Breaking News
light_mode
Beranda » Humaniora » Omzet Terompet Tahun Baru Turun

Omzet Terompet Tahun Baru Turun

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Jumat, 26 Des 2025
  • visibility 83
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Penjualan Tahun Baru Turun, Ekonomi Rumah Tangga Tertekan dan Empati Sosial Menguat

albadarpost.com, HUMANIORA – Menjelang pergantian Tahun Baru 2026, aktivitas perdagangan terompet dan petasan di Kota Depok, Jawa Barat, mengalami penurunan tajam. Pantauan di Pasar Depok Jaya, Kecamatan Pancoran Mas, menunjukkan suasana yang jauh lebih lengang dibanding tahun-tahun sebelumnya. Penurunan penjualan ini tidak sekadar soal dagangan musiman yang sepi. Ia menjadi cermin tekanan ekonomi rumah tangga sekaligus penanda tumbuhnya empati sosial di tengah masyarakat.

Sejumlah pedagang mengakui penurunan penjualan mencapai sekitar 70 persen. Lapak-lapak yang biasanya ramai sejak beberapa hari sebelum malam tahun baru kini lebih banyak menunggu pembeli. Terompet dan petasan sudah dipajang, namun minat beli tidak kunjung datang. Kondisi ini menandai perubahan nyata pada pola konsumsi warga perkotaan.

Dafin Munaf, pedagang terompet dan petasan di Pasar Depok Jaya, mengatakan penjualan tahun ini jauh lebih rendah dibanding tahun lalu. “Penjualan tahun baru kali ini merosot sekali dibanding tahun kemarin,” ujarnya saat ditemui pada Jumat (26/12/2025). Penurunan itu, menurut Dafin, bukan sekadar fluktuasi biasa, melainkan dampak dari kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

Tekanan Ekonomi Rumah Tangga

Melemahnya daya beli menjadi faktor utama yang dirasakan pedagang. Dalam situasi biaya hidup yang terus meningkat, banyak keluarga memilih menahan pengeluaran yang bersifat konsumtif. Perayaan Tahun Baru tidak lagi menjadi prioritas belanja, terutama bagi rumah tangga dengan pendapatan terbatas.

Baca juga: Muhammad Jazir dan Warisan Tata Kelola Masjid

Penurunan penjualan Tahun Baru ini memperlihatkan cara keluarga mengatur ulang kebutuhan. Belanja untuk terompet dan petasan, yang bersifat simbolik dan sesaat, menjadi pos yang paling mudah dipangkas. Pilihan ini mencerminkan kehati-hatian warga dalam menjaga stabilitas keuangan keluarga di tengah ketidakpastian ekonomi.

Bagi pedagang musiman, kondisi tersebut berdampak langsung. Mereka berada di lapisan paling rentan dalam struktur ekonomi perkotaan. Ketika konsumsi menurun, kelompok inilah yang pertama merasakan dampaknya. Namun, realitas ini juga menunjukkan bahwa masyarakat tidak sedang apatis, melainkan sedang beradaptasi.

Empati Sosial Menggeser Euforia

Selain faktor ekonomi, turunnya penjualan juga dipengaruhi oleh imbauan kepada masyarakat untuk tidak menyalakan petasan dan terompet. Imbauan ini muncul sebagai bentuk empati terhadap musibah bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera. Ajakan tersebut ikut membentuk sikap publik dalam menyambut pergantian tahun.

Dafin menilai imbauan tersebut berdampak pada minat beli masyarakat dan patut diapresiasi. “Bagus. Karena di sana orang lagi kena musibah, tapi kita di sini senang-senang. Kita menghormati,” katanya. Pernyataan ini mencerminkan adanya kesadaran kolektif untuk menempatkan empati di atas euforia.

Fenomena ini menunjukkan perubahan penting dalam perilaku sosial. Perayaan Tahun Baru tidak lagi dimaknai semata sebagai pesta dan keramaian, tetapi juga sebagai momen refleksi. Sebagian warga memilih merayakan secara sederhana, bahkan menahan diri, sebagai bentuk solidaritas terhadap sesama.

Baca juga: Kisah Keteladanan Nabi Ayub AS

Perubahan Pola Konsumsi Publik

Penurunan penjualan terompet dan petasan di Depok memberi gambaran lebih luas tentang perubahan pola konsumsi masyarakat perkotaan. Tekanan ekonomi rumah tangga mendorong warga untuk lebih selektif, sementara empati sosial membentuk sikap yang lebih peka terhadap konteks kemanusiaan.

Bagi pembuat kebijakan, kondisi ini menjadi sinyal penting. Perlambatan konsumsi di sektor mikro perlu dibaca sebagai indikator kesejahteraan warga. Di saat yang sama, tumbuhnya empati sosial menunjukkan modal sosial masyarakat masih kuat dan perlu dijaga.

Menutup tahun dengan suasana yang lebih sunyi bukan selalu pertanda kemunduran. Dalam konteks ini, penurunan penjualan Tahun Baru justru mencerminkan dua hal sekaligus: tekanan ekonomi yang nyata di tingkat keluarga, dan kedewasaan sosial masyarakat dalam memaknai perayaan. Dua realitas ini berjalan beriringan, membentuk wajah baru Tahun Baru yang lebih sederhana, sadar, dan berempati. (Red/Arrian)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Suasana budaya Sunda dalam peringatan Hari Tatar Sunda di Jawa Barat sebagai simbol pelestarian identitas dan warisan leluhur.

    18 Mei Resmi Jadi Hari Tatar Sunda, Jabar Perkuat Identitas Budaya

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 68
    • 0Komentar

    albadarpost.com, CAKRAWALA – Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengambil satu langkah yang sarat makna budaya. Mulai tahun ini, setiap 18 Mei resmi diperingati sebagai Hari Tatar Sunda. Bagi sebagian orang, keputusan itu mungkin terlihat seperti agenda seremonial biasa. Namun bagi masyarakat Sunda, penetapan tersebut menyimpan pesan yang jauh lebih […]

  • Ilustrasi suasana pendidikan Islam abad pertengahan dengan perpustakaan besar dan para pelajar muslim sedang belajar.

    Terungkap! Sistem Pendidikan Islam Sudah Maju Jauh Sebelum Era Modern

    • calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 80
    • 0Komentar

    albadarpost.com, CAKRAWALA – Banyak orang mengira kemajuan sistem pendidikan baru muncul di era modern. Padahal, Pendidikan Islam atau sistem pembelajaran Islam sudah berkembang sangat maju sejak abad pertengahan. Dunia Islam bahkan pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan global ketika Eropa masih berada dalam masa yang sering disebut dark age. Fakta tersebut kini kembali ramai dibahas di […]

  • Ilustrasi makna Kun Fayakun dalam QS Yasin 82 tentang kekuasaan mutlak Allah SWT atas segala sesuatu

    Kun Fayakun: Ketika Manusia Sok Berkuasa

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 90
    • 0Komentar

    albadarpost.com, OPINI – Kun Fayakun bukan sekadar frasa populer yang sering menghiasi ceramah atau status media sosial. Kun Fayakun dalam QS Yasin ayat 82 adalah penegasan mutlak bahwa Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Namun ironisnya, di tengah keyakinan terhadap Kun Fayakun dan kekuasaan Allah tersebut, manusia tetap gemar merasa paling menentukan takdir. Allah SWT […]

  • Polisi Pangandaran membantu wisatawan memperbaiki kunci motor rusak saat Operasi Ketupat Lodaya 2026 di kawasan Pantai Pangandaran.

    Motor Wisatawan Terkunci di Pantai Pangandaran, Aksi Cepat Polisi Ini Bikin Haru

    • calendar_month Kamis, 26 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 82
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Aksi polisi bantu wisatawan Pangandaran kembali menjadi perhatian publik. Kejadian ini memperlihatkan bagaimana aparat kepolisian tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga memberikan pertolongan langsung kepada masyarakat. Dalam momen Operasi Ketupat Lodaya 2026, seorang anggota polisi terlihat membantu wisatawan yang mengalami masalah pada sepeda motor di kawasan wisata Pantai Pangandaran, Rabu (25/3/2026). Peristiwa […]

  • belajar malam di pesantren

    7 Tradisi Santri Belajar Malam di Pesantren

    • calendar_month Sabtu, 4 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 81
    • 0Komentar

    albadarpost.com, CAKRAWALA – Banyak orang mengenal pesantren sebagai tempat mengaji dan belajar agama. Namun, tidak banyak yang mengetahui bagaimana suasana belajar malam di pesantren setelah waktu Isya tiba. Tradisi belajar malam di pesantren, kebiasaan santri pada malam hari, dan aktivitas santri setelah mengaji ternyata menyimpan banyak cerita yang jarang terlihat dari luar. Saat sebagian orang […]

  • simbol aspirasi

    Jalan Berlubang Jadi Kolam, Warga Tebar Lele sebagai Simbol Aspirasi

    • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 90
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL — Aksi tak biasa dilakukan warga Lampung Selatan. Puluhan warga Dusun Banjarjo, Desa Merak Batin, Kecamatan Natar, memprotes kondisi jalan rusak dengan cara menebar ribuan ikan lele ke aspal berlubang. Aksi ini menjadi simbol aspirasi warga atas lambatnya perhatian pemerintah terhadap perbaikan infrastruktur jalan daerah. Jalan yang diprotes warga dipenuhi lubang besar […]

expand_less