Saudi Bombardir Yaman Selatan

Serangan udara Saudi ke Yaman selatan menandai eskalasi baru konflik internal dan gagalnya upaya damai regional.
Serangan Udara Saudi Picu Eskalasi Baru
albadarpost.com, BERITA DUNIA – Koalisi militer pimpinan Arab Saudi kembali melancarkan serangan udara ke wilayah Yaman selatan. Target utama serangan kali ini adalah posisi Dewan Transisi Selatan (STC), kelompok separatis yang selama ini menguasai sebagian wilayah strategis di selatan negara tersebut. Operasi militer itu menandai eskalasi terbaru konflik internal Yaman yang kerap luput dari sorotan publik internasional.
Serangan dilakukan di Provinsi Dhale pada dini hari waktu setempat. Koalisi Saudi menyatakan langkah tersebut diambil sebagai respons atas laporan pergerakan pasukan STC yang dinilai berpotensi memicu konflik terbuka dengan pemerintah Yaman yang diakui internasional. Situasi ini memperlihatkan betapa rapuhnya keseimbangan politik dan keamanan di Yaman, bahkan di antara faksi-faksi yang sebelumnya berada di satu kubu.
Klaim Intelijen dan Mandeknya Perundingan Damai
Dalam pernyataan resminya, Koalisi Arab Saudi mengungkapkan adanya klaim intelijen terkait mobilisasi militer STC. Informasi itu mencakup pergerakan kendaraan bersenjata, logistik tempur, serta penguatan pasukan dari Aden menuju Dhale. Koalisi menilai mobilisasi tersebut sebagai ancaman langsung terhadap stabilitas keamanan di Yaman selatan.
Baca juga: Greenland, di Tengah Persaingan AS, China, dan Rusia
Ketegangan meningkat setelah pemimpin STC, Aidarous al-Zubaidi, tidak menghadiri perundingan damai yang difasilitasi Arab Saudi di Riyadh. Ketidakhadiran itu dipandang koalisi sebagai sinyal penolakan terhadap proses politik yang tengah dibangun untuk meredam konflik internal. Pemerintah Yaman bahkan mengumumkan pencopotan al-Zubaidi dari struktur Dewan Kepemimpinan Presiden.
Di sisi lain, STC membantah seluruh tuduhan tersebut. Kelompok separatis itu menyatakan bahwa al-Zubaidi tetap berada di Aden untuk menjalankan tugas pengamanan wilayah. STC juga menilai serangan udara Saudi justru memperkeruh suasana dan menjauhkan peluang dialog politik.
Konflik Internal yang Kian Terbuka
Konflik antara pemerintah Yaman dan STC bukanlah babak baru. Namun, serangan udara langsung dari koalisi Saudi terhadap STC memperlihatkan pergeseran signifikan dalam dinamika perang Yaman. Selama ini, STC kerap diposisikan sebagai sekutu tak langsung koalisi dalam menghadapi kelompok Houthi di utara.
Eskalasi terbaru ini menegaskan bahwa konflik Yaman tidak lagi sekadar perang antara pemerintah dan pemberontak Houthi. Perseteruan internal di wilayah selatan kini berkembang menjadi ancaman serius bagi stabilitas nasional. Kondisi ini membuka kemungkinan fragmentasi kekuasaan yang lebih dalam, dengan aktor lokal dan regional saling berebut pengaruh.
Baca juga: Pencurian Kotak Amal Tranding di Pangkep
Serangan di Dhale juga menunjukkan bahwa pendekatan militer masih menjadi pilihan utama dibanding jalur diplomasi. Padahal, perang yang telah berlangsung bertahun-tahun itu telah menimbulkan krisis kemanusiaan terburuk di dunia, dengan jutaan warga sipil bergantung pada bantuan internasional.
Dampak Regional dan Jalan Terjal Menuju Perdamaian
Langkah Arab Saudi menyerang STC memberi sinyal kuat kepada kawasan bahwa Riyadh ingin tetap memegang kendali atas arah konflik Yaman. Namun, kebijakan ini berisiko menambah lapisan konflik baru di negara yang sudah rapuh secara politik dan ekonomi.
Pengamat Timur Tengah menilai kegagalan perundingan damai serta saling bantah berbasis klaim intelijen mencerminkan rendahnya kepercayaan antarfaksi. Tanpa komitmen politik yang jelas dan inklusif, upaya menghentikan perang Yaman diperkirakan akan terus tersendat.
Eskalasi di Yaman selatan menjadi pengingat bahwa perdamaian tidak hanya bergantung pada tekanan militer. Selama pendekatan keamanan lebih dominan dibanding dialog politik, konflik Yaman berpotensi terus berulang dengan pola dan aktor yang berbeda, sementara warga sipil tetap menjadi pihak paling terdampak. (ARR)




