Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » FOMO dalam Islam: Mengapa Kita Takut Tertinggal dari Orang Lain?

FOMO dalam Islam: Mengapa Kita Takut Tertinggal dari Orang Lain?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Minggu, 27 Sep 2026
  • visibility 61
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Dulu, orang mungkin takut kehilangan kesempatan. Sekarang, FOMO dalam Islam muncul dalam bentuk yang lebih halus: takut tertinggal dari kehidupan orang lain. Istilah fear of missing out atau rasa takut ketinggalan bisa muncul ketika media sosial memperlihatkan teman yang menikah, kenalan yang membeli rumah, seseorang yang membuka usaha, atau orang lain yang tampak menjalani hidup jauh lebih maju.

Kita hanya melihat unggahan selama beberapa detik. Namun, pikiran bisa membawanya berjam-jam.

“Dia sudah sampai sana. Mengapa saya masih di sini?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Akan tetapi, jika terus berulang, kehidupan orang lain perlahan berubah menjadi penggaris untuk mengukur kehidupan sendiri.

Ironisnya, kita sering membandingkan proses hidup sendiri dengan hasil akhir yang orang lain pilih untuk tampilkan.

Ketika Kehidupan Orang Lain Masuk ke Kepala

Media sosial punya kemampuan yang sangat efektif: mempertemukan kita dengan puluhan kehidupan dalam hitungan menit.

Pagi hari melihat teman berlibur.

Siang melihat seseorang membeli kendaraan baru.

Sore muncul kabar kenalan mendapat pekerjaan.

Malam, orang lain mengunggah foto pernikahan.

Kemudian kita menutup aplikasi dan bertanya-tanya mengapa hidup sendiri terasa biasa saja.

Padahal, kita hanya melihat potongan terbaik.

Kita melihat foto wisudanya, tetapi tidak melihat malam-malam panjang ketika ia belajar. Kita melihat bisnisnya berkembang, tetapi tidak mengetahui kerugian yang pernah ia tanggung. Kita melihat pernikahannya, tetapi tidak mengetahui perjalanan panjang sebelum hari bahagia itu.

Lima belas detik unggahan orang lain tiba-tiba kita pakai untuk menghakimi bertahun-tahun kehidupan sendiri.

Di sinilah FOMO menjadi menarik untuk dibawa ke wilayah muhasabah.

FOMO Bukan Sekadar Takut Ketinggalan Tren

FOMO sering kita pahami sebagai takut ketinggalan tren, acara, pengalaman, atau informasi. Namun, dalam kehidupan digital, bentuknya jauh lebih luas.

Seseorang bisa takut tertinggal dalam karier. Orang lain merasa terlambat menikah. Ada yang menganggap bisnisnya terlalu kecil. Sebagian merasa belum cukup kaya. Yang lain merasa tertinggal dalam pendidikan, perjalanan, gaya hidup, bahkan aktivitas keagamaan.

Keinginan untuk berkembang tentu bukan masalah.

Yang perlu diperiksa justru apa yang menggerakkan keinginan tersebut.

Apakah kita ingin maju karena sadar terhadap potensi diri? Atau karena setiap hari melihat pencapaian orang lain lalu merasa kalah?

Perbedaannya tipis, tetapi dampaknya besar.

Dorongan yang sehat membuat seseorang bergerak sambil tetap bersyukur. Sebaliknya, perbandingan tanpa akhir membuat pencapaian baru pun terasa kurang.

Al-Qur’an Mengingatkan Tentang Perlombaan Dunia

QS Al-Hadid ayat 20 mengingatkan bahwa kehidupan dunia mencakup permainan, kesenangan, perhiasan, saling berbangga, serta berlomba dalam harta dan anak. Al-Qur’an kemudian menggambarkan kehidupan dunia seperti tanaman yang tumbuh setelah hujan, lalu mengering dan hancur.

Ayat ini relevan untuk membaca budaya perbandingan di era digital. Namun, kita perlu berhati-hati: ayat tersebut tidak berarti media sosial otomatis buruk.

Persoalannya bukan sekadar aplikasi.

Persoalannya adalah apa yang terjadi pada hati ketika kita terus melihat pencapaian, kemewahan, popularitas, dan gaya hidup orang lain.

Jika sebuah unggahan membuat kita mengambil inspirasi, mungkin kita sedang belajar.

Jika unggahan yang sama membuat kita terus merasa kurang, mungkin kita perlu berhenti sejenak.

Bukan untuk memusuhi media sosial.

Melainkan untuk memeriksa arah hati.

Pembahasan ini menjadi kelanjutan alami dari artikel “Validasi Sosial: Ketika Harga Diri Mulai Bergantung pada Like”. Jika validasi sosial membuat kita bertanya apakah orang lain menyukai kita, FOMO membawa pertanyaan berikutnya: mengapa kehidupan orang lain terasa harus kita kejar?

Rasulullah Mengajarkan Cara Mengatur Pandangan

Ada satu hadis yang sangat relevan dengan persoalan perbandingan sosial.

Dalam Sahih Muslim 2963a, Abu Hurairah ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW mengajarkan agar seseorang yang melihat orang lain lebih unggul dalam harta atau kondisi fisik juga melihat orang yang berada di bawahnya dalam hal tersebut.

Pesannya bukan larangan untuk berkembang.

Justru hadis tersebut mengajarkan cara menjaga perspektif agar seseorang tidak meremehkan nikmat yang telah Allah berikan.

Manusia memang mudah melihat ke atas.

Lebih kaya.

Lebih terkenal.

Lebih sukses.

Lebih populer.

Lebih cepat menikah.

Lebih besar usahanya.

Lebih ramai pengikutnya.

Masalahnya, semakin lama mata terpaku ke atas, semakin mudah kita lupa menghitung nikmat yang sudah berada di tangan sendiri.

Karena itu, menghadapi FOMO tidak cukup dengan berkata, “Jangan iri.”

Kita perlu belajar mengubah arah pandangan.

Tidak semua yang berada di depan mata harus kita kejar.

Al-Hikam: Jangan Sibuk Mengukur Jalan Orang Lain

Di titik inilah Al-Hikam kembali menemukan relevansinya.

Dalam salah satu hikmah Ibnu Athaillah, pembaca diajak melihat kedudukan dirinya di sisi Allah melalui apa yang Allah tegakkan dalam kehidupannya. AlbadarPost telah membahas hikmah tersebut dalam artikel “Ingin Tahu Kedudukanmu di Sisi Allah? Lihat Ini”.

Pesannya dapat menjadi cermin untuk menghadapi FOMO.

Kita boleh memiliki ambisi. Kita boleh membangun bisnis. Kita boleh mengejar pendidikan. Kita boleh memperbaiki ekonomi. Kita bahkan boleh terinspirasi oleh keberhasilan orang lain.

Namun, semua itu tidak harus membuat kita membenci posisi yang sedang Allah berikan hari ini.

Kita bisa maju tanpa membenci kehidupan sendiri.

Kita bisa melihat keberhasilan orang lain tanpa menganggap keberhasilan mereka sebagai bukti kegagalan kita.

Itulah bagian penting dari muhasabah.

Lima Tanda FOMO Mulai Mengganggu

Tidak setiap kebiasaan berikut otomatis berarti seseorang mengalami FOMO. Namun, semuanya bisa menjadi bahan introspeksi.

Pertama, merasa tertinggal setelah melihat unggahan orang lain.

Kehidupan sendiri tiba-tiba terasa kurang hanya karena melihat pencapaian seseorang.

Kedua, sulit menikmati pencapaian sendiri.

Baru mendapatkan sesuatu, tetapi perhatian langsung berpindah kepada orang yang memiliki lebih banyak.

Ketiga, mengikuti tren karena takut dianggap tertinggal.

Bukan karena benar-benar membutuhkan, melainkan karena takut tidak masuk percakapan.

Keempat, mengambil keputusan karena tekanan sosial.

Karier, bisnis, gaya hidup, bahkan keputusan pribadi mulai mengikuti standar lingkungan.

Kelima, terus membandingkan perjalanan hidup.

Umur berubah menjadi angka perlombaan. Penghasilan menjadi papan skor. Pernikahan menjadi tenggat. Rumah dan kendaraan menjadi simbol keberhasilan.

Padahal, kehidupan manusia tidak memakai satu garis finis.

Bagaimana Mengurangi FOMO?

Tidak harus dengan menghapus media sosial.

Mulailah dengan mengurangi kebiasaan membandingkan diri.

Ketika melihat seseorang berhasil, akui keberhasilannya tanpa menganggapnya sebagai kekalahan pribadi. Setelah itu, kembali tanyakan: apa yang sebenarnya sedang saya bangun?

Buat ukuran keberhasilan yang lebih sehat.

Bukan jumlah pengikut.

Bukan usia seseorang ketika mencapai sesuatu.

Bukan pula kehidupan yang terlihat sempurna di layar.

Syukuri apa yang sudah ada. Perbaiki apa yang memang perlu diperbaiki. Lalu berjalan kembali.

Jika media sosial membuat hati terlalu ramai, beri ruang untuk diam. Tidak semua kehidupan harus kita ikuti. Tidak semua tren harus kita kejar. Tidak semua pencapaian orang lain membutuhkan respons dari kita.

Sebab pada akhirnya, FOMO mungkin bukan selalu tentang takut kehilangan sebuah kesempatan.

Kadang kita hanya takut kehilangan kehidupan yang sebenarnya bukan milik kita.

Kita tidak selalu benar-benar tertinggal. Kadang kita hanya terlalu sering melihat kehidupan orang lain.

Kita mengira hidup berjalan lambat, padahal kita terus berhenti untuk menghitung langkah orang lain.

Mungkin masalah terbesar bukan karena jalan kita terlalu panjang, melainkan karena mata kita terlalu sibuk melihat jalan orang lain.

Dan pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting bukan:

“Mengapa hidup saya belum seperti mereka?”

Melainkan:

“Apakah jalan yang sedang saya tempuh membuat saya semakin dekat kepada Allah?” (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less