Viman di APEKSI 2026, Apa yang Dibawa Pulang ke Tasikmalaya?
- account_circle redaktur
- calendar_month Rabu, 30 Sep 2026
- visibility 75
- comment 0 komentar
- print Cetak

Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, Selasa (29/9/2026).(Dok. PemkotTasikmalaya).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH — Forum APEKSI menjadi bagian dari agenda pemerintah kota yang membahas masa depan perkotaan di tengah perubahan iklim dan persoalan lingkungan. Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan menghadiri Mayor’s Talk: Climate and Urban Resilience 2026 di IPB International Convention Center, Kota Bogor, Selasa (29/9/2026).
Forum Komisariat Wilayah III Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) itu mempertemukan 25 wali kota dan delegasi kepala daerah. Selain membahas ketahanan kota, pertemuan tersebut menyoroti pengelolaan sampah, perubahan iklim, cuaca ekstrem, serta kebutuhan kolaborasi antarpemerintah kota.
Namun, ada pertanyaan yang lebih menarik dari sekadar siapa yang hadir.
Setelah forum selesai, gagasan apa yang bisa dibawa pulang untuk menjawab persoalan Kota Tasikmalaya?
Dari Bogor, Kota Tangguh Jadi Isu Bersama
Dikutip dari Radar Bogor, Forum APEKSI berlangsung dalam rangkaian kegiatan APEKSI Komwil III yang digelar di Kota Bogor pada 27–30 September 2026. Agenda tersebut mengusung tema Climate and Resilient Cities dan mempertemukan pemerintah kota untuk bertukar pengalaman menghadapi tantangan lingkungan.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq membuka forum utama pada Selasa. Sejumlah pejabat, akademisi, praktisi, dan kepala daerah turut membahas strategi menghadapi perubahan iklim serta persoalan lingkungan perkotaan.
Karena itu, pembahasan forum tidak berhenti pada isu pembangunan fisik. Ketahanan kota juga menyentuh kemampuan pemerintah menghadapi cuaca ekstrem, mengelola lingkungan, menjaga layanan publik, dan mengajak masyarakat ikut beradaptasi.
Di sisi lain, keterbatasan anggaran membuat pemerintah kota harus semakin cermat memilih program. Kolaborasi pun menjadi salah satu pendekatan yang banyak ditekankan dalam forum tersebut.
Sampah Masuk Daftar Pekerjaan Rumah Kota
Salah satu isu yang mendapat perhatian ialah pengelolaan sampah.
Persoalan sampah tidak cukup selesai dengan menambah armada pengangkut atau memperluas tempat pembuangan. Sebaliknya, pemerintah perlu membangun sistem dari hulu hingga hilir, sementara masyarakat juga perlu mengubah kebiasaan dalam memilah dan mengurangi sampah.
Kota Bogor, sebagai tuan rumah, bahkan membagikan sejumlah praktik pengelolaan lingkungan kepada peserta. Di antaranya pengembangan Waste Station dan rencana pengolahan sampah menjadi energi listrik. APEKSI menyebut praktik tersebut menjadi bagian dari pembelajaran antarkota.
Bagi Tasikmalaya, pertukaran pengalaman seperti itu membuka ruang untuk melihat kembali kebijakan lingkungan dari sudut yang berbeda.
Namun, tidak semua model dapat langsung diterapkan.
Setiap kota memiliki karakter wilayah, kemampuan anggaran, kepadatan penduduk, pola konsumsi, serta persoalan lingkungan yang berbeda. Karena itu, pengalaman kota lain lebih tepat dijadikan bahan pembelajaran sebelum disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Tasikmalaya.
Viman APEKSI dan Pertanyaan Setelah Forum
Dilansir dari Pemkot Tasikmalaya, kehadiran Viman dalam forum tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi dan pembelajaran antarpemerintah kota.
Posisi Tasikmalaya dalam forum APEKSI menjadi penting karena persoalan perkotaan tidak mengenal batas administrasi secara sederhana. Sampah, kualitas lingkungan, kebutuhan air, kepadatan kawasan, transportasi, hingga risiko cuaca ekstrem membutuhkan koordinasi lintas sektor.
Karena itu, manfaat forum akan lebih terasa apabila hasil pembahasannya masuk ke ruang kebijakan daerah.
Misalnya, pengalaman kota lain dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah. Selanjutnya, pemerintah dapat mengukur kebutuhan infrastruktur, memperbaiki edukasi masyarakat, dan membangun kolaborasi dengan komunitas maupun pelaku usaha.
Dengan pendekatan tersebut, forum APEKSI tidak hanya menjadi catatan agenda kepala daerah.
Ada peluang untuk mengubah forum menjadi ruang belajar yang menghasilkan gagasan konkret.
Perubahan Iklim Bukan Lagi Isu Jauh
Perubahan iklim sering terdengar seperti persoalan global. Padahal, dampaknya dapat muncul dalam bentuk yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat.
Cuaca ekstrem dapat memengaruhi infrastruktur. Hujan dengan intensitas tinggi dapat meningkatkan risiko genangan. Persoalan sampah dapat memperburuk masalah drainase. Sementara itu, perubahan pola cuaca juga menuntut pemerintah menyesuaikan perencanaan kota.
Karena itu, konsep kota tangguh bukan hanya soal membangun infrastruktur yang kuat.
Kota juga membutuhkan sistem pemerintahan yang mampu membaca risiko, merespons perubahan, dan melibatkan masyarakat.
Forum APEKSI 2026 secara khusus membahas kebutuhan tersebut. Para kepala daerah juga membicarakan keterbatasan anggaran dan pentingnya inovasi untuk menjaga ketahanan kota.
Bagi Tasikmalaya, tantangannya kemudian adalah menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam persoalan lokal.
Yang Penting Bukan Forum, tetapi Tindak Lanjutnya
Rangkaian Mayor’s Talk APEKSI 2026 dijadwalkan menghasilkan Komunike Bogor 2026. Dokumen tersebut menjadi bagian dari tindak lanjut pembahasan antarkota dan aspirasi daerah kepada pemerintah pusat.
Namun, dokumen bersama hanya menjadi langkah awal.
Masyarakat pada akhirnya akan melihat hasilnya melalui kebijakan yang menyentuh kehidupan sehari-hari. Apakah pengelolaan sampah menjadi lebih efektif? Apakah kesiapan menghadapi cuaca ekstrem semakin baik? Apakah inovasi antarkota benar-benar menemukan bentuk yang sesuai untuk Tasikmalaya?
Pertanyaan tersebut menjadi lebih penting setelah forum berakhir.
Sebab, pemerintah kota tidak kekurangan forum untuk bertukar gagasan. Yang selalu ditunggu masyarakat adalah bagaimana gagasan itu berubah menjadi program, kemudian menghasilkan perubahan yang bisa dirasakan.
Forum APEKSI boleh selesai di Bogor. Namun, ujian sebenarnya dimulai ketika gagasan itu kembali ke Tasikmalaya: apakah hanya menjadi catatan perjalanan, atau berubah menjadi solusi yang dirasakan warga? (Red)
- Penulis: redaktur






