Putra Diky Chandra Menikah, Tak Ada Tamu VIP dan Karpet Merah
- account_circle redaktur
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

Suasana pernikahan putra Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Chandra yang digelar sederhana tanpa tamu VIP di Bogor, sABTU (6/6/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Sabtu pagi, 6 Juni 2026, menjadi hari yang sulit dilupakan bagi keluarga Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Raden Diky Chandra Negara. Di tanggal yang dianggap istimewa oleh banyak pasangan, Pernikahan Putra Diky Chandra berlangsung dalam suasana hangat dan sederhana. Putra sulungnya, Raden Diffa M Chandra, resmi mempersunting Putri Endita dalam prosesi yang digelar di Jonggol, Kabupaten Bogor.
Kabar bahagia itu segera menyebar ke berbagai kalangan di Kota Tasikmalaya. Namun yang menarik perhatian bukan hanya momen pernikahannya. Banyak warga justru menyoroti keputusan keluarga Diky Chandra yang memilih menggelar acara tanpa kemewahan berlebihan, tanpa tamu VIP, dan tanpa perlakuan khusus bagi pejabat.
Di tengah tren pesta megah yang sering menjadi sorotan publik, pilihan tersebut menghadirkan cerita yang berbeda.
Surat Terbuka yang Mengundang Simpati
Menjelang hari pernikahan, Diky Chandra mengirimkan surat terbuka kepada sejumlah pimpinan daerah, anggota DPRD, tokoh masyarakat, serta warga Kota Tasikmalaya.
Isi surat itu sederhana.
Ia tidak mengundang secara khusus.
Serta ia hanya menyampaikan kabar bahagia sekaligus memohon doa agar prosesi pernikahan putranya berjalan lancar dan penuh keberkahan.
Dalam surat tersebut, Diky menjelaskan bahwa keluarga sengaja membatasi jumlah tamu sesuai kemampuan yang dimiliki. Selain itu, tidak ada fasilitas khusus bagi pejabat atau tamu tertentu.
Tidak ada karpet merah.
Tidak ada ruang tamu khusus.
Dan tidak ada perlakuan berbeda.
Semua tamu ditempatkan dalam posisi yang sama.
Keputusan itu diambil untuk menjaga kesederhanaan acara sekaligus menghindari potensi yang dapat menimbulkan persepsi kurang baik, termasuk persoalan gratifikasi.
Ketika Kesederhanaan Menjadi Perbincangan
Di berbagai grup WhatsApp warga Tasikmalaya, kabar pernikahan tersebut mulai beredar sejak pagi. Sebagian warga membagikan potongan surat terbuka yang ditulis Diky Chandra. Sebagian lainnya mengapresiasi sikap keluarga yang memilih fokus pada makna pernikahan dibanding kemeriahan acara.
Di media sosial, percakapan serupa juga muncul.
Ada yang menganggap langkah itu sebagai teladan.
Ada pula yang menilai sikap tersebut menunjukkan bahwa jabatan tidak harus selalu diikuti dengan pesta besar dan seremonial yang berlebihan.
Anehnya, justru kesederhanaan sering kali lebih mudah menyentuh hati masyarakat dibanding kemewahan yang dipertontonkan.
Mungkin karena banyak orang melihat ketulusan di dalamnya.
Momen Bahagia Seorang Ayah
Bagi seorang ayah, pernikahan anak bukan sekadar seremoni.
Ada perjalanan panjang yang terlintas dalam ingatan.
Dari masa kecil yang dulu digendong. Hari pertama masuk sekolah. Hingga akhirnya tiba pada satu hari ketika sang anak memulai kehidupan baru bersama pasangannya.
Perasaan itu sulit dijelaskan.
Dan hampir setiap orang tua pernah merasakannya.
Di Jonggol, suasana bahagia itu menjadi milik keluarga besar Diky Chandra. Di sisi lain, doa-doa juga mengalir dari warga Tasikmalaya yang mengenal sosoknya sebagai tokoh publik sekaligus figur yang cukup dekat dengan masyarakat.
Tanggal 6 Juni 2026 mungkin hanya satu hari dalam kalender.
Namun bagi keluarga pengantin, hari itu akan dikenang sepanjang hidup.
Pernikahan Bukan Tentang Kemewahan
Pernikahan sering kali identik dengan gedung besar, dekorasi mewah, atau daftar tamu yang panjang.
Padahal esensinya jauh lebih sederhana.
Pernikahan adalah tentang dua orang yang sepakat berjalan bersama dalam satu perjalanan panjang.
Tentang komitmen.
Tentang tanggung jawab.
Dan tentang saling menguatkan ketika keadaan tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Karena itu, banyak warga melihat keputusan keluarga Diky Chandra sebagai pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari seberapa besar pesta yang digelar.
Kadang justru lahir dari kesederhanaan yang dijalani dengan tulus.
Dan nilai itu terasa semakin kuat ketika datang dari seseorang yang sedang berada dalam jabatan publik.
Doa untuk Diffa dan Putri Endita
Melalui pesan yang disampaikannya, Diky Chandra berharap putra dan menantunya diberikan kebahagiaan, kelanggengan, serta keberkahan dalam menjalani kehidupan rumah tangga.
Harapan itu tentu menjadi doa banyak orang.
Sebab setiap pernikahan selalu membawa harapan yang sama: kehidupan yang dipenuhi cinta, saling menghormati, dan kemampuan untuk bertahan menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Pada akhirnya, yang akan dikenang dari sebuah pernikahan bukan seberapa mewah dekorasinya atau siapa saja yang hadir di dalamnya. Yang paling lama tinggal dalam ingatan adalah ketulusan dua hati yang memulai perjalanan bersama. Dan pada Sabtu yang hangat di bulan Juni itu, di tengah kesederhanaan yang dipilih dengan sadar, sebuah keluarga baru memulai kisahnya dengan doa-doa yang mengalir dari banyak hati. (GZ)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar