Breaking News
light_mode
Beranda » Editorial » Hari Tani 2026: Petani Menjaga Pangan, Siapa Menjaga Masa Depannya?

Hari Tani 2026: Petani Menjaga Pangan, Siapa Menjaga Masa Depannya?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Kamis, 24 Sep 2026
  • visibility 21
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, — EDITORIAL — Setiap 24 September, Indonesia memperingati Hari Tani Nasional. Tahun ini, Hari Tani 2026 seharusnya tidak berhenti pada ucapan penghormatan kepada petani atau seremoni yang berulang setiap tahun.

Bagi kami di AlbadarPost, momentum ini justru perlu menjadi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan yang lebih tidak nyaman: ketika petani diminta menjaga ketahanan pangan nasional, apakah kita sudah cukup serius menjaga masa depan ekonomi mereka?

Pertanyaan itu penting karena pangan tidak lahir dari kebijakan di atas kertas. Pangan tumbuh dari tanah, air, benih, teknologi, tenaga manusia, dan keputusan seorang petani untuk tetap mengolah lahannya.

Jika keputusan terakhir itu semakin sulit diambil oleh generasi berikutnya, maka persoalannya bukan lagi sekadar regenerasi petani.

Itu menjadi persoalan ketahanan pangan.

NTP Naik, Tetapi Jangan Berhenti pada Angka

Badan Pusat Statistik mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Agustus 2026 mencapai 129,19, naik 1,05 persen dibandingkan Juli 2026. Indeks Harga yang Diterima Petani meningkat 1,14 persen, sedangkan Indeks Harga yang Dibayar Petani naik 0,09 persen.

Pada bulan yang sama, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) mencapai 133,33, naik 0,98 persen.

Bagi kami, angka tersebut patut dicatat sebagai perkembangan positif. Namun, angka tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk menyederhanakan persoalan kesejahteraan petani.

NTP adalah indikator statistik. Kehidupan petani jauh lebih kompleks.

Di balik angka tersebut terdapat biaya benih, pupuk, tenaga kerja, sewa lahan, alat produksi, transportasi, risiko cuaca, hama, fluktuasi harga, serta ketidakpastian pasar.

Karena itu, kenaikan NTP tidak otomatis berarti setiap keluarga petani telah memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Kesejahteraan petani harus dilihat dari kemampuan usaha tani menghasilkan pendapatan yang layak dan berkelanjutan.

Inilah yang menurut kami perlu terus menjadi perhatian.

Jangan sampai negara sibuk menghitung peningkatan produksi, tetapi lupa menghitung apakah orang yang memproduksi pangan tersebut masih memperoleh alasan ekonomi untuk bertahan.

D'Arrian Collections

Priangan Timur Bukan Sekadar Lanskap Pertanian

Persoalan tersebut terasa dekat dengan masyarakat Priangan Timur.

Berdasarkan Sensus Pertanian 2023, BPS mencatat Kota Tasikmalaya memiliki 21.274 usaha pertanian. Sebanyak 21.239 di antaranya merupakan Usaha Pertanian Perorangan, lima perusahaan pertanian berbadan hukum, dan 30 usaha pertanian lainnya.

Angka itu menunjukkan satu hal sederhana: pertanian bukan cerita masa lalu di wilayah ini.

Pertanian masih menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat.

BPS Kabupaten Tasikmalaya juga memotret secara khusus demografi pengelola usaha pertanian, petani gurem, petani milenial, lahan, pupuk, urban farming, serta komoditas melalui Sensus Pertanian 2023. Garut dan Pangandaran pun memiliki publikasi ST2023 dengan cakupan data serupa.

Karena itu, ketika kita berbicara tentang masa depan petani Indonesia, persoalannya bukan sesuatu yang jauh dari masyarakat Priangan Timur.

Sawah dan kebun yang terlihat hari ini menyimpan pertanyaan tentang siapa yang akan mengelolanya beberapa tahun mendatang.

Apakah anak-anak petani akan meneruskan usaha keluarganya?

Atau mereka justru memilih pekerjaan lain karena melihat pertanian memiliki risiko tinggi dengan imbal hasil yang tidak selalu sebanding?

Pertanyaan itu tidak bisa dijawab hanya dengan meminta generasi muda mencintai pertanian.

Modernisasi Harus Membuat Petani Naik Kelas

Kami melihat modernisasi pertanian sebagai kebutuhan, bukan pilihan tambahan.

Mekanisasi dapat meningkatkan efisiensi. Teknologi dapat membantu petani mengambil keputusan. Digitalisasi dapat memperluas akses informasi dan pasar. Pengolahan hasil dapat menciptakan nilai tambah.

Namun, modernisasi tidak boleh berhenti pada jumlah mesin yang dibeli atau teknologi yang diperkenalkan.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah modernisasi tersebut benar-benar membuat petani naik kelas secara ekonomi?

Petani membutuhkan teknologi yang sesuai dengan skala usaha. Mereka membutuhkan pembiayaan yang dapat dijangkau. Mereka membutuhkan pengetahuan. Mereka membutuhkan akses pasar. Mereka juga membutuhkan posisi tawar yang memungkinkan sebagian nilai tambah tetap berada di tingkat produsen.

Sebab rantai pangan tidak berhenti ketika hasil panen keluar dari sawah.

Masih ada pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, perdagangan, distribusi, hingga produk sampai kepada konsumen.

Karena itu, peningkatan produktivitas harus berjalan bersama peningkatan nilai ekonomi yang diterima petani.

Petani tidak cukup hanya diminta menghasilkan lebih banyak. Mereka juga harus memperoleh manfaat ekonomi yang layak dari apa yang mereka hasilkan.

Jangan Hanya Mengajak Anak Muda Bertani

Di sinilah persoalan regenerasi menjadi sangat penting.

Kami tidak melihat anak muda sebagai generasi yang harus sekadar dikembalikan ke sawah.

Generasi muda harus diberi kesempatan untuk menciptakan bentuk baru pertanian.

Mereka dapat menjadi petani modern, operator mesin, pengelola agribisnis, pengolah hasil, pelaku pemasaran digital, pengusaha pangan, pengembang produk pertanian, atau bagian dari rantai pasok.

Dengan cara itu, pertanian tidak lagi dipahami semata-mata sebagai pekerjaan tradisional.

Pertanian dapat menjadi bisnis.

Namun, perubahan cara pandang tersebut membutuhkan ekosistem yang nyata.

Anak muda akan mempertimbangkan pendapatan, akses modal, kepastian pasar, kepemilikan atau akses lahan, teknologi, risiko usaha, dan peluang berkembang.

Karena itu, menurut kami, regenerasi petani tidak akan berhasil hanya dengan kampanye untuk mencintai pertanian.

Generasi muda membutuhkan alasan ekonomi untuk memilihnya.

Ketahanan Pangan Tidak Boleh Berjalan Sendiri

Di titik inilah kami melihat hubungan yang sangat jelas antara ketahanan pangan dan kesejahteraan petani.

Keduanya bukan dua agenda yang terpisah.

Negara membutuhkan pangan yang cukup. Petani membutuhkan usaha yang layak.

Masyarakat membutuhkan harga pangan yang terjangkau. Petani membutuhkan harga hasil produksi yang memungkinkan mereka terus bertanam.

Pemerintah membutuhkan peningkatan produktivitas. Petani membutuhkan peningkatan pendapatan.

Kepentingan tersebut memang tidak selalu mudah dipertemukan. Namun, justru di situlah kebijakan pertanian harus bekerja.

Hari Tani 2026 semestinya menjadi momentum untuk menguji kembali keseimbangan tersebut.

Kami berpandangan bahwa keberhasilan pembangunan pertanian tidak cukup diukur dari luas panen, jumlah produksi, jumlah mesin, atau kenaikan satu indikator ekonomi.

Ukuran yang tidak kalah penting adalah apakah petani dapat hidup layak dari usaha pertaniannya dan apakah generasi berikutnya melihat sektor tersebut sebagai masa depan yang masuk akal.

Jika jawabannya belum cukup kuat, pekerjaan rumahnya masih panjang.

Suara Redaksi AlbadarPost

Kami percaya petani tidak membutuhkan romantisasi.

Petani tidak membutuhkan sekadar disebut sebagai “pahlawan pangan” setiap September, lalu kembali menghadapi persoalan yang sama setelah spanduk peringatan diturunkan.

Yang dibutuhkan adalah ekosistem pertanian yang membuat kerja mereka bernilai.

Produksi harus tumbuh. Teknologi harus berkembang. Akses pasar harus membaik. Hilirisasi harus memberi manfaat. Pembiayaan harus lebih mudah dijangkau. Pengetahuan harus semakin terbuka. Dan yang paling penting, nilai ekonomi yang tercipta dalam rantai pangan harus memberikan ruang yang layak bagi petani sebagai produsen.

Bagi kami, itulah substansi Hari Tani.

Bukan sekadar mengingat mereka yang menanam.

Tetapi memastikan bahwa masih ada orang yang bersedia menanam ketika kita memasuki satu dekade berikutnya.

Sebab Indonesia boleh memiliki teknologi pertanian yang semakin canggih. Indonesia boleh memiliki target produksi yang semakin tinggi. Indonesia juga boleh berbicara tentang swasembada dan ketahanan pangan.

Tetapi semua itu pada akhirnya kembali kepada satu manusia yang berdiri di lahan dan memutuskan:

hari ini saya menanam, dan besok saya masih ingin bertani.

Petani menjaga pangan kita setiap hari. Maka tugas negara, pasar, dan masyarakat bukan hanya meminta mereka terus menanam, tetapi memastikan mereka memiliki alasan yang kuat untuk tidak berhenti. Karena ketika sawah kehilangan petaninya, ketahanan pangan kehilangan fondasinya. — Redaksi AlbadarPost

 

  • Penulis: redaktur
expand_less