SPPG Libur, BGN Fokuskan MBG ke Daerah 3T
- account_circle redaktur
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

Seorang siswa sedang menyantap MBG di ruang kelas.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Saat sebagian besar siswa bersiap menikmati libur sekolah, Badan Gizi Nasional (BGN) justru tengah merapikan arah Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Di tengah penghentian sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pemerintah memilih memperketat sasaran penerima manfaat agar bantuan gizi semakin tepat mengenai kelompok yang paling membutuhkan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi baru BGN untuk meningkatkan efektivitas program MBG atau makan bergizi gratis. Selain menyesuaikan operasional selama masa libur sekolah, BGN juga memfokuskan bantuan kepada masyarakat di daerah 3T serta kelompok rentan yang membutuhkan intervensi gizi.
Tak hanya itu, penyesuaian tersebut membuka potensi efisiensi anggaran hingga lebih dari Rp3 triliun.
Fokus Baru MBG untuk Daerah 3T dan Kelompok 3B
BGN kini lebih memprioritaskan kelompok masyarakat yang memiliki risiko kerentanan gizi lebih tinggi. Sasaran utama mencakup anak-anak di wilayah 3T, yakni daerah tertinggal, terdepan, dan terluar.
Selain itu, perhatian khusus juga diberikan kepada kelompok 3B yang terdiri atas ibu hamil, ibu menyusui, serta balita. Ketiga kelompok tersebut dinilai membutuhkan dukungan gizi yang lebih besar dibanding kelompok lainnya.
Karena itu, BGN terus memperbarui basis data penerima manfaat. Pendataan dilakukan dengan mempertimbangkan tingkat kerentanan gizi, kondisi sosial ekonomi masyarakat, dan akses terhadap pemenuhan gizi.
Dengan pendekatan tersebut, pemerintah berharap bantuan yang diberikan tidak hanya menjangkau lebih banyak orang, tetapi juga benar-benar menyentuh kelompok yang paling membutuhkan.
Puluhan Sekolah Tidak Lagi Memerlukan Intervensi
Di sisi lain, evaluasi terhadap penerima manfaat terus berjalan. Hingga 18 Juni 2026, BGN mengidentifikasi 76 sekolah di Pulau Jawa yang dinilai tidak lagi memerlukan intervensi pemerintah dalam pemenuhan makanan bergizi.
Jumlah siswa penerima manfaat yang masuk dalam proses penyesuaian tersebut mencapai 39.352 orang.
Dari langkah itu, potensi efisiensi anggaran diperkirakan mencapai Rp70,8 miliar.
Penajaman sasaran tersebut menunjukkan bahwa pemerintah mulai menggeser fokus dari sekadar memperluas cakupan menuju peningkatan ketepatan penerima manfaat.
SPPG Berhenti Beroperasi Selama Libur Sekolah
Sementara itu, Surat Edaran Nomor 12 Tahun 2026 mengatur penghentian distribusi Program Makan Bergizi Gratis selama masa libur sekolah yang berlangsung pada 22 Juni hingga 13 Juli 2026.
Artinya, seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi tidak menjalankan operasional seperti biasa selama periode tersebut. Bersamaan dengan itu, insentif operasional SPPG juga tidak diberikan.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Agustina Arumsari, menjelaskan bahwa penghentian distribusi MBG membuat seluruh SPPG berhenti beroperasi.
“Dengan tidak didistribusikannya MBG selama liburan sekolah, maka seluruh SPPG tidak beroperasi, dan karena itu tidak mendapatkan insentif,” ujar Agustina Arumsari.
Menurutnya, penghentian sementara tersebut merupakan konsekuensi dari tidak adanya distribusi makanan bergizi selama siswa menjalani masa libur sekolah.
Efisiensi Anggaran Tembus Rp3,004 Triliun
Hingga pertengahan Juni 2026, sebanyak 27.820 SPPG telah beroperasi di berbagai daerah untuk mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.
Namun, seiring berhentinya operasional selama libur sekolah, efisiensi anggaran dari insentif SPPG diperkirakan mencapai Rp3,004 triliun.
Nilai tersebut menjadi salah satu capaian efisiensi terbesar sejak program MBG berjalan. Selain itu, penghematan tersebut membuka ruang bagi pemerintah untuk memperkuat intervensi gizi terhadap kelompok rentan yang masih membutuhkan perhatian lebih besar.
Karena itu, arah baru program MBG kini tidak lagi semata-mata mengejar jumlah penerima. Pemerintah mulai menempatkan ketepatan sasaran sebagai prioritas utama.
Di balik berhentinya ribuan dapur SPPG selama masa liburan, BGN sedang menyusun ulang peta bantuan gizi nasional. Tujuannya sederhana, tetapi penting: memastikan setiap rupiah yang dibelanjakan benar-benar hadir untuk anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang paling membutuhkan.
Libur sekolah memang hanya berlangsung beberapa pekan. Namun bagi jutaan keluarga rentan, ketepatan sasaran bantuan gizi bisa menentukan kualitas generasi Indonesia di masa depan. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar