MA Tasikmalaya 2025/2026: Sukarame Punya 2.132 Murid, Tertinggi
- account_circle redaktur
- calendar_month Selasa, 8 Sep 2026
- visibility 30
- comment 0 komentar
- print Cetak

Madrasah Aliyah Al-Muniroh Sukahurip, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Albadarpost.com, BERITA DAERAH – Peta pendidikan MA Tasikmalaya 2025/2026 memperlihatkan ketimpangan skala layanan yang cukup mencolok antar-kecamatan. Menariknya, kecamatan dengan jumlah Madrasah Aliyah (MA) terbanyak ternyata bukan wilayah dengan jumlah murid terbanyak.
Sukarame menjadi contoh paling mencolok. Dengan hanya tiga MA, kecamatan ini mencatat 2.132 murid, tertinggi dalam data yang tersedia.
Data tersebut bersumber dari BPS Kabupaten Tasikmalaya per 26 Februari 2026, melalui tabel statistik pendidikan tentang jumlah satuan pendidikan, kepala sekolah dan guru, serta peserta didik MA di bawah Kementerian Agama menurut kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya tahun ajaran 2025/2026.
Dengan demikian, angka dalam artikel ini bukan perkiraan redaksi. Data disusun berdasarkan tabel statistik BPS yang mencakup MA negeri dan swasta.
100 MA Tersebar di Kabupaten Tasikmalaya
Dari data yang dihimpun, terdapat 100 MA di Kabupaten Tasikmalaya.
Komposisinya cukup timpang. Sebanyak 7 MA berstatus negeri, sedangkan 93 lainnya merupakan MA swasta.
Pada sisi tenaga pendidik, terdapat 1.374 guru, terdiri dari 391 guru MA negeri dan 983 guru MA swasta.
Sementara jumlah peserta didik mencapai 15.560 murid, dengan rincian 6.014 murid MA negeri dan 9.546 murid MA swasta.
Angka tersebut memperlihatkan satu fakta penting: pendidikan MA di Kabupaten Tasikmalaya sangat ditopang oleh lembaga swasta.
Tetapi fakta itu tidak boleh buru-buru diterjemahkan sebagai persoalan atau keunggulan. Data hanya menunjukkan komposisi. Untuk menjelaskan mengapa sekolah swasta jauh lebih dominan, diperlukan penelitian dan data tambahan.
Sukarame Hanya Punya 3 MA, tetapi Muridnya 2.132
Di sinilah data menjadi lebih menarik.
Sukarame hanya memiliki tiga MA, terdiri atas satu MA negeri dan dua MA swasta. Namun jumlah muridnya mencapai 2.132 orang.
Rinciannya, 1.621 murid berada di MA negeri dan 511 murid berada di MA swasta.
Angka itu menempatkan Sukarame di posisi pertama dalam jumlah peserta didik MA berdasarkan data yang diberikan.
Padahal, jika hanya melihat jumlah sekolah, Sukarame bukan kecamatan dengan jumlah MA terbanyak.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa jumlah satuan pendidikan tidak otomatis berbanding lurus dengan jumlah peserta didik.
Berikut lima kecamatan dengan jumlah murid MA terbesar:
| Kecamatan | Jumlah MA | Guru | Murid |
|---|---|---|---|
| Sukarame | 3 | 118 | 2.132 |
| Salopa | 7 | 116 | 1.752 |
| Singaparna | 4 | 122 | 1.633 |
| Ciawi | 1 | 66 | 1.313 |
| Cikalong | 5 | 92 | 826 |
Angka tersebut layak diperhatikan karena memperlihatkan adanya perbedaan besar dalam skala layanan pendidikan antarwilayah.
Namun, angka murid tidak boleh digunakan untuk menentukan MA terbaik. Jumlah peserta didik merupakan indikator kuantitatif, bukan ukuran langsung mutu sekolah.
Salopa dan Pancatengah Justru Punya MA Terbanyak
Jika indikatornya diganti menjadi jumlah sekolah, peta berubah.
Salopa dan Pancatengah sama-sama memiliki tujuh MA, jumlah terbanyak dalam data tersebut.
Namun jumlah muridnya sangat berbeda.
Salopa memiliki 1.752 murid, sedangkan Pancatengah tercatat memiliki 478 murid.
Cikatomas kemudian berada di posisi berikutnya dengan enam MA dan 659 murid.
Cikalong serta Cigalontang masing-masing memiliki lima MA.
Perbandingan ini penting karena menunjukkan bahwa jumlah sekolah tidak cukup untuk menggambarkan besarnya layanan pendidikan.
Sebuah kecamatan bisa memiliki banyak sekolah dengan jumlah murid relatif lebih kecil. Sebaliknya, wilayah dengan lebih sedikit sekolah dapat melayani jumlah peserta didik jauh lebih besar.
Di sinilah statistik pendidikan perlu dibaca secara kritis.
Ciawi: Satu MA, 1.313 Murid
Data lain yang menarik muncul di Ciawi.
Kecamatan ini hanya tercatat memiliki satu MA, dan sekolah tersebut berstatus negeri. Namun jumlah muridnya mencapai 1.313 orang.
Jumlah tersebut bahkan lebih besar daripada sejumlah kecamatan yang memiliki beberapa MA.
Fakta ini kembali memperlihatkan bahwa jumlah sekolah tidak identik dengan kapasitas layanan peserta didik.
Tetapi angka tersebut juga menimbulkan pertanyaan lanjutan yang tidak bisa dijawab hanya dengan tabel BPS: bagaimana rasio guru terhadap muridnya, bagaimana kondisi ruang kelas, bagaimana daya tampung sekolah, dan bagaimana distribusi siswa di dalam satuan pendidikan tersebut?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang semestinya menjadi bahan pendalaman berikutnya.
Ada Kecamatan yang Tidak Tercatat Memiliki MA
Di sisi lain, terdapat sejumlah kecamatan yang dalam data ini tidak tercatat memiliki MA.
Kecamatan tersebut adalah Culamega, Taraju, Puspahiang, Karangjaya, Gunungtanjung, Sukahening, dan Kadipaten.
Namun redaksi perlu memberikan catatan penting.
Angka nol pada tabel MA tidak boleh langsung ditafsirkan sebagai tidak adanya akses pendidikan menengah di kecamatan tersebut.
Sebab data yang sedang dibahas secara spesifik mengukur Madrasah Aliyah, bukan seluruh bentuk pendidikan menengah.
Karena itu, kesimpulan seperti “tidak ada sekolah menengah” akan terlalu jauh dan tidak didukung data.
Dominasi MA Swasta Perlu Dibaca Lebih Dalam
Dari 100 MA yang tercatat, 93 merupakan sekolah swasta.
Dominasi tersebut juga terlihat pada jumlah guru dan murid.
MA swasta memiliki 983 guru dan 9.546 murid, sedangkan MA negeri memiliki 391 guru dan 6.014 murid.
Secara statistik, sekolah swasta memegang porsi besar dalam penyelenggaraan pendidikan MA di Kabupaten Tasikmalaya.
Pertanyaan berikutnya justru lebih penting daripada sekadar menyebut angka tersebut.
Mengapa struktur pendidikan MA di Tasikmalaya sangat didominasi sekolah swasta?
Apakah berkaitan dengan sejarah pendidikan pesantren dan madrasah? Kebutuhan masyarakat? Kebijakan pendidikan? Atau pertumbuhan lembaga pendidikan berbasis masyarakat?
Tabel BPS tidak menjawab pertanyaan itu.
Dan di sinilah batas antara data dan analisis harus tetap dijaga.
Jangan Menyamakan Banyak Murid dengan Mutu Pendidikan
Ada kecenderungan mudah dalam membaca statistik: semakin banyak murid, dianggap semakin baik sekolahnya.
Cara membaca seperti itu harus dihindari.
Sukarame memiliki 2.132 murid. Itu adalah fakta statistik.
Tetapi angka tersebut tidak membuktikan bahwa MA di Sukarame memiliki kualitas paling tinggi.
Begitu pula kecamatan dengan jumlah MA paling banyak tidak otomatis memiliki sistem pendidikan terbaik.
Untuk mengukur kualitas diperlukan indikator lain, seperti akreditasi, hasil belajar, prestasi siswa, sarana-prasarana, rasio guru-murid, kompetensi tenaga pendidik, dan indikator relevan lainnya.
Karena itu, artikel ini menempatkan angka BPS sebagai peta kuantitatif, bukan sebagai pemeringkatan mutu pendidikan.
Peta MA Tasikmalaya Menunjukkan Lebih dari Sekadar Angka
Data MA Tasikmalaya 2025/2026 memperlihatkan bahwa peta pendidikan Kabupaten Tasikmalaya jauh lebih kompleks daripada sekadar menghitung jumlah sekolah.
Salopa dan Pancatengah memiliki jumlah MA terbanyak. Tetapi Sukarame menjadi wilayah dengan jumlah murid terbanyak.
Ciawi bahkan hanya memiliki satu MA, tetapi mencatat 1.313 murid.
Sementara itu, sejumlah kecamatan tidak tercatat memiliki MA dalam tabel yang digunakan.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa statistik pendidikan seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan “berapa sekolah?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
berapa besar masyarakat yang dilayani, bagaimana distribusi tenaga pendidiknya, dan apakah kapasitas layanan tersebut seimbang dengan kebutuhan wilayah?
Data BPS per 26 Februari 2026 memberikan titik awal untuk menjawab pertanyaan itu. Selebihnya membutuhkan analisis, data lapangan, dan keterbukaan dari para pemangku kepentingan pendidikan.
Sebab angka tidak pernah benar-benar diam. Jika dibaca dengan kritis, angka dapat menunjukkan di mana pendidikan tumbuh, siapa yang paling banyak dilayani, sekaligus wilayah mana yang layak ditanya lebih jauh. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar