Rezeki Terus Bertambah, Tapi Hati Tetap Gelisah? Tasawuf Punya Penjelasannya
- account_circle redaktur
- calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
- visibility 41
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi seseorang termenung di rumah mewah.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, OPINI – Banyak orang mengejar rezeki. Itu wajar. Namun dalam pandangan ulama tasawuf, tidak semua rezeki membawa ketenangan. Ada yang terlihat besar, tetapi membuat hidup semakin sempit. Ada pula yang tampak sederhana, namun justru menghadirkan rasa cukup yang sulit dijelaskan. Itulah sebabnya pembahasan tentang rezeki tidak berkah mulai banyak dicari, terutama ketika orang merasa hidup makin penuh, tetapi hati tetap kosong.
Dan anehnya, salah satu tandanya justru sering diabaikan.
Hari ini orang bisa membeli hampir apa saja dalam hitungan menit. Makanan datang sebelum rasa lapar benar-benar terasa. Barang diskon muncul bahkan ketika dompet sebenarnya sedang tipis. Orang-orang bekerja lebih lama, tidur lebih sedikit, lalu menyebut kelelahan itu sebagai “bagian dari proses.”
Padahal tubuh mulai gampang marah. Tidur tidak nyenyak. Waktu bersama keluarga terasa makin pendek. Tetapi rekening memang terus bertambah.
Ya sudahlah. Yang penting pemasukan aman.
Di titik itu, ulama tasawuf biasanya mulai mengingatkan sesuatu yang tidak terlalu populer:
tidak semua rezeki yang banyak otomatis membawa keberkahan.
Ketika Rezeki Membuat Hidup Terasa Penuh, Tapi Kosong
Dalam tradisi tasawuf, keberkahan rezeki tidak hanya diukur dari jumlah uang. Ulama lebih sering melihat dampaknya terhadap hati dan kehidupan seseorang.
Apakah hidupnya semakin tenang?
Apakah keluarganya semakin hangat?
Dan apakah ibadahnya semakin baik?
Atau justru sebaliknya.
Ada orang yang penghasilannya naik terus, tetapi emosinya ikut naik. Sedikit masalah langsung meledak. Pulang kerja badan ada di rumah, tetapi pikirannya masih berkeliaran di kantor.
Bahkan sekarang muncul kebiasaan yang terasa aneh kalau dipikir-pikir.
Ada orang yang tetap mengecek notifikasi pekerjaan bahkan saat makan bersama keluarga. Sendok masih di tangan, tetapi pikirannya sudah ada di target besok pagi.
Dan lucunya, itu mulai dianggap normal.
Di beberapa rumah, makan malam tidak lagi penuh obrolan. Anak sibuk dengan video pendek di ponsel. Ayah membalas pesan pekerjaan. Ibu sesekali membuka marketplace karena ada “flash sale tinggal tiga menit lagi.”
Rumah tetap ramai. Tetapi hangatnya seperti pelan-pelan menghilang.
Salah Satu Tanda yang Sering Tidak Disadari
Ulama tasawuf sering menjelaskan bahwa salah satu tanda rezeki tidak berkah adalah:
hati sulit merasa cukup meski kebutuhan terus terpenuhi.
Rumah makin bagus.
Barang makin lengkap.
Tetapi hidup terasa makin sempit.
Ironisnya, banyak orang baru sadar ketika suasana rumah mulai dingin. Percakapan kecil mudah berubah jadi emosi. Tidur terasa capek meski tidak melakukan pekerjaan berat. Bahkan hari libur pun rasanya tetap melelahkan.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
“Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit.”
(QS Thaha: 124)
Banyak ulama menjelaskan bahwa “kehidupan sempit” tidak selalu berarti miskin secara materi. Kadang uang ada. Makanan cukup. Tetapi hati kehilangan rasa tenang.
Dan ya… mungkin memang itu yang sedang banyak dialami orang sekarang. Semuanya bergerak cepat sekali sampai-sampai manusia lupa kapan terakhir benar-benar merasa tenang.
Tasawuf Tidak Mengajarkan Membenci Dunia
Sebagian orang salah memahami tasawuf. Seolah-olah hidup sederhana berarti harus menjauhi dunia dan anti terhadap harta. Padahal banyak ulama tasawuf justru aktif berdagang, bekerja, dan membangun kehidupan.
Tasawuf tidak melarang kaya.
Yang diperingatkan adalah ketika hati mulai diperbudak oleh keinginan yang tidak selesai-selesai.
Rasulullah SAW bersabda:
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati.”
(HR Bukhari dan Muslim)
Karena itu, ulama tasawuf lebih menekankan:
- bagaimana cara mencari rezeki,
- bagaimana cara menggunakannya,
- dan apakah rezeki itu membuat seseorang semakin dekat atau justru semakin jauh dari ketenangan hidup.
Di kampung-kampung dulu, ada orang yang penghasilannya biasa saja tetapi rumahnya terasa hidup. Seusai Magrib terdengar suara anak mengaji pelan dari ruang tengah. Gelas teh manis diletakkan di meja kayu yang sudutnya mulai mengelupas. Tidak mewah memang. Tetapi ada rasa nyaman yang sulit dicari sekarang.
Dan sering kali, justru bagian paling sederhana itu yang pertama hilang.
Ketika Hati Kehilangan Nikmat Hal Kecil
Ulama tasawuf sering mengatakan bahwa hati yang terlalu lelah oleh dunia perlahan kehilangan kemampuan menikmati hal-hal sederhana.
Makan enak terasa biasa.
Liburan cepat membosankan.
Hari libur tetap dipenuhi kecemasan.
Sebagian orang bahkan merasa bersalah kalau duduk tenang terlalu lama. Seolah hidup harus terus sibuk agar terlihat berhasil. Padahal… ya tidak juga sebenarnya.
Mungkin yang lelah bukan tubuhnya.
Mungkin hatinya.
Karena itu, tasawuf selalu mengingatkan satu hal penting:
rezeki terbaik bukan yang paling besar, tetapi yang paling membawa keberkahan.
Dan keberkahan sering tumbuh dari hal-hal yang sekarang mulai jarang dijaga:
- waktu bersama keluarga,
- salat tepat waktu,
- hati yang tidak terlalu rakus,
- serta rasa syukur terhadap hidup yang sederhana.
Kadang hidup terasa sempit bukan karena rezekinya kurang, melainkan karena hati perlahan lupa cara menikmati keberkahan yang sebenarnya sudah ada di rumahnya sendiri.
وَٱللَّٰهُ أَعْلَمُ بِٱلصَّوَابِ
Penulis: Diki Samani (Pemimpin Redaksi AlbadarPost)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar