Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Dunia » Arah Baru Menteri Kebudayaan Thailand

Arah Baru Menteri Kebudayaan Thailand

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Kamis, 1 Jan 2026
  • visibility 24
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Arah kebijakan Menteri Kebudayaan Thailand menempatkan budaya sebagai penggerak ekonomi dan identitas publik.

albadarpost.com, BERITA DUNIA – Pagi itu, Sabida Thaiseth melangkah ke kantor Kementerian Kebudayaan Thailand dengan iringan doa. Tidak ada pidato panjang. Tidak pula selebrasi berlebihan. Namun sejak 19 September 2025, langkah itu menandai babak baru arah kebijakan kebudayaan Thailand—lebih dekat ke ekonomi, tetapi tetap bertumpu pada identitas.

Bagi publik, penunjukan Sabida Thaiseth sebagai Menteri Kebudayaan Thailand bukan sekadar rotasi kabinet. Jabatan itu memuat harapan yang lebih konkret: bagaimana kebudayaan tidak berhenti sebagai simbol, tetapi hadir sebagai ruang hidup, kerja, dan penghidupan masyarakat. Terutama di tengah tekanan globalisasi dan perubahan selera generasi muda.

Sabida, politisi Partai Bhumjaithai yang lahir pada 11 Oktober 1984, bukan wajah baru di pemerintahan. Sebelumnya, ia menjabat Wakil Menteri Dalam Negeri hingga pertengahan 2025. Latar belakang hukum membentuk gaya kerjanya: sistematis, berhitung, dan cenderung menghindari jargon kosong. Ia juga kerap disalahpahami berasal dari Thailand Selatan karena beragama Islam, padahal ia adalah anggota parlemen dari wilayah utara Thailand, dengan latar keluarga keturunan Pakistan.

Budaya sebagai Aktivitas Sehari-hari

Dalam sejumlah pernyataan kebijakan awalnya, Sabida menempatkan budaya bukan sebagai barang museum. Ia mendorong konsep “Thai Thai”—sebuah pendekatan yang berupaya membuka potensi budaya lokal agar hadir di ruang publik, pariwisata, dan ekonomi kreatif.

Bagi warga, pendekatan ini terasa dekat. Situs budaya yang selama ini hidup di kampung, namun tak tercatat di peta wisata internasional, mulai dipandang sebagai aset. Ruang seni dimodernisasi agar lebih mudah diakses. Budaya digital dan virtual diperluas agar generasi muda tidak merasa tradisi sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan mereka.

Baca juga: Warga Singapura Dihukum 12 Minggu Penjara

Kebijakan ini bergerak di tingkat keseharian. Dari komunitas, dari daerah, dari ruang-ruang kecil yang selama ini luput dari perhatian negara.

Festival, Film, dan Dampak Ekonomi Lokal

Salah satu penanda arah kebijakan Sabida adalah Thailand Biennale 2025 di Phuket. Festival seni kontemporer itu melibatkan lebih dari 65 seniman dari 25 negara. Bagi pemerintah, ini bukan sekadar pameran seni. Ia diproyeksikan menarik sekitar tiga juta pengunjung dan berpotensi menggerakkan ekonomi hingga 30 miliar baht.

Dampaknya terasa di tingkat lokal. Penginapan, pekerja kreatif, UMKM, hingga sektor jasa ikut bergerak. Di saat yang sama, kebijakan ini memberi ruang bagi seniman lokal untuk berdampingan dengan jejaring global—bukan tersingkir oleh arus besar industri budaya internasional.

Di sektor lain, dukungan terhadap film lokal diperkuat. Negara memberi ruang bagi sineas Thailand untuk mengangkat cerita sendiri, dengan harapan identitas budaya tidak hanya dikonsumsi di dalam negeri, tetapi juga tampil di layar global.

Antara Harapan dan Tantangan

Namun kebijakan kebudayaan tidak selalu berjalan mulus. Tantangan utamanya adalah memastikan semua ini tidak berhenti di pusat wisata dan kota besar. Keterlibatan komunitas lokal, distribusi anggaran, serta keberlanjutan program menjadi pertanyaan yang terus mengiringi.

Baca juga: Melapor Korupsi, Kerap Terasa Berisiko?

Upaya menjadikan Chiang Mai sebagai situs Warisan Dunia UNESCO, misalnya, membuka peluang perlindungan budaya. Tetapi juga menuntut tata kelola yang adil agar warga tidak sekadar menjadi latar bagi proyek besar negara.

Sabida Thaiseth kini berdiri di persimpangan penting. Ia memimpin kementerian yang menghubungkan identitas, ekonomi, dan diplomasi budaya. Keberhasilannya akan diukur bukan dari jumlah festival atau angka kunjungan, melainkan dari sejauh mana kebijakan itu dirasakan warga sebagai bagian dari hidup mereka sendiri.

Kebijakan Menteri Kebudayaan Thailand menempatkan budaya sebagai ruang hidup warga, bukan sekadar simbol negara. (Red/Arrian)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ilustrasi keteguhan Sumayyah binti Khayyat sebagai syahidah pertama dalam Islam yang mempertahankan iman di tengah siksaan

    Keteguhan Sumayyah, Syahidah Pertama dalam Islam

    • calendar_month Rabu, 18 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 15
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Kisah Sumayyah syahidah pertama dalam sejarah Islam bukan sekadar cerita masa lalu. Keteguhan Sumayyah binti Khayyat sebagai syahidah pertama menghadirkan teladan keberanian iman yang tetap relevan hingga kini. Sosok ini dikenal sebagai perempuan yang memilih mempertahankan keyakinan, meski harus menghadapi siksaan berat. Di tengah tekanan kaum Quraisy pada masa awal dakwah Nabi […]

  • Transparansi anggaran

    APBD 2026 Kota Cimahi Dibuka ke Publik

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 15
    • 0Komentar

    Transparansi anggaran APBD 2026 dibuka ke publik untuk menjelaskan tekanan fiskal akibat pemangkasan dana pusat. albadarpost.com, BERITA DAERAH — Pemerintah daerah mulai memperkuat transparansi anggaran dengan membuka informasi APBD 2026 kepada publik melalui berbagai kanal digital. Langkah ini dilakukan di tengah tekanan fiskal akibat pemangkasan dana transfer dari pemerintah pusat yang memengaruhi struktur pendapatan dan […]

  • Ilustrasi perjalanan jiwa manusia dalam psikologi nafsu Islam dari ammarah menuju mutmainnah dengan nuansa reflektif

    Psikologi Nafsu dalam Islam: Peta Batin Manusia yang Tak Pernah Netral

    • calendar_month Selasa, 10 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 15
    • 0Komentar

    albadarpost.com, OPINI – Di era mendatang, manusia akan semakin lihai membaca data, emosi, dan pola pikir. Namun pada saat yang sama, manusia justru kian gagap mengenali batinnya sendiri. Teknologi berkembang cepat, tetapi kegelisahan jiwa mengendap tanpa suara. Di titik inilah Islam hadir dengan tawaran yang jujur sekaligus tajam: psikologi nafsu. Al-Qur’an tidak memulai pembicaraan tentang […]

  • Grafik Indeks Daya Saing Daerah 2025 yang dirilis BRIN untuk mengukur produktivitas dan inovasi 38 provinsi serta 508 kabupaten/kota.

    BRIN Ukur Daya Saing 508 Daerah, Siapa Terdepan?

    • calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 12
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) kembali menjadi sorotan setelah BRIN merilis edisi 2025. IDSD atau indeks daya saing wilayah itu berfungsi mengukur produktivitas, kemandirian, serta kemajuan daerah secara komprehensif. Melalui instrumen tersebut, pemerintah dapat menilai performa pembangunan sekaligus merumuskan kebijakan berbasis data. BRIN menyusun IDSD dengan mengacu pada empat aspek utama […]

  • gaji caregiver Singapura

    Intip Gaji Caregiver di Singapura

    • calendar_month Minggu, 25 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 36
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Peluang kerja luar negeri kembali terbuka bagi lulusan SMA dan SMK. Salah satu sektor yang kini banyak dilirik adalah caregiver di Singapura. Informasi ini menjadi perhatian karena gaji caregiver Singapura dinilai kompetitif dan proses rekrutmennya dilakukan secara resmi. Bagi pencari kerja dengan pendidikan menengah, kesempatan ini memberi harapan baru. Tidak hanya […]

  • Ilustrasi pekerja laki-laki dan perempuan mencerminkan ketimpangan pengangguran berdasarkan data pengangguran BPS terbaru

    Data Pengangguran BPS Ungkap Ketimpangan Gender

    • calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 19
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Data pengangguran BPS kembali membuka potret yang tidak bisa diabaikan. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa pengangguran di Indonesia masih didominasi laki-laki. Fakta ini menegaskan adanya ketimpangan gender yang terus bertahan di pasar kerja nasional. Per November 2025, jumlah pengangguran nasional mencapai jutaan orang. Dari angka tersebut, proporsi pengangguran laki-laki tercatat lebih […]

expand_less