KKN Pangandaran Dorong Desa Selasari Masuk Era Digital
- account_circle redaktur
- calendar_month Selasa, 22 Sep 2026
- visibility 30
- comment 0 komentar
- print Cetak

KKN Pangandaran Telkom University dan Pemkab Pangandaran mendorong digitalisasi potensi Desa Selasari. (Dok. Kominfo Pangandaran).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – KKN Pangandaran memasuki babak baru. Telkom University bersama Pemerintah Kabupaten Pangandaran melalui Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian (Diskominfo) Kabupaten Pangandaran menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) sekaligus membuka KKN Tematik Pesona Pangandaran. Program ini membawa misi yang lebih luas dari sekadar kegiatan mahasiswa, yakni mendorong digitalisasi Desa Selasari, penguatan UMKM, literasi digital, serta pengembangan potensi lokal.
Kegiatan berlangsung di Aula Pendopo Kabupaten Pangandaran. Selanjutnya, mahasiswa KKN akan menjalankan kegiatan di dua lokasi utama, yakni Desa Selasari, Kecamatan Parigi, dan lingkungan Diskominfo Kabupaten Pangandaran.
Dalam informasi yang dilansir Kominfo Pangandaran, kolaborasi tersebut diarahkan untuk menghubungkan keilmuan mahasiswa dengan kebutuhan pembangunan daerah. Dengan begitu, KKN Tematik Pangandaran diharapkan tidak berhenti sebagai agenda akademik, tetapi mampu menghasilkan manfaat yang dapat diteruskan masyarakat.
KKN Pangandaran Tidak Berhenti di Seremoni
Ada satu hal yang membuat program ini menarik: agenda KKN tidak hanya berfokus pada kegiatan seremonial atau pendampingan masyarakat dalam waktu singkat.
Program KKN Tematik Pesona Pangandaran membawa agenda digitalisasi potensi lokal. Desa Selasari menjadi salah satu ruang utama bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan sekaligus membantu masyarakat mengoptimalkan aset lokal melalui teknologi.
Di satu sisi, mahasiswa mendapatkan ruang untuk menguji keilmuan mereka secara langsung. Di sisi lain, masyarakat memperoleh pendampingan untuk memperkuat cara mengelola dan mempromosikan potensi desa.
Konteks tersebut menjadi semakin relevan karena Pemerintah Kabupaten Pangandaran dan Telkom University sebelumnya juga telah berkolaborasi mengembangkan Pangandaran.ai, sebuah platform berbasis kecerdasan buatan untuk membantu menyediakan informasi pariwisata, destinasi, penginapan, restoran, UMKM, hingga informasi terkait Pangandaran.
Artinya, kerja sama kali ini memiliki konteks yang lebih luas dalam agenda transformasi digital Pangandaran.
Desa Selasari Punya Modal, Tantangannya Ada di Digital
Digitalisasi desa bukan berarti sekadar membuat akun media sosial atau mengunggah foto kegiatan.
Desa membutuhkan sistem informasi, konten yang konsisten, kemampuan mengelola kanal digital, serta strategi untuk mengubah potensi lokal menjadi informasi yang mudah ditemukan masyarakat.
Selasari sendiri memiliki potensi wisata dan ekonomi lokal yang cukup beragam. Pemerintah Desa Selasari sebelumnya juga pernah menyoroti pentingnya akses internet untuk mendukung promosi potensi wisata dan produk lokal.
Karena itu, program KKN Pangandaran memiliki ruang yang cukup besar untuk menghubungkan potensi tersebut dengan kebutuhan komunikasi digital.
Jika dikelola secara tepat, konten digital dapat membantu masyarakat memperkenalkan destinasi, produk UMKM, aktivitas ekonomi, maupun cerita lokal kepada calon wisatawan dan konsumen yang berada di luar desa.
Namun, teknologi tetap hanya menjadi alat. Dampaknya akan bergantung pada kemampuan masyarakat untuk mengelolanya secara mandiri.
UMKM Tidak Cukup Hanya Punya Produk
Salah satu fokus KKN Tematik Pesona Pangandaran adalah pendampingan UMKM lokal, termasuk pengembangan inovasi produk dan branding.
Langkah tersebut penting karena persaingan di ruang digital tidak hanya ditentukan oleh kualitas barang.
Produk juga membutuhkan identitas yang kuat, foto yang menarik, informasi yang jelas, kemasan yang sesuai, serta strategi komunikasi yang mampu menjangkau calon konsumen.
Dengan demikian, mahasiswa dapat berperan sebagai penghubung antara pengetahuan akademik dan kebutuhan praktis pelaku usaha.
Pendampingan branding juga dapat membantu UMKM memahami bahwa pemasaran digital bukan sekadar mengunggah produk. Mereka perlu mengetahui siapa target konsumennya, bagaimana menyusun pesan, kanal apa yang digunakan, dan bagaimana mengevaluasi respons pasar.
Terlebih, sejumlah kegiatan pemberdayaan sebelumnya di Selasari juga telah menyentuh pemasaran digital dan penguatan kapasitas UMKM. Salah satu kajian pengabdian masyarakat bahkan mencatat kebutuhan peningkatan akses pemasaran digital bagi pelaku usaha di desa tersebut.
Karena itu, tantangannya bukan lagi sekadar mengenalkan digitalisasi, melainkan memastikan pengetahuan tersebut benar-benar menjadi kemampuan yang digunakan sehari-hari.
Literasi Digital Menjadi Fondasi
Selain UMKM, program KKN Tematik Pangandaran juga mencakup literasi digital bagi masyarakat.
Agenda tersebut memiliki arti penting karena transformasi digital membawa peluang sekaligus risiko.
Masyarakat perlu memahami cara menggunakan teknologi secara produktif, menjaga keamanan informasi, memilah informasi, serta memanfaatkan platform digital untuk aktivitas ekonomi maupun komunikasi.
Diskominfo Pangandaran sendiri sebelumnya telah menjalankan program pendampingan digitalisasi desa melalui Kominfo Saba Desa. Program tersebut mencakup optimalisasi media sosial, keamanan informasi, administrasi digital, dan penguatan kemampuan aparatur desa.
Karena itu, kehadiran mahasiswa KKN dapat menjadi bagian dari ekosistem digitalisasi yang lebih luas, bukan program yang berdiri sendiri.
Tantangan Terbesar Justru Setelah Mahasiswa Pulang
Di sinilah ukuran keberhasilan KKN Pangandaran seharusnya diuji.
Mahasiswa memiliki waktu pengabdian yang terbatas. Sebaliknya, desa dan UMKM membutuhkan proses pendampingan yang berkelanjutan.
Karena itu, keberhasilan program tidak cukup dilihat dari jumlah kegiatan, pelatihan, atau konten yang berhasil dibuat selama KKN.
Pertanyaan yang lebih penting justru muncul setelah program berakhir.
Apakah masyarakat mampu mengelola akun digital secara mandiri? Apakah UMKM tetap memperbarui katalog dan promosi produknya? Apakah aset digital yang dibuat mahasiswa tetap digunakan? Apakah potensi wisata Selasari menjadi lebih mudah ditemukan calon pengunjung?
Pertanyaan tersebut menentukan apakah KKN benar-benar meninggalkan kemampuan baru atau hanya meninggalkan dokumentasi kegiatan.
Dari Kampus ke Desa, Dari Teknologi ke Dampak
Kolaborasi Telkom University dan Pemkab Pangandaran melalui KKN Tematik Pesona Pangandaran menunjukkan upaya mempertemukan pendidikan tinggi dengan kebutuhan pembangunan lokal.
Desa Selasari menjadi salah satu ruang untuk menguji bagaimana ilmu mahasiswa dapat diterjemahkan menjadi solusi yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Sementara itu, Diskominfo Pangandaran memiliki posisi strategis dalam menghubungkan agenda tersebut dengan transformasi digital pemerintah daerah.
Namun, teknologi bukan tujuan akhir.
Tujuan akhirnya adalah kemampuan masyarakat memanfaatkan teknologi untuk memperkuat informasi, ekonomi, UMKM, dan potensi wisata secara berkelanjutan.
Jika hasil KKN dapat diteruskan setelah mahasiswa kembali ke kampus, program tersebut memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar satu periode pengabdian.
Sebaliknya, jika seluruh aktivitas berhenti ketika mahasiswa pulang, manfaat digitalisasi pun berisiko ikut berhenti.
KKN Pangandaran boleh dimulai dari kampus. Tetapi keberhasilannya tidak diukur ketika mahasiswa datang. Ukurannya justru terlihat ketika mahasiswa pulang dan masyarakat tetap mampu melanjutkan apa yang telah dimulai. (Red)
- Penulis: redaktur







