KAHMI Ciamis Mimpi Besar Bangun Universitas Insan Cita
- account_circle redaktur
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

Musda III KAHMI Ciamis membahas gagasan pendirian Universitas Insan Cita sebagai kontribusi alumni HMI di bidang pendidikan, Jumat (12/6/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH — Universitas Insan Cita menjadi gagasan besar yang mencuat dalam Musyawarah Daerah (Musda) III Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Kabupaten Ciamis. Di tengah agenda pergantian kepengurusan organisasi, para alumni justru membicarakan sesuatu yang jauh melampaui urusan internal, yakni membangun perguruan tinggi yang dapat menjadi pusat pengabdian dan pengembangan sumber daya manusia di masa depan.
Gagasan pendirian Universitas Insan Cita itu mengemuka saat Musda III KAHMI Ciamis berlangsung di Saung Sakola Motelar, Cibunar, Kecamatan Sadananya, Jumat (12/6/2026).
Di bawah rindangnya pepohonan kawasan Saung Sakola, ratusan alumni HMI dari berbagai generasi tampak berdatangan sejak pagi. Sebagian duduk berkelompok sambil bernostalgia. Sebagian lainnya berdiskusi mengenai masa depan organisasi dan kontribusi alumni bagi masyarakat.
Namun di tengah suasana kekeluargaan tersebut, muncul sebuah ide yang menyita perhatian banyak peserta.
Universitas Insan Cita Jadi Cita-Cita Jangka Panjang
Presidium Daerah KAHMI Ciamis, Budi Kurnia, menyampaikan bahwa jaringan alumni HMI saat ini telah tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia.
Menurutnya, alumni HMI hadir di berbagai sektor strategis, mulai dari birokrasi, legislatif, pendidikan, hingga dunia profesional lainnya.
“Setiap kali saya berkunjung ke berbagai provinsi, hampir selalu bertemu alumni HMI yang berkiprah di berbagai bidang,” ujarnya.
Karena itu, Budi menilai KAHMI memiliki modal sosial dan intelektual yang cukup besar untuk membangun kontribusi yang lebih luas melalui sektor pendidikan tinggi.
Menurutnya, dunia akademik menawarkan ruang pengabdian yang panjang dan berkelanjutan.
Selain itu, jumlah alumni yang telah menyelesaikan pendidikan magister maupun doktor terus bertambah dari tahun ke tahun.
“Kita memiliki banyak sumber daya manusia yang berkualitas. Karena itu, pembangunan Universitas Insan Cita bukan sesuatu yang mustahil,” katanya.
Bukan Sekadar Kampus, Tetapi Pusat Pengabdian
Dalam pandangan sejumlah peserta Musda, perguruan tinggi bukan hanya tempat belajar.
Lebih dari itu, kampus dapat menjadi ruang lahirnya gagasan, riset, inovasi, dan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat.
Karena itu, wacana Universitas Insan Cita mendapat respons positif dari sejumlah alumni yang hadir.
Jika gagasan tersebut terwujud, KAHMI Ciamis tidak hanya dikenal sebagai organisasi alumni, tetapi juga sebagai bagian dari pembangunan pendidikan di daerah.
Selain membuka peluang pendidikan yang lebih luas, kehadiran perguruan tinggi baru juga berpotensi menciptakan ekosistem akademik yang lebih dinamis di Kabupaten Ciamis.
Musda Berlangsung Sederhana, Namun Sarat Gagasan
Sementara itu, Ketua Panitia Musda III KAHMI Ciamis, Dapid Firdaus, menjelaskan bahwa musyawarah daerah merupakan agenda lima tahunan organisasi.
Tahun ini, panitia sengaja mengemas kegiatan secara sederhana.
Tidak ada kemewahan yang berlebihan.
Sebaliknya, suasana akrab justru menjadi ciri utama forum tersebut.
Di sela-sela kegiatan, peserta terlihat berdiskusi santai sambil menikmati hidangan sederhana yang disediakan panitia.
Meski berlangsung sederhana, forum itu menghadirkan sejumlah tokoh penting.
Di antaranya Dr. Tatang Ibrahim, Ketua KPU Ciamis Oong Ramdani, Ketua Bawaslu Ciamis Jajang Miftahudin, serta anggota DPRD Ciamis Nur Muttaqin dan Mohammad Ijudin.
Selain membahas arah organisasi, Musda juga menetapkan jajaran Presidium Daerah KAHMI Ciamis yang baru, yakni Endin Lidinilah, Dafid Firdaus, Budi Rahman, Dadi Ahmad Fauzi, dan Nur Muttaqin.
Ketika Alumni Tidak Hanya Bernostalgia
Banyak organisasi alumni berhenti pada kegiatan silaturahmi.
Namun Musda III KAHMI Ciamis menunjukkan hal yang berbeda.
Di forum tersebut, para alumni tidak hanya mengenang masa lalu. Mereka juga berbicara tentang masa depan.
Tentang pendidikan.
Tentang pengabdian.
Dan tentang bagaimana jaringan alumni dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Mungkin Universitas Insan Cita masih berupa gagasan.
Namun setiap perubahan besar hampir selalu dimulai dari sebuah percakapan sederhana yang kemudian dijaga bersama-sama.
Musda boleh berakhir dalam satu hari. Namun jika mimpi tentang Universitas Insan Cita terus hidup, maka dari sebuah saung sederhana di Ciamis bisa lahir warisan pendidikan yang manfaatnya dirasakan jauh melampaui satu generasi. (GZ)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar