Ketahanan Pangan Subang Tetap Kuat di Tengah Alih Fungsi Lahan

Subang tetap tangguh menjaga ketahanan pangan nasional meski lahan pertanian berkurang akibat industrialisasi.
Subang Hadapi Alih Fungsi Lahan dengan Strategi Pertanian Intensif
albadarpost.com, LENSA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Subang, Jawa Barat, terus memperkuat ketahanan pangan Subang di tengah derasnya arus pembangunan industri. Meskipun sebagian besar lahan pertanian beralih fungsi menjadi kawasan industri dan infrastruktur, Subang tetap konsisten menjaga produktivitas pertanian, khususnya padi, yang menjadi komoditas unggulan daerah tersebut.
Dari data Dinas Pertanian setempat, luas lahan pertanian yang semula mencapai 85.000 hektare kini menyusut menjadi sekitar 70.000 hektare. Penyusutan ini disebabkan oleh pesatnya pertumbuhan kawasan industri dan pembangunan infrastruktur besar, termasuk proyek strategis nasional. Meski begitu, Pemerintah Daerah (Pemda) Subang tidak tinggal diam. Berbagai langkah strategis ditempuh untuk mempertahankan produktivitas padi agar ketahanan pangan Subang tetap terjaga.
Menurut Wakil Bupati Subang, Agus Masykur Rosyadi, sektor pertanian masih menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat dan memiliki peran vital dalam menopang ketahanan pangan nasional. “Komoditas utama lumbung pangan di Subang adalah padi. Area tanah yang masih cukup luas serta sistem irigasi yang memadai menjadikan Subang sebagai lumbung padi ketiga secara nasional,” ujar Agus kepada Beritasatu.com, Sabtu (11/11/2025).
Optimalisasi Lahan dan Teknologi Jadi Kunci Ketahanan Pangan Subang
Meski tidak ada pembukaan lahan baru akibat keterbatasan ruang dan meningkatnya kebutuhan industri, Pemkab Subang berfokus pada intensifikasi pertanian. Langkah ini dilakukan melalui penerapan teknologi pertanian modern dan peningkatan efisiensi pengairan, termasuk memaksimalkan fungsi Waduk Sadawarna yang kini mengairi sekitar 1.700 hektare sawah produktif.
“Alhamdulillah, produktivitas pertanian kita sudah mencapai target 1,2 juta ton. Dari sisi harga, Bulog juga membantu menjaga stabilitas harga gabah agar pendapatan petani meningkat,” jelas Agus.
Program ini menjadi bukti nyata bahwa meskipun menghadapi tantangan alih fungsi lahan, ketahanan pangan Subang tetap tangguh dan mampu mendukung program nasional. Pemerintah daerah juga terus mendorong petani agar menerapkan pola tanam berkelanjutan serta menggunakan pupuk organik guna menjaga kesuburan tanah dalam jangka panjang.
Tak hanya fokus pada padi, Pemkab Subang juga berupaya memperluas diversifikasi pertanian dengan mengembangkan komoditas hortikultura seperti nanas, manggis, dan sayuran dataran rendah. Komoditas ini dinilai memiliki nilai jual tinggi dan berpotensi membuka pasar ekspor baru.
Agus menegaskan, langkah ini bukan hanya untuk memperkuat sektor pertanian, tetapi juga untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi daerah yang kini mulai ditopang oleh sektor industri dan pariwisata. “Kami berusaha menjaga keseimbangan antara kemajuan industri dan keberlanjutan sektor pertanian. Keduanya harus berjalan beriringan,” tambahnya.
Dukungan Pemerintah Pusat dan Sinergi Lintas Sektor
Sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat kemandirian pangan nasional, Pemkab Subang juga mendapat dukungan pemerintah pusat dalam memperbaiki infrastruktur pertanian. Salah satu fokus utamanya adalah rehabilitasi jaringan irigasi yang rusak di sejumlah wilayah sentra produksi padi.
Selain itu, pemerintah daerah menggandeng berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi, lembaga riset, dan BUMN pertanian untuk memperkenalkan teknologi tanam modern seperti drip irrigation dan precision farming. Kolaborasi ini diharapkan mampu menekan biaya produksi, meningkatkan hasil panen, dan mempercepat transformasi pertanian tradisional menjadi pertanian digital.
Pemerintah juga berkomitmen memberikan akses permodalan dan pelatihan bagi petani muda agar generasi baru mau terjun ke sektor pertanian. Program ini sekaligus menjadi strategi jangka panjang untuk memastikan ketahanan pangan Subang tetap terjaga di masa depan.
Transformasi Pertanian Menuju Ketahanan Pangan Berkelanjutan
Dengan berbagai program yang dijalankan, Subang kini tidak hanya menjadi lumbung padi nasional, tetapi juga contoh nyata daerah yang mampu menyeimbangkan industrialisasi dengan keberlanjutan pangan. Pemerintah daerah juga memperkuat regulasi tata ruang agar setiap alih fungsi lahan tetap mempertimbangkan aspek ekologi dan produktivitas pangan.
Agus Masykur menambahkan, pembangunan industri di Subang memang tak bisa dihindari, terutama dengan adanya Pelabuhan Patimban dan kawasan industri baru. Namun, menurutnya, sektor pertanian tetap menjadi fondasi utama bagi ketahanan ekonomi masyarakat.
“Kami ingin masyarakat tetap punya harapan di sektor pertanian. Maka dari itu, pemerintah akan terus hadir, memperkuat infrastruktur dan membuka peluang usaha baru di bidang agribisnis,” tegasnya.
Sebagai langkah konkret, Pemkab Subang juga tengah menyiapkan food estate mini berbasis komunitas tani di beberapa kecamatan. Program ini diharapkan mampu menjaga rantai pasok pangan lokal serta meningkatkan daya saing petani di pasar nasional.
Penutup: Ketahanan Pangan Subang Jadi Pilar Ekonomi Daerah
Ketahanan pangan Subang menjadi bukti bahwa konsistensi, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor mampu menjaga kemandirian pangan di tengah tekanan pembangunan industri. Dengan memadukan teknologi modern dan semangat petani lokal, Subang tidak hanya menjaga swasembada beras, tetapi juga menciptakan ekosistem pertanian berkelanjutan yang mendukung kesejahteraan masyarakat.
Kesimpulan
Subang sukses menjaga ketahanan pangan di tengah gempuran industri lewat intensifikasi pertanian dan dukungan infrastruktur modern. (AlbadarPost/DAS)




