Tuchel Tetap Yakin Meski Inggris Gagal ke Final
- account_circle redaktur
- calendar_month 11 jam yang lalu
- visibility 15
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pelatih Timnas Inggris Thomas Tuchel (Foto: Flashcore).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DUNIA – Dilansir dari AFP, pelatih Timnas Inggris Thomas Tuchel tetap mempertahankan keputusan taktiknya setelah Inggris kalah 1-2 dari Argentina pada semifinal Piala Dunia 2026, Rabu waktu setempat. Kekalahan tersebut sekaligus mengakhiri langkah Three Lions menuju final dan memperpanjang penantian mereka untuk kembali tampil di partai puncak sejak menjadi juara dunia pada 1966.
Inggris sebenarnya membuka peluang besar untuk lolos ke final. Anthony Gordon membawa timnya unggul pada awal babak kedua melalui penyelesaian yang memanfaatkan momentum serangan cepat. Akan tetapi, keunggulan itu tidak bertahan lama. Argentina perlahan mengambil alih kendali permainan, meningkatkan tekanan, lalu membalikkan keadaan berkat gol Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez.
Hasil tersebut memicu sorotan terhadap keputusan taktik Tuchel. Meski demikian, pelatih asal Jerman itu menegaskan dirinya siap memikul seluruh tanggung jawab atas hasil yang diterima timnya.
“Kami sangat kecewa karena begitu dekat dengan final. Namun setelah unggul, kami kehilangan kendali permainan dan terlalu banyak memberikan peluang kepada lawan,” ujar Tuchel kepada BBC.
Argentina Menguasai Laga Setelah Inggris Kehilangan Ritme
Sepanjang babak kedua, Argentina tampil semakin agresif. Mereka mendominasi penguasaan bola, memaksa Inggris bertahan lebih dalam, serta terus mengirimkan umpan silang ke area pertahanan lawan.
Menurut Tuchel, perubahan jalannya pertandingan bukan semata-mata akibat pergantian pemain, melainkan karena timnya gagal mempertahankan penguasaan bola.
Akibatnya, lini pertahanan Inggris terus berada di bawah tekanan. Situasi tersebut membuat Argentina semakin percaya diri membangun serangan hingga akhirnya membalikkan keadaan menjelang akhir pertandingan.
“Kami tidak mampu menguasai bola kembali. Karena itu, lawan terus mendapatkan peluang dari berbagai sisi,” katanya.
Selain kehilangan ritme permainan, Inggris juga kesulitan keluar dari pressing yang diterapkan juara bertahan tersebut. Kondisi itu membuat peluang untuk membangun serangan balik semakin terbatas.
Pergantian Anthony Gordon Jadi Sorotan
Salah satu keputusan yang paling banyak diperbincangkan ialah saat Tuchel menarik Anthony Gordon pada menit ke-72 dan memasukkan Ezri Konsa untuk memperkuat lini belakang.
Banyak pengamat menilai pergantian itu membuat Inggris kehilangan ancaman di sektor depan. Namun, Tuchel memiliki pandangan berbeda.
Ia menjelaskan bahwa Argentina sudah lebih dulu menguasai permainan sebelum pergantian dilakukan. Oleh sebab itu, staf pelatih memilih mengubah formasi menjadi lima bek agar ruang kosong di lini pertahanan dapat diminimalkan.
Menurutnya, keputusan tersebut diambil berdasarkan perkembangan pertandingan, bukan semata-mata untuk bermain bertahan.
“Kami mencoba membantu para pemain karena ruang di belakang mulai terbuka. Bahkan sebelum pergantian dilakukan, kami sudah menghadapi terlalu banyak tekanan,” jelasnya.
Tuchel Terima Kritik, Tetap Percaya pada Keputusannya
Di tengah kritik yang mengemuka, Tuchel menegaskan dirinya tidak menyesali keputusan taktik yang telah diambil.
Ia menilai setiap pelatih akan menerima sorotan ketika tim mengalami kekalahan. Sebaliknya, tidak ada seorang pun yang dapat memastikan hasil pertandingan berubah apabila strategi berbeda diterapkan.
“Saya bertanggung jawab atas semua keputusan. Karena itu, saya juga menerima kritik yang muncul,” tegas mantan pelatih Chelsea dan Paris Saint-Germain tersebut.
Lebih lanjut, Tuchel membantah anggapan bahwa Inggris sengaja mengendurkan intensitas permainan setelah unggul. Menurutnya, para pemain tetap berupaya mencari gol kedua, tetapi Argentina mampu mengontrol tempo pertandingan sehingga Inggris kesulitan mengembangkan permainan.
Fokus Bangun Tim Menuju Euro 2028
Meski gagal membawa Inggris melaju ke final, Tuchel memastikan dirinya tetap fokus menjalankan kontrak bersama Federasi Sepak Bola Inggris hingga Euro 2028, turnamen yang akan digelar di kandang sendiri.
Ia menilai kegagalan di semifinal menjadi bahan evaluasi penting untuk membangun skuad yang lebih matang menghadapi kompetisi berikutnya.
Pelatih berusia 52 tahun itu mengaku belum memikirkan masa depannya di luar kontrak yang masih berlaku. Sebaliknya, ia ingin segera mengalihkan perhatian pada proses pembenahan tim agar mampu tampil lebih konsisten di ajang internasional mendatang.
Baginya, kekalahan dari Argentina memang menyakitkan. Namun, pengalaman tersebut dapat menjadi modal berharga untuk memperkuat mental dan kualitas permainan Inggris dalam menghadapi tantangan berikutnya.
Semifinal memang menutup langkah Inggris di Piala Dunia 2026, tetapi bagi Thomas Tuchel, kegagalan bukan akhir perjalanan—melainkan titik awal untuk membangun Three Lions yang lebih tangguh menuju Euro 2028. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar