Al Hikam Ibnu Athaillah: Jangan Merasa Paling Dekat dengan Allah
- account_circle redaktur
- calendar_month 6 jam yang lalu
- visibility 14
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustreasi Al Hikam Ibnu Athaillah tentang ibadah, cinta kepada Allah, dzikir, zuhud, dan makrifat.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Ada orang yang tekun menjalankan ibadah, ada yang menekankan dzikir dan cinta kepada Allah, dan ada pula yang menempuh jalan zuhud serta makrifat. Dalam Al Hikam, Ibnu Athaillah mengingatkan bahwa manusia tidak seharusnya buru-buru merasa paling tinggi hanya karena bentuk ibadahnya berbeda. Sebab, Al Hikam Ibnu Athaillah justru mengajak pembacanya melihat keluasan karunia Allah dan menjaga hati dari sikap meremehkan orang lain.
Pesan ini terdengar sederhana.
Namun, jika direnungkan lebih dalam, isinya cukup menampar.
Manusia memang mudah membuat peringkat. Yang rajin ibadah merasa lebih baik. Yang banyak berdzikir merasa lebih dekat. Yang belajar tasawuf merasa lebih memahami rahasia batin. Bahkan, kadang-kadang seseorang baru melihat penampilan orang lain, lalu merasa sudah mengetahui kualitas imannya.
Padahal, hati manusia bukan papan skor.
Ketika Kesalehan Diam-Diam Berubah Menjadi Perlombaan
Dalam salah satu hikmah Al-Hikam al-‘Atha’iyyah, Ibnu Athaillah menulis:
قَوْمٌ أَقَامَهُمُ الْحَقُّ لِخِدْمَتِهِ، وَقَوْمٌ اخْتَصَّهُمْ بِمَحَبَّتِهِ، كُلًّا نُمِدُّ هَؤُلَاءِ وَهَؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا
Secara ringkas, hikmah tersebut menjelaskan adanya kaum yang Allah tegakkan untuk berkhidmat kepada-Nya dan kaum yang Allah khususkan dengan mahabbah atau kecintaan-Nya. Dalam syarah Syekh Abdul Majid al-Syarnubi, kelompok pertama dijelaskan sebagai ahli ibadah, sedangkan kelompok kedua dikaitkan dengan orang-orang yang memiliki makrifat dan mahabbah.
Namun, bagian paling penting justru berada pada pesan setelahnya.
Jangan meremehkan karunia Allah kepada orang lain.
Syarah tersebut menjelaskan bahwa keduanya tetap berada dalam lingkup pengabdian kepada Allah, meskipun bentuk pengabdiannya berbeda: sebagian lebih banyak tampak melalui amal anggota badan, sementara sebagian lainnya lebih banyak berkaitan dengan keadaan hati.
Dengan kata lain, hikmah ini bukan ajakan untuk meninggalkan ibadah.
Sebaliknya, ia mengajarkan adab dalam melihat perjalanan spiritual manusia.
Sebab, seseorang bisa rajin beribadah tetapi masih harus berjuang melawan kesombongan. Orang lain mungkin tidak banyak bicara tentang maqam spiritual, tetapi diam-diam menjaga keikhlasan dalam kehidupannya.
Manusia melihat yang tampak.
Allah mengetahui yang tersembunyi.
Karunia Allah Tidak Sesempit Penilaian Manusia
Ibnu Athaillah menghubungkan hikmah tersebut dengan firman Allah dalam QS Al-Isra’ ayat 20:
كُلًّا نُّمِدُّ هَٰؤُلَاءِ وَهَٰؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ ۚ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا
Artinya:
“Kepada masing-masing golongan, baik golongan ini maupun golongan itu, Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.”
Ayat tersebut berada dalam rangkaian pembahasan tentang orang yang menghendaki kehidupan dunia dan orang yang menghendaki kehidupan akhirat. Tafsir atas ayat ini menjelaskan bahwa Allah memberikan karunia-Nya kepada berbagai golongan di dunia, sementara ayat berikutnya menegaskan bahwa akhirat memiliki derajat dan keutamaan yang lebih besar.
Karena itu, ayat tersebut tidak tepat jika dipersempit menjadi klasifikasi sederhana antara “ahli ibadah” dan “ahli makrifat”.
Yang dilakukan Ibnu Athaillah adalah menggunakan ayat tersebut untuk menerangi hikmah tentang keluasan pemberian Allah.
Perbedaan ini penting.
Sebab, membaca teks tasawuf tanpa memperhatikan konteks Al-Qur’an bisa membuat pembaca menarik kesimpulan yang terlalu jauh.
Aabid, Zahid, Arif, dan Muhibbin Bukan Medali
Dalam khazanah tasawuf, kita mengenal istilah seperti aabid, zahid, arif, dan muhibbin.
Aabid berkaitan dengan ketekunan beribadah. Zahid berkaitan dengan sikap tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Sementara itu, arif berkaitan dengan makrifat, sedangkan muhibbin menunjuk kepada orang-orang yang menekankan mahabbah atau kecintaan kepada Allah.
Tetapi istilah-istilah tersebut tidak semestinya menjadi medali yang dipasang seseorang untuk mengukur dirinya lebih tinggi daripada orang lain.
Justru di sinilah pesan Al Hikam menjadi relevan.
Semakin seseorang berbicara tentang perjalanan menuju Allah, semakin besar pula tuntutan adabnya.
Ia tidak semestinya merendahkan orang yang ibadahnya belum sebanyak dirinya.
Ia tidak pantas menganggap orang yang bekerja mencari nafkah sebagai orang yang jauh dari Allah.
Ia juga tidak layak merasa lebih suci hanya karena sering berbicara tentang cinta, dzikir, atau makrifat.
Sebab, pengakuan spiritual yang terlalu keras bisa membuat manusia kembali sibuk dengan dirinya sendiri.
Dan itu ironi yang sangat halus.
Cinta kepada Allah Tidak Berarti Meninggalkan Dunia
Ada satu hal yang perlu ditegaskan agar hikmah ini tidak disalahpahami.
Pembicaraan tentang mahabbah, dzikir, dan makrifat bukan alasan untuk meninggalkan kewajiban syariat.
Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS Adz-Dzariyat: 56)
Ayat tersebut menegaskan tujuan ibadah dalam kehidupan manusia.
Karena itu, cinta kepada Allah tidak berhenti pada perasaan batin. Cinta semestinya tercermin dalam ketaatan, akhlak, kejujuran, tanggung jawab, dan perilaku sehari-hari.
Seseorang tetap harus bekerja, menjaga keluarga, memenuhi amanah, membantu sesama, serta menjalankan kewajiban agama.
Justru di situlah ujian spiritual sering kali muncul.
Tidak sulit berbicara tentang cinta kepada Allah ketika sedang duduk dalam majelis.
Yang lebih sulit adalah membawa nilai cinta itu ketika menghadapi uang, kekuasaan, konflik, penghinaan, kepentingan pribadi, atau godaan untuk membalas orang lain.
Jangan Sibuk Mengukur Kedekatan Orang Lain dengan Allah
Pesan Al Hikam Ibnu Athaillah pada akhirnya mengarah kepada satu perkara: jangan mudah menghakimi perjalanan batin orang lain.
Kita boleh belajar dari orang saleh.
Kita boleh mengagumi ahli ibadah.
Kita boleh mengambil manfaat dari ulama dan guru tasawuf.
Namun, kita tetap perlu menyadari batas pengetahuan manusia.
Kita tidak mengetahui seluruh isi hati seseorang.
Kita tidak mengetahui perjuangan batinnya.
Kita juga tidak mengetahui bagaimana akhir perjalanan hidup seseorang.
Karena itu, lebih aman memperbaiki diri daripada sibuk menentukan siapa yang paling dekat dengan Allah.
Barangkali seseorang yang hari ini kita anggap biasa justru memiliki keikhlasan yang tidak pernah kita ketahui.
Sebaliknya, seseorang yang terlihat sangat saleh juga tetap manusia yang membutuhkan rahmat dan ampunan Allah.
Maka, hikmah Ibnu Athaillah tidak seharusnya menjadi alat untuk membuat kasta baru dalam kesalehan.
Ia justru mengajak manusia merendahkan ego di hadapan keluasan karunia Allah.
Pada akhirnya, mungkin inilah tamparan paling halus dari Al Hikam:
Kita sering terlalu sibuk menghitung siapa yang paling dekat dengan Allah, sampai lupa bahwa tugas kita bukan menilai jarak orang lain kepada-Nya, melainkan memperpendek jarak diri sendiri kepada-Nya.
Ibadah bukan alasan untuk sombong. Makrifat bukan alasan untuk merendahkan. Cinta kepada Allah bukan gelar untuk dipamerkan. Sebab, semakin seseorang mengenal kebesaran Allah, semestinya semakin kecil pula ia melihat dirinya sendiri. (Red)
- Penulis: redaktur








Saat ini belum ada komentar