Naik Kelas Jadi Tipe B, RSUD KHZ Mustofa Tetap Utamakan Warga Tasikmalaya
- account_circle redaktur
- calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
- visibility 22
- comment 0 komentar
- print Cetak

Gedung RSUD KHZ Mustofa Tasikmalaya yang diproyeksikan naik status menjadi rumah sakit tipe B untuk memperkuat layanan kesehatan masyarakat, Rabu (3/6/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH — Rencana peningkatan status RSUD KHZ Mustofa dari rumah sakit tipe C menjadi tipe B mendapat dukungan penuh Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya. Namun di balik target besar tersebut, Bupati Tasikmalaya Dr. Cecep Nurul Yakin mengingatkan satu hal penting: jangan sampai warga Tasikmalaya sendiri kesulitan mendapatkan layanan karena kapasitas rumah sakit tidak mampu mengimbangi peningkatan jumlah pasien.
Pernyataan itu disampaikan usai pelantikan Dewan Pengawas baru RSUD KHZ Mustofa. Momentum tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat tata kelola rumah sakit sekaligus mempersiapkan langkah menuju rumah sakit rujukan yang lebih besar.
Menurut Cecep, peningkatan status rumah sakit bukan sekadar perubahan administratif. Lebih dari itu, perubahan tersebut harus mampu menghadirkan pelayanan yang semakin baik, profesional, dan tetap berpihak kepada masyarakat.
Infrastruktur Dinilai Siap, Tantangan Justru Ada pada Kapasitas Pelayanan
Bupati mengungkapkan dirinya telah beberapa kali berdiskusi dengan jajaran direksi RSUD KHZ Mustofa mengenai kesiapan peningkatan status rumah sakit.
Dari sisi infrastruktur, rumah sakit dinilai sudah memenuhi berbagai persyaratan yang dibutuhkan untuk naik menjadi rumah sakit tipe B.
Namun demikian, Cecep menilai ada tantangan yang harus dipikirkan sejak sekarang.
Saat ini RSUD KHZ Mustofa memiliki sekitar 448 ruang rawat inap. Jika status rumah sakit meningkat menjadi tipe B, maka fungsi rujukan akan semakin luas dan berpotensi menarik pasien dari berbagai daerah di luar Kabupaten Tasikmalaya.
“Jangan sampai setelah menjadi tipe B, pasien kita sendiri tidak terlayani dan tidak mendapatkan ruang rawat inap. Fungsi rumah sakit bisa tidak sesuai tujuan,” kata Cecep.
Aktivitas Rumah Sakit Menunjukkan Tingginya Kebutuhan Layanan
Di lingkungan rumah sakit, aktivitas pelayanan berlangsung hampir sepanjang hari.
Pada jam-jam pelayanan tertentu, kursi ruang tunggu pasien dan keluarga terlihat hampir terisi penuh. Sejumlah pengunjung tampak membawa map berisi hasil pemeriksaan, surat rujukan, atau dokumen administrasi sambil menunggu giliran dipanggil petugas.
Di area parkir, kendaraan roda dua dan roda empat terus keluar masuk sejak pagi. Aktivitas itu menjadi gambaran nyata tingginya kebutuhan layanan kesehatan masyarakat yang terus meningkat dari waktu ke waktu.
Karena itulah, peningkatan status rumah sakit harus berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas pelayanan agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
Pelayanan Humanis Menjadi Perhatian Khusus
Selain kapasitas pelayanan, Bupati juga memberi perhatian serius terhadap aspek pelayanan yang bersentuhan langsung dengan pasien.
Menurutnya, rumah sakit pemerintah masih sering dibandingkan dengan rumah sakit swasta dari sisi keramahan pelayanan.
Karena itu, seluruh pegawai dan tenaga kesehatan diminta terus meningkatkan kualitas pelayanan yang lebih humanis.
“Jangan sampai ada kesan rumah sakit swasta lebih ramah dari rumah sakit negeri. Semua pegawai harus meningkatkan pelayanan yang lebih humanis,” ujarnya.
Bagi Cecep, rumah sakit modern tidak hanya diukur dari kelengkapan fasilitas dan peralatan medis. Rumah sakit juga harus mampu menghadirkan rasa nyaman, kepastian layanan, dan komunikasi yang baik kepada pasien maupun keluarga mereka.
Harapan Kecil yang Terdengar dari Ruang Tunggu
Di sela aktivitas pelayanan, sejumlah pengunjung terlihat saling bertukar informasi mengenai jadwal dokter, ruang pemeriksaan, hingga prosedur administrasi yang harus dilalui.
Beberapa keluarga pasien juga mengaku berharap peningkatan status rumah sakit dapat mempercepat akses layanan kesehatan tanpa harus dirujuk ke luar daerah.
Harapan seperti itu mungkin terdengar sederhana. Namun bagi keluarga yang sedang menghadapi masalah kesehatan, kemudahan mendapatkan pelayanan sering kali menjadi hal yang sangat berarti.
Tidak Semua Warga Memahami Arti Rumah Sakit Tipe B
Jujur saja, tidak semua masyarakat memahami perbedaan rumah sakit tipe C dan tipe B.
Sebagian warga mungkin tidak terlalu memikirkan klasifikasi rumah sakit.
Bagi mereka, yang terpenting adalah pelayanan tetap tersedia ketika dibutuhkan, dokter mudah ditemui, obat tersedia, dan ruang rawat inap tidak penuh saat keluarga mereka memerlukan perawatan.
Karena itu, peningkatan status rumah sakit pada akhirnya harus bermuara pada peningkatan kualitas pelayanan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Dewan Pengawas Baru Diharapkan Perkuat Tata Kelola
Untuk mendukung proses tersebut, Pemkab Tasikmalaya juga menaruh harapan besar kepada Dewan Pengawas yang baru dilantik.
Mereka diharapkan mampu memberikan arahan, evaluasi, serta pengawasan terhadap pelayanan, pengelolaan keuangan, dan pengembangan kelembagaan rumah sakit secara profesional dan objektif.
Bupati juga meminta terbangunnya komunikasi yang baik antara dewan pengawas dan manajemen rumah sakit agar tercipta sinergi dalam meningkatkan mutu pelayanan.
Rumah Sakit dan Harapan Banyak Keluarga
Bagi sebagian besar masyarakat, rumah sakit bukan tempat yang mereka kunjungi setiap hari.
Namun ketika anggota keluarga sakit, keberadaan layanan kesehatan yang cepat, mudah dijangkau, dan ramah menjadi sesuatu yang sangat berarti.
Di tengah meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan, masyarakat tidak hanya berharap rumah sakit memiliki gedung yang lebih besar atau status yang lebih tinggi. Mereka juga berharap hadirnya pelayanan yang lebih manusiawi, lebih cepat, dan lebih dekat dengan kebutuhan pasien.
Karena itulah, peningkatan status RSUD KHZ Mustofa menjadi rumah sakit tipe B bukan sekadar soal naik kelas. Ini tentang bagaimana rumah sakit mampu menjawab harapan masyarakat yang terus berkembang.
Naik kelas menjadi rumah sakit tipe B memang penting. Namun ukuran keberhasilan yang sesungguhnya bukan hanya status yang tertulis di dokumen. Keberhasilan itu hadir ketika seorang pasien tetap mendapat tempat tidur saat membutuhkan perawatan, ketika keluarga memperoleh pelayanan yang ramah, dan ketika harapan masyarakat tidak pernah ditolak di pintu rumah sakit yang mereka andalkan. (GZ)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar