Di Tengah Gejolak Minyak Dunia, Pertalite Tak Naik, Pertamax Disesuaikan
- account_circle redaktur
- calendar_month 13 jam yang lalu
- visibility 17
- comment 0 komentar
- print Cetak

Direktur Utama PT Pertamina, Simon Aloysius Mantiri. (SC: IG Pertamina).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA NASIONAL — Kabar mengenai harga BBM Pertamina kembali menjadi perhatian masyarakat setelah Pertamina melakukan penyesuaian harga sejumlah bahan bakar non-subsidi yang mulai berlaku pada 10 Juni 2026. Namun di tengah berbagai spekulasi yang beredar, ada satu informasi yang langsung menjadi sorotan para pengendara: harga Pertalite dan BioSolar subsidi tetap bertahan.
Hingga saat ini, Pertalite masih dijual Rp10.000 per liter, sedangkan BioSolar tetap Rp6.800 per liter sesuai ketentuan pemerintah. Sementara itu, penyesuaian berlaku pada BBM non-subsidi seperti Pertamax dan Pertamax Green.
Bagi sebagian masyarakat, kabar tersebut menjadi informasi penting. Sebab, harga BBM bukan sekadar angka yang terpampang di papan SPBU. Harga bahan bakar turut memengaruhi biaya transportasi, distribusi barang, hingga pengeluaran harian keluarga.
Di sejumlah SPBU, antrean kendaraan roda dua masih terlihat mendominasi area pengisian Pertalite. Sebagian pengendara mengaku lebih memperhatikan harga BBM subsidi dibanding perubahan harga BBM non-subsidi karena berhubungan langsung dengan kebutuhan sehari-hari.
Pertamax Disesuaikan, Pertalite Tetap Bertahan
Melalui akun resmi Pertamina, Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, menjelaskan bahwa harga BBM subsidi, yaitu Pertalite dan BioSolar, tidak mengalami perubahan.
Menurutnya, harga Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan BioSolar tetap Rp6.800 per liter sesuai kebijakan yang telah ditetapkan pemerintah.
Sementara itu, penyesuaian dilakukan terhadap sejumlah BBM non-subsidi sebagai respons terhadap perkembangan harga energi global yang terus bergerak dinamis.
Karena itu, Pertamina berupaya menjaga keseimbangan antara kondisi pasar energi dunia dan kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan bahan bakar.
Gejolak Global Jadi Salah Satu Pertimbangan
Dalam beberapa waktu terakhir, harga minyak dunia kembali menghadapi tekanan akibat berbagai dinamika geopolitik internasional.
Ketidakpastian pasokan energi global turut memengaruhi harga minyak mentah yang menjadi salah satu komponen penting dalam penentuan harga BBM non-subsidi.
Menurut Simon, penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan harga minyak di pasar internasional.
Namun demikian, Pertamina tetap memperhatikan daya beli masyarakat sebagai faktor yang tidak kalah penting.
Karena itulah harga BBM subsidi masih dipertahankan.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas aktivitas ekonomi masyarakat yang bergantung pada kendaraan bermotor dalam kehidupan sehari-hari.
Bukan Hanya Soal Harga, Tetapi Juga Ketahanan Energi
Bagi banyak orang, pembahasan mengenai BBM sering kali berhenti pada angka kenaikan atau penurunan harga.
Padahal ada aspek lain yang jauh lebih besar.
Yakni ketersediaan energi.
Di berbagai daerah, mulai dari kota besar hingga wilayah pelosok, pasokan BBM menjadi urat nadi aktivitas ekonomi. Petani membutuhkan solar untuk mendukung kegiatan produksi. Pelaku UMKM memerlukan kendaraan untuk distribusi barang. Sementara jutaan pekerja mengandalkan bahan bakar untuk mobilitas harian.
Pada pagi hari di sejumlah SPBU, misalnya, pengendara ojek online terlihat mengisi tangki sebelum mulai bekerja. Di sisi lain, sopir angkutan barang bersiap mengantar kebutuhan pokok ke pasar-pasar tradisional.
Aktivitas tersebut berlangsung setiap hari.
Karena itu, stabilitas pasokan energi memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
Simon menegaskan bahwa di tengah tantangan global yang terus berkembang, Pertamina bersama pemerintah tetap berkomitmen menjaga ketersediaan energi di seluruh wilayah Indonesia.
Menjaga Keseimbangan di Tengah Ketidakpastian
Kondisi pasar energi global memang tidak selalu mudah diprediksi.
Harga minyak dapat berubah dalam waktu singkat akibat berbagai faktor internasional. Namun di tengah situasi tersebut, pemerintah dan Pertamina berupaya menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi nasional dan kondisi ekonomi masyarakat.
Bagi pengguna Pertalite dan BioSolar, keputusan mempertahankan harga saat ini menjadi kabar yang cukup melegakan.
Sementara bagi pengguna BBM non-subsidi, penyesuaian harga menjadi bagian dari mekanisme yang mengikuti perkembangan pasar energi global.
Pada akhirnya, isu harga BBM tidak hanya berbicara tentang bahan bakar.
Lebih dari itu, isu ini berkaitan dengan mobilitas masyarakat, biaya hidup, aktivitas usaha, dan denyut ekonomi yang bergerak setiap hari di seluruh penjuru Indonesia.
Ketika harga minyak dunia bergerak naik turun, yang sebenarnya dijaga bukan hanya angka di papan SPBU. Lebih dari itu, yang dipertaruhkan adalah kemampuan jutaan masyarakat untuk tetap bekerja, berusaha, dan menjalani hidup dengan tenang di tengah ketidakpastian global. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar