Ferdiansyah: Kepala Sekolah Jangan Hanya Tunggu Dana BOS
- account_circle redaktur
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

Anggota DPR RI Komisi X Ferdiansyah sedang memaparkan kegiatan kelolaan Ekosistem, Sabtu (20/6/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HUMANIORA — Konsep kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan kembali mendapat sorotan. Anggota DPR RI Komisi X Ferdiansyah menilai kepala sekolah, manajer sekolah, dan pemimpin ekosistem pendidikan tidak lagi cukup hanya menjalankan fungsi administratif. Menurutnya, sekolah membutuhkan figur yang mampu melihat peluang, membangun kolaborasi, dan menghadirkan solusi di tengah keterbatasan.
Pandangan tersebut ia sampaikan saat membahas penguatan kepemimpinan sekolah. Menurut Ferdiansyah, pola pikir pasif sudah tidak relevan dengan tantangan pendidikan saat ini.
“Bahasa kerennya, kepala sekolah itu Direktur Utama sekolah. Karena itu harus memahami ekosistemnya, mulai dari pelajar, guru, orang tua, hingga lingkungan sekitar,” ujarnya.
Kepala Sekolah Tidak Cukup Menjadi Pengawas Kelas
Ferdiansyah menegaskan, peran kepala sekolah telah berubah. Pemimpin sekolah harus mampu menggerakkan seluruh komponen pendidikan agar saling mendukung.
Selain mengelola proses belajar mengajar, kepala sekolah juga perlu memperkuat hubungan dengan masyarakat, tokoh lingkungan, hingga orang tua siswa. Dengan demikian, sekolah tidak berjalan sendiri.
Menurutnya, kemampuan memimpin menjadi faktor penting. Oleh sebab itu, calon kepala sekolah perlu memiliki pendidikan dan pembekalan khusus agar mampu menjalankan fungsi tersebut secara optimal.
“Bagaimana nanti bisa memimpin dengan memberdayakan semua komponennya,” katanya.
Jangan Selalu Bergantung pada Dana BOS
Di sisi lain, Ferdiansyah mengingatkan bahwa Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan berbagai bantuan pemerintah memiliki keterbatasan.
Karena itu, kepala sekolah perlu melahirkan berbagai terobosan. Ia menilai kemampuan membaca peluang menjadi salah satu kunci agar sekolah tetap berkembang.
Menurutnya, pengelolaan sekolah harus dilakukan dengan cara yang kreatif dan adaptif. Pemimpin pendidikan yang inovatif akan lebih mudah menghadapi berbagai tantangan, termasuk keterbatasan anggaran.
Dengan pendekatan tersebut, sekolah dapat membangun kemandirian sekaligus memperkuat perannya di tengah masyarakat.
Sampah Organik Bisa Menjadi Peluang bagi Sekolah
Ferdiansyah juga menyinggung persoalan lingkungan yang semakin mendesak. Ia menilai masalah sampah seharusnya tidak hanya dipandang sebagai beban.
Sebaliknya, sekolah dapat menjadikannya sebagai peluang ekonomi dan sarana pendidikan karakter.
Menurutnya, sampah organik dapat diolah menjadi pupuk. Selanjutnya, hasil tersebut dapat dimanfaatkan melalui kerja sama dengan petani di sekitar sekolah.
Bahkan, ia mencontohkan kemungkinan pertukaran hasil pupuk dengan produk pertanian seperti singkong. Pola seperti itu dinilai mampu menghadirkan manfaat bagi kedua belah pihak.
“Penguatan ekosistem jangan dimaknai sempit. Kepala sekolah harus berpikir luas, jeli, dan cepat terhadap berbagai persoalan di lingkungannya,” tegasnya.
Sekolah Bisa Menjadi Pusat Inovasi dan Industri Kecil
Lebih jauh, Ferdiansyah melihat sekolah memiliki peluang berkembang menjadi pusat inovasi berbasis masyarakat.
Ia mencontohkan pemanfaatan sampah plastik menjadi produk yang memiliki nilai guna. Barang bekas, menurutnya, dapat diolah kembali sehingga menghasilkan perlengkapan yang bermanfaat.
Selain itu, apabila sekolah kejuruan memiliki keleluasaan pengelolaan seperti Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), potensi pengembangan industri kecil akan semakin terbuka.
Langkah tersebut dinilai dapat membantu sekolah memperoleh tambahan pendapatan sekaligus meningkatkan keterampilan peserta didik.
Kepemimpinan Sekolah Harus Menyesuaikan Zaman
Perubahan zaman menuntut pemimpin pendidikan memiliki kemampuan lebih dari sekadar mengelola administrasi.
Kini, kepala sekolah dituntut menjadi penghubung antara sekolah, masyarakat, dunia usaha, dan lingkungan sekitar. Semakin kuat ekosistem yang dibangun, semakin besar peluang sekolah berkembang.
Karena itu, keberhasilan sekolah tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran. Kepemimpinan, kreativitas, dan kemampuan membangun kolaborasi justru menjadi modal yang semakin penting di era sekarang.
Di tengah keterbatasan anggaran, sekolah yang maju bukan selalu yang paling kaya, melainkan yang dipimpin oleh kepala sekolah yang mampu mengubah masalah menjadi peluang. (GZ)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar