Perspektif

Malam 27 atau 28? Perbedaan Hitungan Lailatul Qadr, Ini Penjelasannya

albadarpost.com, PERSPEKTIF – Perbincangan mengenai Lailatul Qadr yang berbeda kembali muncul di tengah masyarakat. Tahun ini, sebagian umat Islam menyebut malam ini sebagai malam 27 Ramadan menurut pemerintah dan Nahdlatul Ulama, sementara bagi Muhammadiyah malam yang sama justru dihitung sebagai malam ke-28 Ramadan. Perbedaan ini membuat sebagian orang bertanya-tanya: apakah Lailatul Qadr berbeda bagi masing-masing kelompok?

Bahkan muncul pertanyaan unik di media sosial. Ada yang bertanya apakah malaikat harus memilih antara NU atau Muhammadiyah, apakah malaikat turun dua kali, atau bahkan bolak-balik di dua malam yang berbeda.

Namun dalam pandangan ulama, pertanyaan seperti itu sebenarnya lahir dari kesalahpahaman kecil dalam memahami konsep waktu dalam Islam.

Perbedaan Awal Ramadan Menyebabkan Perbedaan Hitungan

Perbedaan Lailatul Qadr berbeda sebenarnya berawal dari metode penentuan awal bulan Ramadan.

Di Indonesia, pemerintah dan Nahdlatul Ulama biasanya menggunakan metode rukyat, yaitu pengamatan langsung hilal atau bulan sabit pertama.

Sementara itu, Muhammadiyah menggunakan metode hisab, yakni perhitungan astronomi untuk menentukan awal bulan.

Karena metode tersebut berbeda, awal Ramadan kadang bisa berbeda satu hari. Akibatnya, hitungan malam-malam di bulan Ramadan juga ikut bergeser.

Jika awal Ramadan berbeda satu hari, maka hitungan malam ganjil di sepuluh hari terakhir otomatis berbeda pula. Karena itulah muncul perbedaan dalam menentukan malam yang dianggap sebagai malam ke-27 Ramadan.

Lailatul Qadr Tidak Dipastikan Hanya pada Malam 27

Dalam ajaran Islam, sebenarnya tidak ada kepastian bahwa Lailatul Qadr selalu jatuh pada malam ke-27 Ramadan.

Nabi Muhammad SAW justru menganjurkan umat Islam untuk mencarinya pada sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama pada malam-malam ganjil.

Rasulullah SAW bersabda:

“Carilah Lailatul Qadr pada sepuluh malam terakhir Ramadan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain, Nabi juga menegaskan:

“Carilah Lailatul Qadr pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadan.”
(HR. Bukhari)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa tanggal pasti Lailatul Qadr memang tidak disebutkan secara mutlak.

Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadan, bukan hanya fokus pada satu malam tertentu.

Hikmah di Balik Dirahasiakannya Malam Lailatul Qadr

Allah SWT sengaja tidak menjelaskan secara pasti kapan malam Lailatul Qadr terjadi. Para ulama menyebut hal ini sebagai bagian dari hikmah agar umat Islam lebih bersungguh-sungguh beribadah.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadr.”
(QS. Al-Qadr: 1)

Dalam ayat lain disebutkan:

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”
(QS. Al-Qadr: 3)

Ayat tersebut menunjukkan betapa agungnya malam Lailatul Qadr. Nilai ibadah pada malam tersebut bahkan lebih baik dari ibadah selama seribu bulan.

Karena itu, umat Islam dianjurkan menghidupkan malam-malam Ramadan dengan berbagai ibadah seperti shalat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa.

Malaikat Tidak Memilih Kelompok Tertentu

Perbedaan kalender yang terjadi di kalangan umat Islam tidak berarti malaikat harus memilih kelompok tertentu.

Lailatul Qadr terjadi sesuai ketetapan Allah SWT, bukan berdasarkan perhitungan kalender manusia.

Manusia hanya berusaha mendekati waktu tersebut dengan metode ijtihad yang berbeda.

Dalam Al-Qur’an disebutkan:

“Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.”
(QS. Al-Qadr: 4)

Ayat ini menunjukkan bahwa peristiwa turunnya malaikat terjadi pada malam yang telah ditetapkan Allah.

Sementara manusia hanya berusaha mencari dan mendekatinya melalui ibadah.

Fokus Utama adalah Kesungguhan Beribadah

Para ulama menegaskan bahwa perbedaan hitungan malam tidak perlu menjadi perdebatan panjang.

Yang terpenting justru kesungguhan umat Islam dalam menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan.

Jika seseorang mengisi malam-malam tersebut dengan ibadah, doa, dan kebaikan, maka ia telah menjalankan anjuran Rasulullah SAW.

Dengan cara itu, peluang mendapatkan keberkahan Lailatul Qadr akan semakin besar.

Karena itu, umat Islam dianjurkan fokus pada peningkatan ibadah, bukan pada perdebatan mengenai angka malam tertentu.

Perbedaan Tidak Mengurangi Nilai Ibadah

Perbedaan penentuan kalender hijriah merupakan bagian dari ijtihad para ulama.

Hal tersebut tidak mengurangi nilai ibadah seseorang di sisi Allah SWT.

Sebaliknya, perbedaan ini justru menunjukkan bahwa umat Islam memiliki berbagai metode ilmiah dalam menentukan waktu ibadah.

Selama ibadah dilakukan dengan niat yang tulus dan mengikuti tuntunan syariat, maka pahala tetap menjadi hak setiap hamba.

Pada akhirnya, malam Lailatul Qadr bukan sekadar angka dalam kalender. Malam tersebut adalah kesempatan spiritual bagi umat Islam untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

والله أعلم بالصواب

Penulis: Diki Samani (Pemimpin Redaksi AlbadarPost)


Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button