Kekeringan Pangandaran, 360 Ribu Liter Air Bersih Disalurkan
- account_circle redaktur
- calendar_month Minggu, 16 Agt 2026
- visibility 63
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi kondisi debit air Sungai Citanduy di wilayah Desa Pamotan, Kecamatan Kalipucang mulai surut. (1/8/2026)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Kekeringan Pangandaran menjadi perhatian setelah BPBD Kabupaten Pangandaran mencatat distribusi 360.000 liter air bersih hingga pembaruan Sabtu, 15 Agustus 2026. Data tersebut mencatat penyaluran ke 9 kecamatan dan 21 desa, dengan layanan yang menjangkau 3.509 kepala keluarga atau 10.457 jiwa.
Berdasarkan data BPBD Pangandaran yang dirilis pada 15 Agustus 2026, distribusi tersebut berlangsung melalui 88 kali penyaluran air bersih. Angka itu menggambarkan penanganan yang dilakukan BPBD pada periode pembaruan tersebut, bukan otomatis menjadi total keseluruhan warga terdampak kekeringan di Kabupaten Pangandaran.
Dengan kata lain, 360 ribu liter air bersih bukan sekadar angka dalam laporan. Di baliknya terdapat ribuan keluarga yang membutuhkan dukungan untuk memenuhi kebutuhan air bersih di wilayah masing-masing.
Cijulang Terima Distribusi Air Bersih Terbesar
Dari sembilan kecamatan yang tercatat dalam data BPBD, Cijulang menerima volume distribusi paling besar, yakni 85.000 liter air bersih.
Selanjutnya, Kalipucang menerima 70.000 liter. Kemudian, Sidamulih mendapatkan 45.000 liter, sedangkan Parigi dan Pangandaran masing-masing menerima 40.000 liter.
Berikutnya, distribusi di Cigugur mencapai 35.000 liter. Sementara itu, Cimerak menerima 30.000 liter, Padaherang 10.000 liter, dan Mangunjaya 5.000 liter.
Jika seluruh volume tersebut dijumlahkan, totalnya sesuai dengan angka yang tercantum dalam data BPBD, yakni 360.000 liter air bersih.
Perbedaan volume antarwilayah menunjukkan bahwa distribusi tidak terbagi rata. Namun, besarnya volume air yang dikirim juga tidak bisa langsung digunakan sebagai ukuran tunggal tingkat keparahan kekeringan karena kebutuhan setiap wilayah dapat berbeda.
Kalipucang Catat Warga Terlayani Terbanyak
Ada fakta menarik lain dari data tersebut.
Wilayah dengan distribusi air terbesar bukan berarti otomatis memiliki jumlah jiwa terlayani paling banyak.
Kalipucang tercatat sebagai kecamatan dengan jumlah jiwa terlayani paling banyak, yakni 2.721 jiwa dari 952 kepala keluarga. Padahal, volume distribusinya berada di posisi kedua dengan 70.000 liter.
Kemudian, Parigi mencatat 1.909 jiwa dari 610 KK dengan distribusi 40.000 liter.
Di Pangandaran, sebanyak 1.040 jiwa dari 326 KK tercatat terlayani dengan distribusi 40.000 liter. Sementara itu, Cijulang menerima volume terbesar, 85.000 liter, untuk 1.197 jiwa dari 467 KK.
Data tersebut memperlihatkan bahwa volume bantuan dan jumlah warga terlayani merupakan dua indikator yang berbeda. Karena itu, pembaca perlu melihat keduanya secara bersamaan ketika memahami penanganan kekeringan Pangandaran.
21 Desa Masuk dalam Sebaran Penanganan
Penanganan yang tercantum dalam pembaruan BPBD tersebut mencakup 21 desa di 9 kecamatan.
Di Kecamatan Cimerak, distribusi menyasar Limus Gede, Kertaharja, dan Kertamukti.
Kecamatan Cijulang mencakup Batukaras, Cibanten, dan Margacinta. Kemudian, Kecamatan Parigi meliputi Cintakarya, Parakanmanggu, dan Bojong.
Untuk Kecamatan Cigugur, wilayah yang tercatat menerima distribusi adalah Cimindi, Pagerbumi, dan Kertajaya.
Sementara itu, Kecamatan Sidamulih mencatat Desa Sidamulih sebagai wilayah penerima.
Di Kecamatan Pangandaran, distribusi menyasar Sidomulyo dan Sukahurip. Selanjutnya, Kecamatan Kalipucang mencakup Pamotan, Bagolo, dan Banjaharja.
Adapun Kecamatan Padaherang meliputi Karangmulyа dan Bojongsari, sedangkan Kecamatan Mangunjaya mencatat Desa Mangunjaya.
Dengan cakupan tersebut, distribusi air bersih berlangsung di sejumlah wilayah yang tersebar dari bagian selatan hingga kawasan lain di Kabupaten Pangandaran.
88 Kali Penyaluran untuk 3.509 Kepala Keluarga
Selain volume air, jumlah penyaluran juga menjadi bagian penting dari data BPBD.
Hingga pembaruan 15 Agustus 2026, tercatat 88 kali penyaluran air bersih. Layanan tersebut menjangkau 3.509 kepala keluarga dan 10.457 jiwa berdasarkan pendataan BPBD pada pembaruan tersebut.
Angka ini sebaiknya dibaca sebagai data layanan distribusi air bersih BPBD, bukan sebagai angka final seluruh penduduk yang terdampak kekeringan.
Hal itu penting karena data penanganan dapat berubah mengikuti perkembangan kondisi lapangan, pendataan penerima, serta distribusi bantuan berikutnya.
BPBD Kabupaten Pangandaran sendiri memiliki kanal Pusdalops yang digunakan untuk pengamatan dan penyampaian informasi kebencanaan daerah. Dalam laporan hariannya, BPBD juga menyebut pemantauan dilakukan melalui komunikasi dengan wilayah serta berbagai sumber kebencanaan terkait.
Penanganan Kekeringan Tidak Berhenti pada Distribusi Air
Distribusi air bersih menjadi salah satu bentuk respons ketika masyarakat menghadapi keterbatasan sumber air.
Namun, penanganan kekeringan membutuhkan pemantauan berkelanjutan. Kondisi setiap desa dapat berubah, begitu pula kebutuhan masyarakat dan ketersediaan sumber air.
Karena itu, angka 360.000 liter sebaiknya dipahami sebagai gambaran penanganan BPBD berdasarkan pembaruan 15 Agustus 2026.
Masyarakat juga perlu mengikuti informasi terbaru dari pemerintah daerah dan BPBD apabila kondisi kekeringan berubah atau terdapat pembaruan mengenai wilayah penerima bantuan.
BPBD Pangandaran menyediakan kanal informasi resmi dan Pusdalops untuk penyampaian informasi kebencanaan daerah.
Bagi AlbadarPost, data tersebut juga menunjukkan satu hal penting: persoalan kekeringan tidak hanya dapat dilihat dari luas wilayah yang terdampak, tetapi juga dari berapa banyak air yang harus didistribusikan, berapa kali penyaluran dilakukan, dan berapa keluarga yang tercatat menerima layanan. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar