Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » Lapas Tasikmalaya Cetak Barista, Kopinya Bersaing dengan Kafe

Lapas Tasikmalaya Cetak Barista, Kopinya Bersaing dengan Kafe

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
  • visibility 136
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA DAERAH – Kopi warga binaan dari Lapas Klas IIB Tasikmalaya kini mencuri perhatian. Produk yang juga dikenal sebagai kopi narapidana dan kopi hasil pembinaan lapas ini tidak hanya dikonsumsi internal, tetapi sudah menembus pasar luar, termasuk hotel di Tasikmalaya.

Fenomena ini muncul dari program Giat Bina Mandiri yang dijalankan secara serius. Program tersebut mengubah masa pidana menjadi masa produktif melalui pelatihan keterampilan berbasis industri, salah satunya barista kopi.

Di dalam ruang pelatihan, suara mesin espresso dan grinder terdengar bersahutan. Aroma kopi segar mengisi ruangan, menciptakan suasana yang tidak biasa untuk sebuah lembaga pemasyarakatan.

Dilatih dari Nol hingga Jadi Barista

Program ini tidak berjalan setengah-setengah. Warga binaan dilatih mulai dari dasar. Mereka belajar mengenali jenis biji kopi, teknik roasting, proses grinding, hingga kalibrasi mesin espresso.

Selain itu, mereka juga diajarkan teknik latte art yang membutuhkan ketelitian dan konsistensi. Semua pelatihan dilakukan dengan pendampingan barista profesional yang rutin datang ke lapas.

Pelaksana Harian Kepala Lapas, Yadi Suryaman, menegaskan bahwa program ini menjadi bagian dari perubahan paradigma pemasyarakatan.

“Di sini bukan hanya menjalani hukuman. Mereka belajar, berkarya, dan dipersiapkan untuk mandiri,” ujarnya.

Menurutnya, hasil dari program ini sudah terlihat nyata. Produk kopi yang dihasilkan warga binaan kini mulai diterima pasar.

Kopi Haskana Tembus Hotel, Kualitas Diakui

Brand Gallery of Haskana menjadi wadah utama pemasaran produk kopi tersebut. Nama ini merupakan singkatan dari “Hasil Karya Narapidana”.

Kopi racikan warga binaan bahkan sudah masuk ke beberapa hotel di Tasikmalaya. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas produk tidak bisa dipandang sebelah mata.

Seorang peserta pelatihan mengaku awalnya tidak memiliki pengalaman sama sekali di dunia kopi. Kini, ia mampu meracik espresso hingga membuat latte art dengan tangan yang lebih terampil.

“Dulu hidup saya pahit. Sekarang saya belajar bikin pahit yang enak,” katanya sambil tersenyum.

Pernyataan itu mencerminkan perubahan yang terjadi, bukan hanya pada keterampilan, tetapi juga pada cara pandang terhadap masa depan.

Pemerintah Dorong Naik Kelas dan Perluas Pasar

Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra, turut mencicipi langsung kopi hasil racikan warga binaan. Ia mengapresiasi kualitas produk tersebut.

“Rasanya tidak kalah dengan coffee shop. Ini bukti bahwa pembinaan berjalan efektif,” ujarnya.

Ia juga mendorong agar produk kopi ini naik kelas. Menurutnya, penguatan branding, kemasan, dan jalur pemasaran menjadi langkah penting agar produk bisa bersaing lebih luas.

“Pemkot siap membantu. Publik harus tahu bahwa karya warga binaan memiliki kualitas,” tegasnya.

Lebih dari Sekadar Kopi, Ini Tentang Kesempatan Kedua

Program ini tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga membuka peluang baru bagi warga binaan. Mereka tidak lagi hanya menunggu masa bebas, tetapi mempersiapkan diri untuk kehidupan setelahnya.

Keterampilan yang diperoleh menjadi bekal nyata. Dengan kemampuan tersebut, mereka memiliki peluang untuk bekerja atau membuka usaha sendiri.

Selain itu, program ini juga mengubah persepsi masyarakat. Warga binaan tidak lagi dilihat hanya dari masa lalunya, tetapi juga dari potensi yang dimiliki.

Gallery of Haskana Jadi Simbol Perubahan

Kini, kopi warga binaan dari Gallery of Haskana tidak hanya menjadi produk, tetapi juga simbol perubahan. Dari biji kopi, lahir cerita baru tentang harapan dan kesempatan kedua.

Di balik tembok lapas, proses itu berlangsung perlahan. Setiap cangkir kopi yang disajikan membawa pesan bahwa perubahan selalu mungkin terjadi.

Program Giat Bina Mandiri di Lapas Tasikmalaya menunjukkan bahwa pembinaan dapat menghasilkan dampak nyata. Melalui pelatihan barista, warga binaan tidak hanya belajar keterampilan, tetapi juga membangun masa depan.

Kopi yang mereka racik kini telah menembus pasar, bahkan masuk ke hotel. Hal ini menjadi bukti bahwa kesempatan kedua dapat diwujudkan melalui pembinaan yang tepat.

Dari dalam lapas, aroma kopi itu terus mengepul—membawa harapan yang perlahan tumbuh. (GZ)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • kebakaran Ponpes Al Basyir

    Kebakaran Ponpes Al Basyir Cibungbulang Diduga Akibat Korsleting Listrik, Ratusan Santri Dievakuasi

    • calendar_month Jumat, 31 Okt 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 192
    • 0Komentar

    Kebakaran Ponpes Al Basyir Cibungbulang diduga akibat korsleting listrik, ratusan santri berhasil dievakuasi tanpa korban jiwa. Kebakaran Ponpes Al Basyir Cibungbulang: Ratusan Santri Berlarian Selamatkan Diri albadarpost.com, LENSA – Kebakaran hebat melanda kompleks Pondok Pesantren Al Basyir di Desa Cibatok Dua, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (31/10/2025) siang. Peristiwa ini menggemparkan warga sekitar […]

  • SK PNS palsu

    SK PNS Palsu Bikin Heboh, Ini Cara Agar Tidak Jadi Korban

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 157
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Kasus SK PNS palsu di Gresik mendadak viral dan menyita perhatian publik. Dugaan penipuan CPNS, rekrutmen ASN ilegal, hingga modus surat keputusan palsu kini menjadi sorotan. Peristiwa ini bukan sekadar prank, melainkan praktik penipuan yang merugikan banyak korban secara finansial dan mental. Awalnya, seorang wanita datang ke kantor pemerintah daerah dengan […]

  • Sate Maranggi

    Sate Maranggi dan Jejak Budaya Kuliner Jawa Barat

    • calendar_month Senin, 15 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 189
    • 0Komentar

    Sate Maranggi jadi identitas kuliner Jawa Barat yang menguatkan budaya lokal dan ekonomi daerah. albadarpost.com, FOKUS – Sate Maranggi kembali menegaskan posisinya sebagai kuliner khas Jawa Barat yang bertahan lintas generasi dan wilayah. Hidangan berbahan dasar daging sapi atau kambing ini bukan sekadar makanan populer, tetapi juga penanda identitas budaya yang kini memberi dampak ekonomi […]

  • Rahasia Ikhlas

    Amal Banyak Belum Tentu Bernilai, Ini Penjelasan Al-Hikam

    • calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 139
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH – Bayangkan dua orang melaksanakan salat dengan gerakan yang sama. Keduanya membaca ayat yang sama, rukuk dan sujud pada waktu yang sama. Namun, ketika amal itu sampai di hadapan Allah SWT, nilainya bisa sangat berbeda. Bahkan, salah satunya mungkin tidak mendapatkan apa-apa selain lelah. Mengapa hal itu bisa terjadi? Jawabannya terletak pada rahasia […]

  • jalan Padang–Bukittinggi

    Putusnya Jalan Padang–Bukittinggi Hambat Distribusi Bantuan ke Daerah Bencana

    • calendar_month Sabtu, 29 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 147
    • 0Komentar

    Putusnya jalan Padang–Bukittinggi akibat banjir dan longsor menghambat distribusi bantuan ke wilayah terdampak. Padang–Bukittinggi Putus Total, Ratusan Kilometer Jalur Alternatif albadarpost.com, HUMANIORA – Jalan Padang–Bukittinggi terputus setelah banjir bandang dan tanah longsor menghantam kawasan Lembah Anai, Sumatera Barat, dalam sepekan terakhir. Badan jalan di area pemandian Mega Mendung tergerus arus sungai pada Kamis (27/11). Kondisi […]

  • menunda amal baik

    Ulama Ingatkan Bahaya Menunda Amal Baik dan Dampaknya

    • calendar_month Kamis, 22 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 167
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Menunda amal baik bukan sekadar persoalan waktu, tetapi menyangkut kualitas iman dan arah hidup seorang Muslim. Ulama tasawuf Syekh ‘Athaillah As-Sakandari menegaskan, kebiasaan menunda kebaikan dengan alasan menunggu momen yang lebih tepat merupakan tanda kebodohan yang nyata. Peringatan ini relevan di tengah masyarakat modern yang kerap menunda ibadah, sedekah, dan tanggung jawab […]

expand_less