UMKM Pangandaran Dapat Kemasan Gratis, Apa Dampaknya?
- account_circle redaktur
- calendar_month Senin, 14 Sep 2026
- visibility 30
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi pelaku UMKM Pangandaran menyiapkan produk dengan kemasan untuk pasar wisata.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH — Pangandaran punya wisatawan, tetapi pertanyaan berikutnya bukan hanya berapa banyak orang datang. Yang tak kalah penting, seberapa besar belanja wisatawan bisa ditangkap pelaku UMKM lokal?
Pertanyaan itu kembali relevan setelah PERUMDA BPR BKPD Pangandaran menyiapkan fasilitas rekening tabungan dan kemasan produk gratis bagi pelaku UMKM.
Pada tahap awal, fasilitas tersebut akan diberikan kepada kurang dari 100 pelaku UMKM. Program itu disebut akan dilanjutkan secara berkesinambungan agar cakupannya dapat diperluas.
Sekilas, rekening dan kemasan mungkin terlihat sebagai dua hal sederhana.
Namun bagi usaha kecil, keduanya berkaitan dengan persoalan yang lebih besar: bagaimana produk lokal terlihat lebih siap, keuangan usaha lebih tertata, dan peluang pasar bisa diperluas.
Bukan Sekadar Kemasan Gratis
Kemasan sering dianggap hanya persoalan tampilan.
Padahal, bagi UMKM yang ingin masuk pasar yang lebih luas, kemasan menjadi bagian dari identitas produk. Nama merek, informasi produk, tampilan, ukuran, hingga cara produk dibawa pulang ikut menentukan pengalaman pembeli.
Karena itu, fasilitas kemasan gratis yang disiapkan BPR BKPD Pangandaran memiliki relevansi lebih luas jika diikuti pendampingan.
Direktur Operasional PERUMDA BPR BKPD Pangandaran Raden Ria Pria Santika menyebut dukungan kepada UMKM tidak cukup hanya melalui akses permodalan. Menurut dia, pelaku usaha juga membutuhkan pendampingan dalam pengelolaan keuangan, peningkatan kualitas produk, dan perbaikan kemasan.
Di sinilah persoalannya menjadi menarik.
Kemasan yang lebih baik tidak otomatis membuat produk laris.
Produk tetap harus memiliki kualitas, harga yang kompetitif, distribusi yang masuk akal, serta pemasaran yang mampu menjangkau pembeli.
Jadi, kemasan seharusnya dilihat sebagai salah satu pintu masuk menuju pengembangan usaha, bukan sebagai jaminan kenaikan omzet.
Rekening Bisa Mengubah Cara UMKM Mengelola Uang
Hal kedua yang disiapkan adalah rekening tabungan.
Bagi usaha kecil, pemisahan uang pribadi dan uang usaha merupakan salah satu langkah penting dalam pengelolaan keuangan.
Dengan rekening usaha yang digunakan secara konsisten, pelaku UMKM memiliki peluang untuk mencatat arus uang secara lebih tertib. Dari sana, pemilik usaha dapat lebih mudah melihat pemasukan, pengeluaran, dan kebutuhan modal.
Namun, sekali lagi, rekening bukan solusi tunggal.
Tanpa kebiasaan mencatat transaksi dan mengelola keuangan, rekening baru hanya menjadi tempat menyimpan uang.
Karena itu, program ini menjadi lebih menarik karena dikaitkan dengan edukasi literasi keuangan dan pemanfaatan produk perbankan.
Sarasehan yang dijadwalkan berlangsung pada 16 September 2026 di Gedung DPRD Pangandaran akan melibatkan HMI Pangandaran, OJK Tasikmalaya, serta Dinas Koperasi UMKM Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Pangandaran. Materinya antara lain pengelolaan keuangan, kebutuhan pembiayaan, pemilihan produk jasa keuangan, hingga kewaspadaan terhadap investasi ilegal.
Artinya, persoalan yang disentuh bukan hanya bagaimana produk terlihat lebih menarik.
Ada pula upaya memperkuat kemampuan pelaku usaha dalam mengambil keputusan finansial.
Pangandaran Punya Pasar Wisata yang Besar
Potensi pasar lokal sebenarnya tidak kecil.
Data yang dipublikasikan ANTARA pada Agustus 2026 mencatat kunjungan wisatawan ke Pangandaran mencapai 2.664.207 orang hingga 13 Agustus 2026. Pada periode yang sama, retribusi pariwisata mencapai Rp46,56 miliar, sudah melampaui capaian sepanjang 2025 sebesar Rp45,89 miliar.
Angka tersebut menunjukkan besarnya aktivitas ekonomi yang berputar di sekitar pariwisata Pangandaran.
Namun, jumlah wisatawan tidak otomatis berarti seluruh pelaku UMKM menikmati manfaat ekonomi dalam porsi yang sama.
Wisatawan bisa datang ke pantai, menginap di hotel, makan di restoran, membeli oleh-oleh, menggunakan jasa transportasi, lalu pulang.
Pertanyaannya kemudian menjadi lebih spesifik:
Di titik mana produk UMKM lokal masuk dalam perjalanan belanja tersebut?
Di sinilah kualitas produk, kemasan, pemasaran, akses transaksi, dan kemampuan distribusi menjadi penting.
Tantangannya: Jangan Berhenti pada Program
Pangandaran juga memiliki pekerjaan rumah yang lebih luas.
Program penguatan UMKM melalui branding dan pemasaran digital di Desa Cibanten, Kecamatan Cijulang, misalnya, sebelumnya menemukan persoalan seperti ketidakkonsistenan kemasan dan pelabelan, lemahnya identitas merek, serta promosi digital yang belum optimal.
Temuan semacam itu menunjukkan bahwa UMKM naik kelas membutuhkan lebih dari satu intervensi.
Kemasan perlu dibarengi branding.
Rekening perlu dibarengi pencatatan.
Promosi perlu dibarengi kualitas produk.
Dan akses pembiayaan perlu dibarengi kemampuan mengelola utang secara sehat.
Jika rangkaian tersebut berjalan bersama, fasilitas yang diberikan kepada UMKM memiliki peluang menghasilkan dampak yang lebih panjang.
Sebaliknya, jika berhenti pada pembagian fasilitas, manfaatnya bisa terbatas.
Mampukah UMKM Pangandaran Menangkap Uang Wisatawan?
Inilah pertanyaan yang lebih besar di balik program tersebut.
Pangandaran tidak kekurangan wisatawan. Tantangannya adalah memastikan perputaran ekonomi dari aktivitas wisata juga membuka ruang yang lebih besar bagi pelaku usaha lokal.
UMKM tidak harus menjadi perusahaan besar untuk mengambil peluang tersebut.
Produsen makanan rumahan, pengolah hasil laut, pembuat oleh-oleh, pengrajin, pelaku fesyen, hingga usaha kuliner kecil dapat masuk dalam rantai ekonomi wisata jika produknya memiliki kualitas, identitas, kemasan, harga, dan akses pasar yang tepat.
Karena itu, fasilitas rekening dan kemasan gratis patut dilihat sebagai awal, bukan garis akhir.
Pada tahap pertama, jumlah penerimanya memang masih kurang dari 100 UMKM. Tetapi apabila program benar-benar berlanjut dan dibarengi pendampingan yang konsisten, cakupannya dapat menjadi lebih luas.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilannya bukan sekadar berapa banyak rekening yang dibuat atau berapa banyak kemasan yang dibagikan.
Ukuran yang lebih penting adalah apakah UMKM Pangandaran menjadi lebih siap menjual produknya, mengelola uangnya, memperluas pasarnya, dan mengambil bagian lebih besar dari ekonomi wisata yang tumbuh di daerah sendiri.
Sebab, wisatawan yang datang membawa peluang. Tetapi peluang itu baru menjadi uang bagi warga ketika produk lokal mampu masuk ke dalam perjalanan belanja mereka. (Red)
- Penulis: redaktur







