Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Nasional » Macam-Macam Gempa Bumi: Jenis, Penyebab, dan Cara Selamat

Macam-Macam Gempa Bumi: Jenis, Penyebab, dan Cara Selamat

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 22 Nov 2022
  • visibility 322
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA NASIONAL — Risiko gempa bumi tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar magnitudo yang tercatat. Kedalaman sumber, jarak dari pusat gempa, kondisi tanah, dan kekuatan bangunan turut menentukan tingkat guncangan serta potensi kerusakan yang dialami masyarakat.

Karena Indonesia berada di kawasan tektonik aktif, pemahaman mengenai bahaya gempa bumi menjadi bagian penting dari kesiapsiagaan keluarga dan masyarakat. Namun, mengetahui bahwa suatu daerah rawan gempa saja belum cukup. Warga juga perlu memahami faktor yang memperbesar risiko dan tindakan yang dapat mengurangi dampaknya.

Informasi tersebut membantu masyarakat mengambil keputusan berdasarkan kondisi dan panduan resmi, bukan perkiraan atau kabar yang belum terverifikasi.

Magnitudo Bukan Satu-Satunya Penentu Kerusakan

Magnitudo menggambarkan ukuran gempa berdasarkan energi yang dilepaskan pada sumbernya. Sementara itu, intensitas menggambarkan seberapa kuat guncangan dirasakan dan dampaknya di lokasi tertentu.

Perbedaan ini penting karena satu gempa dapat menghasilkan tingkat guncangan yang berbeda di beberapa wilayah. Daerah yang dekat dengan sumber gempa mungkin merasakan guncangan kuat, sedangkan daerah yang lebih jauh dapat mengalami dampak berbeda.

Selain jarak, kedalaman sumber turut memengaruhi bagaimana energi gempa mencapai permukaan. Gempa dangkal berpotensi menghasilkan guncangan kuat di sekitar sumbernya. Meski demikian, kedalaman saja tidak cukup untuk menentukan tingkat kerusakan.

Oleh karena itu, masyarakat perlu membaca informasi BMKG secara utuh. Magnitudo, kedalaman, lokasi, dan intensitas memberikan gambaran yang lebih berguna ketika dibaca bersama daripada jika hanya mengandalkan satu angka.

Kondisi Tanah dan Bangunan Ikut Menentukan Risiko

Kondisi geologi setempat dapat memengaruhi respons tanah terhadap gelombang gempa. Tanah lunak tertentu, misalnya, dapat memperkuat guncangan dibandingkan kondisi tanah yang lebih keras. Namun, efeknya bergantung pada karakter lapisan tanah dan kondisi geologi setempat.

Kualitas bangunan juga memiliki peran besar. Struktur yang tidak memenuhi ketentuan teknis, mengalami kerusakan sebelumnya, atau tidak dirawat dengan baik dapat menghadapi risiko lebih tinggi ketika guncangan terjadi.

Sebaliknya, bangunan yang dirancang dan dibangun sesuai ketentuan teknis memiliki peluang lebih baik untuk menghadapi beban gempa. Meski demikian, tidak ada bangunan yang dapat dijamin sepenuhnya bebas dari kerusakan dalam semua skenario.

Karena itu, warga perlu memperhatikan kondisi rumah, mengamankan lemari dan benda berat, serta meminta tenaga ahli memeriksa struktur apabila menemukan retakan yang mengkhawatirkan. Untuk bangunan baru maupun renovasi, kepatuhan terhadap standar teknis menjadi bagian penting dari pengurangan risiko.

Kenali Bahaya Ikutan Setelah Gempa

Guncangan bukan satu-satunya bahaya yang perlu diantisipasi. Gempa juga dapat memicu longsor di lereng yang rentan, merusak jaringan listrik, memecahkan pipa, atau menyebabkan bagian bangunan runtuh.

Selain itu, gempa kuat atau berlangsung lama di kawasan pantai dapat menjadi peringatan alami potensi tsunami. Jika masyarakat merasakan kondisi tersebut, mereka perlu segera menuju tempat tinggi atau menjauhi pantai tanpa menunggu informasi tambahan, kemudian mengikuti arahan otoritas.

Namun, tidak setiap gempa memicu tsunami. Potensinya bergantung pada sejumlah kondisi, termasuk lokasi sumber, kedalaman, mekanisme pergerakan, dan perpindahan dasar laut. Karena itu, masyarakat perlu merujuk pada peringatan resmi dan tidak menyimpulkan sendiri bahwa tsunami pasti terjadi.

Setelah guncangan berhenti, warga sebaiknya menjauhi bangunan yang rusak, mewaspadai gempa susulan, serta menghindari kabel listrik yang jatuh. Jika mencium bau gas atau melihat kebocoran, segera menjauh dari sumber bahaya dan laporkan kepada petugas.

Langkah Sebelum Gempa Menentukan Kesiapan Keluarga

Kesiapsiagaan paling efektif dimulai sebelum bencana. Keluarga dapat menentukan lokasi berlindung, mengenali jalur keluar, dan menyepakati titik berkumpul yang aman.

Selain itu, siapkan tas darurat berisi air minum, makanan tahan lama, obat pribadi, senter, baterai, peluit, dokumen penting, dan perlengkapan dasar lain sesuai kebutuhan keluarga. Pastikan pula anggota keluarga mengetahui cara menghubungi satu sama lain ketika komunikasi terganggu.

Saat gempa terjadi di dalam ruangan, lindungi kepala dan leher, berlindung di bawah meja kokoh jika tersedia, lalu berpegangan sampai guncangan berhenti. Jauhi jendela dan benda yang berpotensi jatuh. Jangan menggunakan lift selama keadaan darurat.

Jika berada di luar ruangan, bergeraklah ke area terbuka dan jauhi bangunan, tiang, serta kabel listrik. Sesudah situasi memungkinkan, ikuti arahan petugas dan informasi resmi BMKG maupun BNPB.

Informasi Resmi Membantu Warga Mengambil Keputusan

Di tengah situasi darurat, kabar yang tidak jelas sumbernya dapat memicu kepanikan. Karena itu, masyarakat perlu memeriksa informasi melalui kanal resmi BMKG, BNPB, dan pemerintah daerah.

BMKG menyediakan informasi mengenai parameter gempa, termasuk magnitudo, lokasi, kedalaman, dan potensi tsunami jika relevan. Sementara itu, BNPB dan BPBD memberikan informasi kebencanaan serta penanganan darurat sesuai kewenangan masing-masing.

Masyarakat juga perlu membedakan informasi faktual dari prediksi yang tidak memiliki dasar ilmiah. Hingga saat ini, tidak ada metode yang dapat menentukan secara pasti tanggal, waktu, dan lokasi setiap gempa yang akan datang.

Pada akhirnya, mengurangi risiko gempa membutuhkan kombinasi pengetahuan, bangunan yang lebih aman, kesiapan keluarga, dan informasi yang akurat. Kita tidak bisa memerintah bumi agar berhenti berguncang, tetapi kita bisa memastikan bahwa ketika guncangan datang, ketidaksiapan tidak menjadi bencana kedua. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less