Breaking News
light_mode
Beranda » Editorial » Pemkab Tasikmalaya Lambat Digital, Rakyat Bayar Harga Birokrasi

Pemkab Tasikmalaya Lambat Digital, Rakyat Bayar Harga Birokrasi

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Minggu, 14 Des 2025
  • visibility 11
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Editorial Albadarpost: birokrasi manual akibat mandeknya digitalisasi Pemkab Tasikmalaya membebani waktu, biaya, dan hak warga.


Birokrasi Manual dan Harga yang Harus Dibayar Warga

albadarpost.com, EDITORIAL – Ketika digitalisasi Pemkab Tasikmalaya berjalan di tempat, yang paling terdampak bukanlah sistem atau aplikasi, melainkan warga. Proses administrasi yang masih manual memaksa masyarakat membayar biaya sosial yang nyata: waktu terbuang, ongkos bertambah, dan akses layanan publik menjadi tidak setara.

Isu ini penting karena birokrasi bukan ruang netral. Setiap keterlambatan administrasi selalu memiliki konsekuensi sosial. Bagi warga desa, satu dokumen bisa berarti satu hari kerja hilang. Bagi pelaku usaha kecil, keterlambatan izin berarti modal tertahan. Digitalisasi yang mandek menjelma beban harian, bukan sekadar masalah teknis.


Fakta Lapangan: Layanan Lambat, Warga Bolak-Balik

Data menunjukkan, dari 44 perangkat daerah di Kabupaten Tasikmalaya, hanya 12 OPD yang memiliki sistem informasi terintegrasi. Selebihnya masih mengandalkan proses manual atau aplikasi yang tidak saling terhubung.

Akibatnya sederhana tapi mahal. Warga harus datang berulang kali ke kantor berbeda untuk satu urusan. Dokumen yang seharusnya cukup diunggah, masih harus difotokopi. Informasi yang semestinya dapat dilacak daring, hanya bisa ditanyakan langsung.

Dalam konteks pelayanan publik, setiap langkah manual berarti tambahan biaya transportasi, konsumsi, dan waktu. Biaya ini tidak tercatat dalam APBD, tetapi dibayar langsung oleh warga.


Analisis Redaksi: Biaya Sosial yang Tak Pernah Dihitung

Redaksi Albadarpost menilai, kegagalan digitalisasi Pemkab Tasikmalaya telah memindahkan beban birokrasi dari negara ke warga. Negara menghemat dengan tidak menata kelembagaan, warga membayar dengan waktu dan tenaga.

Birokrasi manual selalu melahirkan ketimpangan. Warga yang memiliki waktu, uang, dan akses akan lebih mudah mengurus administrasi. Sementara buruh harian, petani kecil, dan pelaku UMKM berada di posisi paling rentan.

Baca juga: Kominfo Tak Mandiri, Digitalisasi Pemkab Tasikmalaya Tertinggal

Inilah yang disebut biaya sosial birokrasi: kehilangan jam kerja, meningkatnya ongkos tidak langsung, serta stres administratif yang berulang. Dalam jangka panjang, biaya ini menggerus produktivitas dan memperlebar jarak akses layanan publik.

Ironisnya, semua ini terjadi ketika infrastruktur digital sebenarnya sudah tersedia, tetapi tidak terkoordinasi karena Kominfo belum berdiri sebagai dinas mandiri.


Perbandingan Daerah: Digitalisasi Mengurangi Beban Warga

Kabupaten Sumedang, yang memiliki Dinas Kominfo mandiri, mencatat indeks SPBE 3,7. Salah satu dampak nyatanya adalah berkurangnya tatap muka layanan dan meningkatnya kepastian waktu pelayanan.

Perbandingan ini penting. Digitalisasi yang berjalan baik bukan hanya meningkatkan skor indeks, tetapi memangkas biaya sosial warga. Administrasi yang bisa diselesaikan dari rumah mengurangi ongkos transportasi, waktu tunggu, dan potensi praktik percaloan.

Tasikmalaya tertinggal bukan karena kekurangan sumber daya, melainkan karena pilihan kebijakan yang belum berpihak pada efisiensi publik.


Sikap Redaksi: Negara Tak Boleh Membebankan Ketidakberesan ke Warga

Albadarpost berpandangan tegas: biaya sosial akibat birokrasi manual adalah bentuk ketidakadilan struktural. Negara tidak boleh menunda digitalisasi lalu membiarkan warga menanggung akibatnya.

Mengembalikan Kominfo menjadi SKPD mandiri bukan hanya soal tata kelola, tetapi soal keadilan pelayanan. Tanpa dinas penggerak yang kuat, digitalisasi akan terus menjadi jargon, sementara warga tetap bolak-balik kantor.

Redaksi mendorong Pemkab Tasikmalaya menghitung biaya sosial birokrasi sebagai bagian dari evaluasi kebijakan. Waktu warga juga bernilai ekonomi. Jika negara lalai, rakyat yang membayar.


Reflektif

Birokrasi manual selalu punya harga. Sayangnya, harga itu tidak tercantum di papan layanan, melainkan dipungut diam-diam dari warga.

Selama digitalisasi Pemkab Tasikmalaya terus ditunda, negara boleh berhemat di atas kertas, tetapi rakyat terus merugi di kehidupan nyata.

Pelayanan publik yang lambat bukan sekadar tidak efisien, melainkan tidak adil. (Ds)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • motor bgn

    Heboh Motor Listrik BGN 2025, Kepala BGN Bongkar Fakta Sebenarnya

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 32
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Motor BGN menjadi perbincangan hangat setelah video viral beredar di media sosial. Motor BGN, motor listrik BGN, dan pengadaan motor pemerintah langsung menarik perhatian publik. Banyak yang bertanya-tanya, apakah benar jumlahnya puluhan ribu dan sudah dibagikan? Faktanya, klarifikasi resmi justru mengungkap hal yang berbeda dari narasi yang beredar. Informasi ini penting […]

  • pemberdayaan perempuan

    Hari Ibu, Pemkot Tasikmalaya Dorong Pemberdayaan Perempuan

    • calendar_month Senin, 22 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 14
    • 0Komentar

    Pemkot Tasikmalaya menegaskan pemberdayaan perempuan sebagai fondasi pembangunan pada peringatan Hari Ibu 2025. albadarpost.com, BERITA DAERAH – Pemerintah Kota Tasikmalaya menegaskan kembali komitmen pemberdayaan perempuan dalam pembangunan daerah melalui Upacara Peringatan Hari Ibu ke-97 Tahun 2025. Penegasan ini penting karena menyangkut arah kebijakan publik yang menempatkan perempuan sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar pelengkap agenda. Upacara […]

  • Ilustrasi kemacetan jalan raya dengan banyak kendaraan sebagai metafora kehidupan yang penuh tekanan dan pentingnya makna syukur

    Bukan Kurang Nikmat, Tapi Kurang Syukur: Ini Faktanya

    • calendar_month Minggu, 22 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 9
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Makna syukur sering kita ucapkan, tetapi jarang kita rasakan sepenuhnya. Banyak orang memahami syukur sebagai sekadar ucapan “terima kasih,” padahal arti syukur, esensi bersyukur, dan nilai rasa cukup jauh lebih dalam dari itu. Ironisnya, di tengah hidup yang serba cepat, kita justru makin jauh dari makna syukur yang sebenarnya. Padahal, syukur bukan […]

  • risiko gempa Jawa Barat

    Risiko Gempa Jawa Barat Meningkat

    • calendar_month Jumat, 2 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 9
    • 0Komentar

    Risiko gempa Jawa Barat meningkat. Data BMKG menunjukkan gempa jadi ancaman harian bagi keluarga dan komunitas. albadarpost.com, FOKUS – Gempa bumi di Jawa Barat sepanjang 2025 bukan lagi peristiwa sesekali. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 1.242 kejadian gempa terjadi di wilayah ini. Angka tersebut menegaskan satu realitas penting: risiko gempa Jawa Barat […]

  • RUPS BPR Tasikmalaya

    RUPS BPR Tasikmalaya Rumuskan Arah Pembiayaan UMKM 2026

    • calendar_month Rabu, 10 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 10
    • 0Komentar

    RUPS BPR Tasikmalaya bahas arah pembiayaan UMKM dan penguatan peran BPR dalam ekonomi daerah 2026. albadarpost.com, LENSA – RUPS BPR Tasikmalaya kembali menyorot perhatian pemerintah daerah setelah Bupati Tasikmalaya, Cecep Nurul Yakin, memimpin langsung pembahasan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) PD BPR Artha Sukapura Tahun 2026. Rapat yang berlangsung di ruang kerja bupati pada Rabu, […]

  • Kesaktian Pancasila

    Kesaktian Pancasila: Refleksi dan Tantangan Bangsa

    • calendar_month Rabu, 1 Okt 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 19
    • 0Komentar

    albadarpost.com, PERSPEKTIF. Pagi ini, bangsa Indonesia kembali mengenang Kesaktian Pancasila lewat upacara kenegaraan di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya. Di tengah keragaman tantangan zaman, momentum 1 Oktober 2025 menjadi cermin agar nilai-nilai dasar bangsa tak luntur, tapi kokoh sebagai fondasi persatuan. Sejarah dan Latar Peringatan Peringatan Kesaktian Pancasila setiap tanggal 1 Oktober lahir dari kisah […]

expand_less