tahuna, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, dengan kedalaman 295 kilometer. BMKG menyatakan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.

Fakta tersebut menunjukkan pentingnya membedakan antara penjelasan ilmiah tentang suatu bencana dan pesan spiritual yang dapat direnungkan manusia setelah bencana terjadi.

Hal yang sama berlaku pada karhutla.

Tidak setiap titik api dapat langsung disebut sebagai akibat dosa. Tidak setiap kebakaran merupakan hukuman. Sebaliknya, setiap peristiwa dapat menjadi momentum untuk bertanya: apa yang harus diperbaiki manusia?

Al-Qur’an Melarang Kerusakan di Bumi

Pesan mengenai lingkungan juga terdapat dalam QS Al-A’raf ayat 56:

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diciptakan dengan baik…”

Ayat tersebut memberikan prinsip yang tegas mengenai larangan membuat kerusakan.

Sementara itu, QS Al-Baqarah ayat 205 menggambarkan perilaku orang yang berusaha membuat kerusakan di bumi serta merusak tanaman dan hewan. Pada bagian akhir ayat tersebut ditegaskan bahwa Allah tidak menyukai kerusakan.

Dua ayat tersebut memperkuat pesan QS Ar-Rum ayat 41.

Manusia tidak hanya memiliki hak untuk memanfaatkan alam. Manusia juga mempunyai tanggung jawab untuk menjaga keseimbangannya.

Karena itu, menjaga hutan bukan sekadar agenda pemerintah atau aktivis lingkungan. Masyarakat juga memiliki peran dalam mencegah pembakaran, menjaga kawasan rawan kebakaran, melaporkan titik api, dan tidak melakukan tindakan yang memperbesar risiko kerusakan.

Pesan QS Ar-Rum 41: Bukan Menuduh, tetapi Kembali Memperbaiki

Bagian akhir QS Ar-Rum ayat 41 mengandung pesan yang sangat kuat:

“…agar mereka kembali.”

Kata tersebut mengubah cara kita membaca persoalan.

Ketika lingkungan rusak, respons yang dibutuhkan bukan sekadar mencari siapa yang harus disalahkan. Ada kebutuhan untuk melakukan koreksi dan perbaikan.

Jika hutan terbakar, pencegahan harus diperkuat. Jika lahan rentan terbakar, tata kelolanya perlu dievaluasi. Jika aktivitas manusia meningkatkan risiko kebakaran, perilaku tersebut harus diperbaiki.

Dengan demikian, Islam dan kelestarian alam tidak berdiri pada dua ruang yang berbeda. Menjaga lingkungan dapat menjadi bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.

Karhutla juga mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan bukan persoalan yang selesai setelah api padam. Dampaknya dapat berlanjut melalui hilangnya vegetasi, rusaknya habitat, memburuknya kualitas udara, dan terganggunya kehidupan masyarakat.

Saatnya Membaca Ulang Pesan Al-Qur’an

QS Ar-Rum ayat 41 tidak memberikan izin kepada manusia untuk menunjuk korban bencana sebagai pihak yang harus disalahkan.

Sebaliknya, ayat tersebut membuka ruang introspeksi yang lebih luas.

Manusia diminta melihat hubungan antara perilaku dan dampaknya. Manusia juga diingatkan untuk kembali ketika menemukan kerusakan.

Di tengah kabar kebakaran hutan dan lahan, pesan tersebut terasa semakin relevan.

Bukan untuk menakut-nakuti.

Bukan pula untuk menghakimi korban.

Tetapi untuk mengingatkan bahwa bumi bukan sekadar tempat tinggal yang boleh dieksploitasi tanpa batas.

Api bisa padam dalam sehari, tetapi kerusakan hutan dapat meninggalkan jejak bertahun-tahun. QS Ar-Rum 41 mengingatkan: ketika bumi mulai rusak, yang dibutuhkan bukan sekadar penyesalan setelah bencana, melainkan keberanian manusia untuk berhenti merusak dan mulai memperbaiki. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • korban banjir Sumatera

    BNPB Laporkan Korban Banjir Sumatera Melonjak Hingga 442 Jiwa

    • calendar_month Senin, 1 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 130
    • 0Komentar

    BNPB melaporkan korban banjir Sumatera terus bertambah. Ribuan warga mengungsi dan ratusan masih hilang. albadarpost.com, HUMANIORA – Jumlah korban banjir Sumatera mencapai 442 orang meninggal dunia hingga 30 November 2025. Sebanyak 402 orang masih hilang. BNPB menyampaikan data itu dalam siaran pers resmi pada Minggu, 30 November. Lonjakan korban menunjukkan skala bencana yang tidak hanya […]

  • keributan Garut

    Keributan Dini Hari di Ciawitali, 4 Pemuda Diamankan Polisi

    • calendar_month Senin, 24 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 61
    • 0Komentar

    AlbadarPost.com, BERITA DAERAH — Keributan terjadi di kawasan Pasar Ciawitali, Jalan Merdeka, Kabupaten Garut, pada Minggu (22/8/2026) sekitar pukul 03.50 WIB. Menindaklanjuti aduan masyarakat, personel Sat Samapta Polres Garut segera mendatangi lokasi. Setibanya di tempat kejadian, petugas menemukan seorang pemuda yang diduga menjadi korban pengeroyokan. Polisi kemudian mengamankan empat pemuda yang diduga berkaitan dengan peristiwa […]

  • Final Piala Dunia 2026

    10 Fakta Final Piala Dunia 2026 yang Jarang Dibahas

    • calendar_month Minggu, 19 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 101
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Ada final yang hanya menentukan juara. Namun, ada pula final yang berpotensi mengubah sejarah sepak bola. Final Piala Dunia 2026 antara Spanyol vs Argentina termasuk dalam kategori kedua. Bukan hanya karena mempertemukan dua kekuatan besar dunia, melainkan juga karena laga ini menyatukan begitu banyak cerita dalam satu malam: duel dua generasi, […]

  • Penganiayaan Garut

    Polisi Ungkap Kronologi Penganiayaan Garut, Cekcok Berujung Maut

    • calendar_month Jumat, 7 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 81
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Penganiayaan Garut menjadi perhatian publik setelah Polres Garut mengungkap kronologi kasus yang menewaskan seorang warga. Dalam konferensi pers yang digelar Kamis (6/8/2026), kepolisian memaparkan hasil penyelidikan sementara mengenai kasus penganiayaan Garut, mulai dari awal kejadian hingga penangkapan tersangka. Polisi menegaskan seluruh rangkaian peristiwa yang disampaikan merupakan hasil penyelidikan yang masih terus dikembangkan. […]

  • Siswa sekolah menerima menu Makan Bergizi Gratis selama Ramadan dengan perbedaan menu untuk siswa Muslim dan non-Muslim

    Menu MBG Ramadan: Ini yang Diterima Siswa Berpuasa dan Tidak

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 180
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan selama bulan Ramadan. Namun, pemerintah melakukan penyesuaian penting pada menu yang diterima siswa. Penyesuaian ini bukan sekadar teknis distribusi, melainkan cerminan kebijakan yang berupaya menghormati praktik ibadah sekaligus menjaga kecukupan gizi anak sekolah. Selama Ramadan, siswa Muslim yang berpuasa tidak menerima menu siap santap […]

  • investasi bodong

    IRT Subang Jadi Korban Investasi Bodong

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 214
    • 0Komentar

    Modus investasi bodong kembali menjerat korban. IRT di Subang kehilangan miliaran akibat iming-iming untung besar. albadarpost.com, HUMANIORA – Skema investasi bodong kembali menjerat masyarakat. Kali ini, seorang ibu rumah tangga (IRT) di Kabupaten Subang, Jawa Barat, menjadi korban setelah dana miliaran rupiah yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun raib tanpa kejelasan. Kasus ini menegaskan bahwa kejahatan finansial […]

expand_less