Berita Daerah

Kasus HIV Pelajar Terungkap, Disdik Pangandaran Perketat Pengawasan

Kasus HIV pelajar di Pangandaran memicu pengetatan pengawasan sekolah dan kolaborasi lintas instansi.

albadarpost.com, LENSA – Kasus HIV pelajar kembali mencuat di Kabupaten Pangandaran. Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga menemukan indikasi kasus HIV pelajar setelah pemeriksaan kesehatan oleh Puskesmas mengonfirmasi adanya siswa SMP yang terjangkit. Temuan ini berasal dari satuan pendidikan di Kecamatan Padaherang dan Mangunjaya, dua wilayah perbatasan yang selama ini dianggap rawan. Kondisi tersebut menimbulkan perhatian karena berkaitan langsung dengan keamanan lingkungan belajar dan pola interaksi remaja.

Kepala Disdikpora Pangandaran, Soleh Supriadi, membenarkan temuan itu. Ia menegaskan bahwa data lengkap kasus berada di Dinas Kesehatan, namun pihaknya menilai perubahan perilaku remaja saat ini tidak lepas dari pengaruh media sosial. Dalam pandangannya, perkembangan digital membawa dampak besar terhadap cara siswa berinteraksi, membentuk identitas, dan mengakses informasi. “Kami sangat konsen menjaga perilaku budaya dan karakter peserta didik,” ujarnya.

Soleh mengatakan indikasi penyebaran HIV di kalangan remaja diperkirakan sudah berlangsung sejak lama, tetapi baru terpantau meningkat dalam dua bulan terakhir. Sosialisasi sebelumnya di Mangunjaya dan Padaherang, menurutnya, menunjukkan adanya potensi masalah serupa. Karena itu, koordinasi dilaksanakan dengan Puskesmas, organisasi wilayah pendidikan, MKKS, K3S, hingga PGRI. Ia menyebut langkah bersama ini sebagai upaya perlindungan terhadap pelajar di tingkat dasar maupun menengah.


Tekanan Sosial Baru dan Perubahan Perilaku Remaja

Di lapangan, guru dan tenaga kesehatan melihat perubahan dinamika sosial di tingkat keluarga ikut berperan. Remaja semakin cepat terekspos informasi digital tanpa pendampingan memadai. Hal tersebut membuat kontrol keluarga melemah. Fenomena itu menjadi ruang bagi perilaku berisiko, termasuk berganti pasangan dan hubungan seksual tidak aman yang berpotensi memunculkan kasus HIV pelajar di wilayah tersebut.

Baca juga: Pesawat GA8 Airvan Alami Loss Power, Pilot Arahkan Pendaratan ke Sawah

Dampak pendidikan kini melebar: sekolah harus mengelola kelas, kurikulum, dan bimbingan konseling dalam ekosistem sosial yang berubah. Model pembelajaran karakter yang selama ini diterapkan dinilai belum cukup adaptif untuk menghadapi tekanan digital yang semakin mudah diakses. Dari sisi psikologis, remaja juga menghadapi kebutuhan penerimaan sosial yang tinggi, dan algoritma media sosial ikut memperkuat pola pencarian identitas yang tidak selalu sehat.

Baca juga: Akses KUR Bekasi Dikeluhkan Rumit, Pemkab Janji Permudah Proses Kredit

Soleh menyatakan media sosial memberi ruang baru bagi perilaku berisiko itu. “Fenomena sekarang banyak yang tidak bijak dan akhirnya menjerumuskan peserta didik,” katanya. Dalam konteks ini, kolaborasi dengan Dinas Kesehatan disebut sebagai langkah strategis untuk mengembalikan fungsi sekolah sebagai ruang aman.


Data Kesehatan dan Tantangan Penanganan

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Pangandaran, dr. Rina Veriany, mencatat sedikitnya 35 kasus positif HIV sepanjang Januari hingga September 2025. Sebagian besar penderitanya merupakan kelompok laki-laki dengan hubungan seksual berisiko. Ia tidak menyebut detail data jumlah pelajar yang terdampak, namun menjelaskan bahwa pola penularan masih didominasi hubungan seksual tidak aman serta paparan darah.

Menurut Rina, tantangan utama penanganan HIV di usia remaja bukan hanya pada aspek medis, tetapi juga kesenjangan informasi dan stigma. Banyak keluarga menunda pemeriksaan karena takut tekanan sosial. Lingkungan sekolah pun sering kesulitan melakukan edukasi seksualitas secara terbuka karena faktor budaya.

Dalam konteks itu, kebijakan pendidikan daerah dinilai perlu diperbarui. Pemerintah daerah didorong menyusun kurikulum kesehatan reproduksi yang lebih relevan, membangun layanan konseling ramah remaja, serta menata sistem pengawasan yang melibatkan keluarga. (Red/Arrian)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button