Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Syekh Athaillah: Bahaya Mengejar Terkenal dalam Beramal

Syekh Athaillah: Bahaya Mengejar Terkenal dalam Beramal

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
  • visibility 217
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Syekh Athaillah, melalui hikmah-hikmahnya dalam Al-Hikam, mengajarkan bahwa tawadhu, ikhlas, dan menjauhi riya merupakan fondasi setiap amal. Pesan itu justru terasa semakin relevan ketika banyak orang berlomba mengejar perhatian, pengakuan, dan popularitas. Di tengah budaya yang mengukur keberhasilan dari seberapa sering seseorang tampil, ajaran Syekh Athaillah mengajak manusia kembali memeriksa niat sebelum mencari tepuk tangan.

Fenomena tersebut bukan hanya terjadi di ruang publik. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dapat tergoda mengukur nilai dirinya dari pujian yang diterima. Amal yang semula lahir karena Allah perlahan berubah menjadi upaya memperoleh pengakuan. Di sinilah letak ironi zaman: semakin mudah dikenal, semakin berat menjaga keikhlasan.

Syekh Athaillah menulis sebuah hikmah yang terus dikutip hingga kini:

اِدْفِنْ وُجُوْدَكَ فِيْ أَرْضِ الْخُمُوْلِ، فَمَا نَبَتَ مِمَّا لَمْ يُدْفَنْ لَا يَتِمُّ نَتَاجُهُ

“Tanamlah dirimu dalam tanah kerendahan. Sebab setiap sesuatu yang tumbuh tetapi tidak ditanam, tidak akan sempurna buahnya.”

Kalimat singkat itu menghadirkan gambaran sederhana. Pohon yang berakar kuat tidak lahir dari tempat yang tinggi, melainkan dari tanah yang rela diinjak. Semakin dalam akar menembus bumi, semakin kokoh pohon menghadapi angin.

Tawadhu Bukan Merendahkan Diri, Tetapi Menempatkan Hati

Sebagian orang memahami tawadhu sebagai sikap meremehkan kemampuan diri. Padahal Islam mengajarkan hal yang berbeda. Tawadhu berarti menyadari bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah, sehingga tidak ada alasan untuk menyombongkan diri.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Man tawādha’a rafa’ahullāh wa man takabbara waḍa’ahullāh.”

“Siapa yang merendahkan diri karena Allah, Allah akan mengangkat derajatnya. Sebaliknya, siapa yang menyombongkan diri, Allah akan merendahkannya.” (HR. Muslim)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa kemuliaan tidak lahir dari pencitraan. Sebaliknya, Allah sendiri yang meninggikan orang-orang yang menjaga kerendahan hati.

Karena itu, seorang mukmin tidak menjadikan popularitas sebagai tujuan. Jika kemudian ia dikenal karena ilmunya atau manfaat yang diberikannya, hal itu merupakan amanah yang harus dijaga, bukan prestasi yang layak dibanggakan.

Popularitas Bisa Menjadi Nikmat, Bisa Pula Menjadi Ujian

Ulama besar Ibrahim bin Adham pernah mengingatkan:

“Tidak benar-benar jujur kepada Allah orang yang mencintai popularitas.”

Ucapan tersebut tidak berarti Islam melarang seseorang dikenal masyarakat. Banyak nabi, sahabat, dan ulama saleh memiliki pengaruh yang luas.

Namun persoalannya bukan pada dikenal atau tidak dikenal, melainkan pada tujuan di balik setiap amal.

Jika seseorang berbuat baik agar dipuji, maka pujian itulah yang sedang ia kejar. Sebaliknya, apabila ia beramal semata-mata mengharap rida Allah, maka pujian maupun celaan manusia tidak lagi menjadi penentu kebahagiaannya.

Di sinilah hati diuji. Semakin besar sorotan, semakin besar pula godaan untuk menikmati tepuk tangan.

Orang Ikhlas Tidak Gelisah Ketika Namanya Terlupakan

Ayyub As-Sakhtiyani pernah berkata:

“Demi Allah, tidak ada hamba yang benar-benar ikhlas kepada Allah kecuali ia merasa senang jika dirinya tidak menjadi pusat perhatian.”

Nasihat ini terasa begitu kontras dengan kebiasaan manusia modern. Banyak orang takut kehilangan perhatian, padahal para ulama terdahulu justru takut kehilangan keikhlasan.

Mereka memahami bahwa amal tidak memerlukan panggung agar bernilai. Sebaliknya, amal yang tersembunyi sering kali lebih selamat dari penyakit hati.

Keikhlasan tumbuh ketika seseorang tetap berbuat baik, sekalipun tidak ada yang memuji dan tidak ada yang mengetahui.

Riya Datang Tanpa Suara

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa riya, meskipun sedikit, termasuk bentuk syirik kecil. Hadis ini menjadi peringatan agar setiap muslim terus mengoreksi niatnya.

Riya sering kali tidak hadir dalam bentuk kesombongan yang terang-terangan. Ia muncul melalui bisikan halus: ingin dianggap dermawan, ingin dipandang paling saleh, atau berharap memperoleh penghormatan dari manusia.

Karena itulah para ulama lebih sering memeriksa niatnya sendiri daripada sibuk menilai niat orang lain.

Sikap tersebut menjadi pelajaran penting. Memperbaiki hati jauh lebih bermanfaat daripada mengejar citra yang hanya bertahan sesaat.

Kemuliaan Tidak Selalu Berjalan Bersama Ketenaran

Dalam hadis yang diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa Allah mencintai hamba-hamba yang bertakwa, rendah hati, dan tidak mencari ketenaran. Jika mereka tidak terlihat, tidak ada yang mencarinya. Namun di sisi Allah, mereka memiliki kedudukan yang mulia.

Inilah ukuran yang berbeda antara langit dan bumi.

Manusia sering mengukur keberhasilan dari seberapa banyak orang mengenalnya. Allah justru melihat seberapa bersih hati seseorang ketika beramal.

Syekh Athaillah mengingatkan bahwa akar yang tersembunyi justru menopang pohon yang menjulang. Demikian pula keikhlasan. Ia mungkin tidak tampak di mata manusia, tetapi menjadi sebab diterimanya amal di sisi Allah.

Pada akhirnya, sejarah tidak selalu diubah oleh mereka yang paling terkenal. Sering kali, perubahan besar lahir dari hati-hati yang bekerja dalam diam, beramal tanpa menunggu tepuk tangan, lalu pulang membawa satu harapan: semoga Allah menerima setiap langkah yang tidak pernah diketahui manusia. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • persiapan 17 Agustus

    Mau Ikut Lomba 17 Agustus? Jangan Lupakan 7 Hal Ini

    • calendar_month Sabtu, 15 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 78
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Persiapan 17 Agustus biasanya mulai terasa beberapa hari sebelum hari kemerdekaan. Lapangan kampung dibersihkan, bendera merah putih dipasang, sementara anak-anak mulai sibuk membicarakan lomba yang akan mereka ikuti. Namun, di tengah semangat itu, ada beberapa hal kecil yang sering terlupakan sebelum peserta turun ke lapangan. Padahal, persiapan lomba 17 Agustus bukan hanya […]

  • Bedah Rumah PUPR

    Program Bantuan Bedah Rumah PUPR: Solusi Mengatasi Backlog Perumahan di Indonesia

    • calendar_month Minggu, 2 Jul 2023
    • account_circle redaktur
    • visibility 224
    • 0Komentar

    Program Bedah Rumah PUPR bantu ribuan keluarga berpenghasilan rendah wujudkan hunian layak dan sehat. albadarpost.com, LENSA – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus mempercepat pemerataan hunian layak di seluruh Indonesia. Melalui program Bedah Rumah PUPR, pemerintah menyalurkan Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) guna membantu masyarakat berpenghasilan rendah memperbaiki rumah tidak layak huni sekaligus […]

  • Juru Parkir Dibacok Garut

    Juru Parkir Dibacok di Garut, Polisi Tangkap Terduga Pelaku

    • calendar_month Senin, 27 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 68
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Hampir dua pekan setelah seorang juru parkir menjadi korban pembacokan di kawasan Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Garut Kota, polisi akhirnya berhasil mengamankan pria yang diduga sebagai pelaku. Penangkapan ini menjadi perkembangan terbaru dalam kasus yang sempat menyita perhatian warga karena terjadi di salah satu ruas jalan yang ramai aktivitas perdagangan dan […]

  • negosiasi damai Iran Amerika

    Terungkap! 5 Fakta Kenapa Negosiasi Iran-AS Gagal Total

    • calendar_month Minggu, 12 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 196
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Negosiasi damai Iran Amerika kembali menemui jalan buntu. Upaya perundingan antara Iran dan Amerika Serikat yang diharapkan mampu meredakan ketegangan justru berakhir tanpa hasil. Kegagalan negosiasi Iran-AS ini bukan hanya soal nuklir, tetapi juga melibatkan kepentingan politik, ekonomi, hingga strategi kawasan yang saling bertabrakan. Sejak awal, kedua pihak membawa agenda besar. […]

  • kerja sama Jepang Tasikmalaya

    Mengejutkan! Lobster Tasikmalaya Dilirik Jepang, Ini Dampaknya

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 187
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Kerja sama Jepang Tasikmalaya kembali menjadi sorotan publik setelah pertemuan strategis digelar di Pendopo Baru Kabupaten Tasikmalaya, Senin (13/04/2026). Kolaborasi internasional ini membuka peluang besar dalam investasi, pengembangan SDM, hingga sektor perikanan, terutama lobster air payau yang mulai dilirik sebagai komoditas unggulan. Selain itu, sinergi Jepang–Tasikmalaya juga diproyeksikan mampu mempercepat pertumbuhan […]

  • Hari Kesaktian Pancasila

    Hari Kesaktian Pancasila: Merayakan Keragaman dalam Persatuan

    • calendar_month Rabu, 1 Okt 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 204
    • 0Komentar

    “Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober jadi momentum merayakan keanekaragaman budaya Indonesia dalam persatuan.” albadarpost.com, PERSPEKTIF. Setiap tanggal 1 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila sebagai pengingat atas nilai-nilai dasar yang mempersatukan keragaman suku, agama, bahasa, budaya, dan wilayah. Di tengah pluralisme yang kaya, peringatan tahun ini kembali menegaskan bahwa perbedaan budaya bukan penghalang, melainkan […]

expand_less