Jalan Lingkar Utara Masih Kotor, Pemkot Tasik Disorot
- account_circle redaktur
- calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
- visibility 23
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kegiatan Jum’at Resik di Jalan Lingkar Utara Kota Tasikmalaya mendapat sorotan dari Plh Wali Kota Tasikmalaya, Jumat (22/5/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Program Jum’at Resik Tasik kembali menjadi sorotan setelah Plh Wali Kota Tasikmalaya, Rd Diky Candranegara, melontarkan kritik tajam terhadap pelaksanaan kegiatan gotong royong di Jalan Lingkar Utara Kota Tasikmalaya.
Menurutnya, kegiatan bersih-bersih yang rutin digelar itu masih terlalu fokus pada seremoni dan pencitraan, namun belum benar-benar menyentuh persoalan utama di lapangan.
“Sayang sekali kalau Jum’at Resik hanya berhenti di seremoni. Jalan Lingkar Utara masih terlihat kotor, saluran air tersumbat, rumput liar belum tertangani. Ini bukan sekadar foto bersama,” tegas Diky, Jumat (22/5/2026).
Pernyataan itu langsung menarik perhatian masyarakat.
Karena kritiknya terasa sangat dekat dengan kondisi sehari-hari.
Jalan Dibersihkan, Tapi Cepat Kotor Lagi
Plh Wali Kota menilai kegiatan kebersihan seharusnya tidak berhenti pada rutinitas formal semata.
Menurutnya, tanpa pengawasan dan tindak lanjut yang konsisten, hasil kerja di lapangan akan cepat hilang begitu kegiatan selesai.
Ia meminta seluruh perangkat daerah hingga unsur kewilayahan benar-benar serius menjadikan kebersihan sebagai tanggung jawab bersama.
Bukan hanya bergerak ketika ada agenda resmi atau kunjungan tertentu.
“Kalau kita serius menjaga kota, maka harus konsisten. Jangan tunggu ada tamu atau ada liputan baru jalan dibersihkan,” ujarnya.
Tidak sedikit warga Tasikmalaya sebenarnya sudah lama mengeluhkan kondisi beberapa titik jalan yang cepat kembali kotor meski baru dibersihkan beberapa hari sebelumnya.
Ada saluran air yang dipenuhi sampah.
Ada pula rumput liar yang tumbuh kembali di pinggir jalan sebelum genap satu minggu.
Dan itu terlihat jelas.
Kritik yang Dianggap Mewakili Suara Warga
Pernyataan Diky dinilai cukup mewakili keresahan sebagian masyarakat soal budaya “bersih dadakan” yang sering muncul menjelang kegiatan resmi.
Belakangan, suasana seperti itu memang terasa familiar di banyak daerah. Jalan mulai dibersihkan ketika ada kunjungan pejabat. Pot bunga mendadak dirapikan. Rumput liar dipangkas cepat-cepat sehari sebelum acara berlangsung.
Namun setelah itu, kondisi perlahan kembali seperti semula.
Kadang sederhana.
Tapi masyarakat bisa melihat bedanya.
Tidak sedikit warga mulai membicarakan kondisi kebersihan kota sambil melintas di Jalan Lingkar Utara setiap pagi atau sore hari.
Ada pengendara motor yang menghindari genangan di dekat saluran tersumbat.
Ada juga pedagang kecil yang mengeluhkan sampah kembali menumpuk di titik tertentu.
Dan pemandangan itu terus berulang.
Jum’at Resik Dinilai Harus Jadi Gerakan Nyata
Diky menegaskan bahwa program Jum’at Resik sebenarnya memiliki tujuan baik jika dijalankan dengan serius dan berkelanjutan.
Menurutnya, gerakan kebersihan harus menjadi budaya bersama, bukan sekadar kegiatan simbolik.
Ia berharap kritik tersebut menjadi bahan evaluasi agar program benar-benar memberi dampak nyata bagi masyarakat dan pengguna jalan.
Karena wajah kota tidak hanya terlihat dari gedung besar atau taman baru.
Tetapi juga dari kebersihan jalan, saluran air, dan lingkungan sehari-hari.
Warga Ingin Perubahan yang Terlihat
Sebagian masyarakat berharap kritik tersebut benar-benar diikuti langkah nyata di lapangan.
Bukan sekadar menjadi pernyataan yang ramai sesaat lalu hilang begitu saja.
Belakangan, media sosial lokal Tasikmalaya juga cukup sering dipenuhi unggahan soal jalan kotor, rumput liar, hingga drainase yang tersumbat setelah hujan turun.
Ada yang mengunggah foto sambil bercanda.
Ada juga yang benar-benar kesal karena kondisi itu mengganggu aktivitas harian.
Dan semuanya terus muncul hampir setiap minggu.
Lucunya, sebagian kota hari ini kadang terlihat paling bersih justru ketika kamera mulai menyala dan pejabat datang meninjau lokasi.
Padahal kebersihan seharusnya terasa setiap hari.
Bukan hanya saat ada dokumentasi.
Kebersihan Kota Jadi Cerminan Keseriusan Pemerintah
Kritik Plh Wali Kota Tasikmalaya menunjukkan bahwa persoalan kebersihan kota bukan hanya soal sampah semata.
Tetapi juga soal konsistensi, pengawasan, dan budaya menjaga lingkungan secara bersama-sama.
Karena kota yang nyaman tidak lahir dari kegiatan seremonial sesaat.
Melainkan dari kerja rutin yang terus dijaga bahkan ketika tidak ada sorotan kamera.
Dan itu yang mulai dituntut masyarakat hari ini.
Kadang wajah asli sebuah kota tidak terlihat saat acara resmi berlangsung.
Tetapi justru terlihat jelas… sehari setelah semua kamera pulang. (GZ)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar