Breaking News
light_mode
Beranda » Humaniora » Hari Pramuka 2026: Dasa Darma Diuji di Era Digital

Hari Pramuka 2026: Dasa Darma Diuji di Era Digital

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Jumat, 14 Agt 2026
  • visibility 63
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HUMANIORA – Setiap 14 Agustus, Indonesia memperingati Hari Pramuka. Namun, Hari Pramuka 2026 seharusnya tidak berhenti pada upacara, seragam cokelat, kemah, atau ucapan di media sosial. Ketika generasi muda hidup di tengah arus informasi, kecerdasan buatan, dan media sosial, nilai Dasa Darma Pramuka justru menghadapi medan ujian yang baru.

Tahun ini, Gerakan Pramuka memperingati Hari Pramuka ke-65 dengan tema “Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045.” Kwarnas menyebut tema tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat peran Pramuka dalam pembinaan generasi muda dan agenda masa depan bangsa.

Pertanyaannya kemudian bukan sekadar apakah Pramuka masih relevan.

Pertanyaan yang lebih menarik adalah: bagaimana nilai Pramuka diterapkan ketika sebagian besar kehidupan generasi muda juga berlangsung di ruang digital?

14 Agustus dan Perjalanan Gerakan Pramuka

Tanggal 14 Agustus memiliki akar sejarah yang kuat.

Kwartir Nasional mencatat Gerakan Pramuka diperkenalkan secara resmi kepada masyarakat pada 14 Agustus 1961. Momentum tersebut menjadi tonggak penting berdirinya Gerakan Pramuka sebagai organisasi pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan kepanduan di Indonesia.

Dasar kelembagaan Gerakan Pramuka kemudian diperkuat melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka, yang hingga kini berstatus berlaku. UU tersebut menempatkan pendidikan kepramukaan sebagai bagian dari upaya membentuk kepribadian, pengendalian diri, kecakapan hidup, serta karakter generasi muda.

Karena itu, peringatan Hari Pramuka bukan hanya mengenang sebuah tanggal.

Ada pesan pendidikan yang jauh lebih besar di dalamnya.

Dasa Darma Menghadapi Dunia yang Berubah

Generasi Pramuka masa lalu menghadapi tantangan yang berbeda dengan generasi sekarang.

Hari ini, seseorang dapat memperoleh ribuan informasi hanya melalui telepon genggam. Dalam beberapa detik, sebuah kabar dapat menyebar ke banyak orang. Kecerdasan buatan bahkan memungkinkan seseorang membuat teks, gambar, audio, hingga video dengan sangat cepat.

Teknologi memberikan manfaat besar.

Namun, teknologi juga menguji karakter.

Kejujuran, misalnya, tidak hanya diuji ketika seseorang berbicara secara langsung. Kejujuran juga diuji ketika seseorang menerima informasi yang belum jelas sumbernya.

Tanggung jawab tidak hanya berlaku saat mengikuti kegiatan kelompok. Nilai itu juga muncul ketika seseorang mempertimbangkan dampak sebelum mengunggah sesuatu.

Begitu pula kedisiplinan. Tantangannya bukan hanya datang tepat waktu saat latihan, tetapi juga mampu mengendalikan penggunaan gawai agar teknologi tidak mengendalikan dirinya.

Di sinilah Dasa Darma Pramuka menemukan medan pengujian baru.

5 Dasa Darma di Era Digital

Nilai kepramukaan tidak harus berhenti pada kegiatan lapangan. Nilai tersebut dapat diterjemahkan ke dalam kebiasaan sehari-hari, termasuk ketika generasi muda menggunakan internet.

1. Takwa kepada Tuhan: gunakan teknologi dengan tanggung jawab

Teknologi merupakan alat, bukan tujuan hidup.

Menggunakan media sosial, AI, dan internet secara bertanggung jawab berarti mempertimbangkan apakah tindakan tersebut membawa manfaat atau justru merugikan diri sendiri dan orang lain.

Karakter tetap menjadi pengendali ketika teknologi menawarkan banyak pilihan.

2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia: jangan jadikan internet ruang untuk menyakiti

Komentar kasar mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk ditulis. Namun, dampaknya bagi orang lain bisa jauh lebih lama.

Karena itu, menghormati orang lain juga berlaku di ruang digital.

Tidak melakukan perundungan, tidak mempermalukan orang lain, dan tidak menyebarkan konten yang merugikan merupakan bentuk sederhana dari kepedulian terhadap sesama.

3. Patriot yang sopan dan kesatria: kritis tanpa kehilangan etika

Perbedaan pendapat merupakan bagian dari kehidupan.

Di media sosial, seseorang dapat berhadapan dengan pandangan yang berbeda setiap hari. Namun, berbeda pendapat tidak berarti harus menghina.

Generasi muda membutuhkan keberanian untuk menyampaikan pendapat sekaligus kemampuan menjaga kesopanan.

4. Rela menolong dan tabah: gunakan teknologi untuk membantu

Teknologi juga dapat menjadi sarana kebaikan.

Pelajar dapat berbagi materi belajar. Komunitas dapat menyebarkan informasi kebencanaan. Relawan dapat menggalang bantuan. Bahkan AI dapat membantu seseorang memahami materi yang sulit jika digunakan secara bertanggung jawab.

Dengan demikian, teknologi tidak hanya menghasilkan konten.

Teknologi juga dapat menghasilkan manfaat.

5. Hemat, cermat, bersahaja, disiplin, bertanggung jawab: jangan mudah percaya

Salah satu tantangan terbesar era digital adalah banjir informasi.

Tidak semua informasi benar. Tidak semua gambar autentik. Tidak semua jawaban AI akurat.

Karena itu, generasi muda perlu membiasakan diri memeriksa sumber sebelum membagikan informasi.

Kebiasaan sederhana tersebut merupakan bentuk nyata kecermatan dan tanggung jawab.

Pramuka Tidak Cukup Hanya Pandai Berkemah

Keterampilan berkemah, tali-temali, navigasi, pertolongan pertama, dan kegiatan alam tetap memiliki tempat penting dalam pendidikan kepramukaan.

Namun, tantangan zaman telah berkembang.

Generasi muda juga membutuhkan kecakapan digital, kemampuan berpikir kritis, literasi informasi, serta etika ketika menggunakan teknologi.

UU Nomor 12 Tahun 2010 sendiri menempatkan pendidikan kepramukaan sebagai proses yang meningkatkan kemampuan spiritual dan intelektual, keterampilan, serta ketahanan diri melalui metode belajar yang interaktif dan progresif.

Karena itu, Pramuka yang adaptif bukan berarti meninggalkan tradisi.

Sebaliknya, nilai lama diterapkan untuk menghadapi persoalan baru.

Dari Dasa Darma ke Etika Menggunakan AI

Kecerdasan buatan menghadirkan tantangan yang semakin nyata.

Seorang pelajar dapat meminta AI membuat tugas. Seorang pembuat konten dapat menggunakan AI menghasilkan gambar. Masyarakat dapat meminta mesin menjawab pertanyaan dalam hitungan detik.

Pertanyaannya bukan sekadar apakah teknologi tersebut boleh digunakan.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apakah kita menggunakannya dengan jujur dan bertanggung jawab?

Menggunakan AI untuk membantu memahami pelajaran berbeda dengan mengakui hasil mesin sebagai karya sendiri tanpa proses belajar.

Menggunakan AI untuk mencari ide juga berbeda dengan menyebarkan informasi yang belum diverifikasi.

Di sinilah nilai Pramuka kembali relevan.

Teknologi boleh semakin pintar. Manusia tetap membutuhkan karakter.

Hari Pramuka 2026 dan Arah Menuju Indonesia Emas

Tema Hari Pramuka ke-65 tahun 2026 tidak berhenti pada persoalan organisasi. Kwarnas mengaitkannya dengan swasembada pangan dan Indonesia Emas 2045.

Pesan tersebut menarik karena masa depan bangsa tidak hanya bergantung pada teknologi.

Indonesia juga membutuhkan generasi yang mampu bekerja sama, peduli lingkungan, mandiri, disiplin, dan mau menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat.

Karena itu, Pramuka dapat menjadi ruang untuk menghubungkan karakter dengan aksi.

Anak muda tidak cukup hanya mengetahui persoalan pangan. Mereka perlu belajar bagaimana menjaga lingkungan, menghargai petani, mengurangi pemborosan, dan bekerja bersama masyarakat.

Begitu pula dalam isu digital.

Generasi muda tidak cukup hanya mahir menggunakan teknologi. Mereka harus memahami konsekuensi penggunaannya.

Hari Pramuka Seharusnya Menjadi Cermin

Pada akhirnya, peringatan Hari Pramuka 2026 mengajak kita melihat kembali makna pendidikan karakter.

Seragam bisa dilepas setelah kegiatan selesai.

Kegiatan kemah juga memiliki waktu berakhir.

Namun, karakter seharusnya ikut pulang dan hidup dalam keseharian.

Ketika seorang anak memilih tidak menyebarkan hoaks, di situlah nilai Pramuka bekerja.

Ketika seorang pelajar menolak menyontek meski memiliki akses terhadap AI, di situlah karakter diuji.

Ketika seorang pengguna media sosial berbeda pendapat tanpa menghina, di situlah Dasa Darma menemukan bentuk barunya.

Karena itu, pertanyaan “masih relevankah Pramuka?” sebenarnya bukan pertanyaan yang paling penting.

Pertanyaan yang lebih tepat:

“Seberapa jauh nilai Pramuka masih hidup dalam perilaku generasi muda?”

Hari Pramuka 2026 bukan sekadar peringatan pada 14 Agustus. Momentum ini menjadi kesempatan untuk melihat kembali bagaimana nilai-nilai kepramukaan menghadapi perubahan zaman.

Gerakan Pramuka telah memasuki perjalanan panjang sejak diperkenalkan secara resmi pada 14 Agustus 1961. Kini, tantangannya bukan hanya mempertahankan tradisi, tetapi memastikan pendidikan karakter tetap relevan bagi generasi yang hidup bersama internet, media sosial, dan AI.

Dasa Darma tidak kehilangan makna.

Justru, dunia digital memberikan ruang baru untuk membuktikannya.

Kejujuran diuji saat menerima informasi. Tanggung jawab diuji sebelum menekan tombol “bagikan”. Kesopanan diuji ketika berdebat. Kecermatan diuji ketika berhadapan dengan AI. Dan kepedulian diuji ketika melihat orang lain membutuhkan bantuan.

Seragam Pramuka mungkin hanya dikenakan pada hari tertentu. Namun, karakter tidak mengenal hari libur.

Sebab Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi yang pintar menggunakan teknologi, tetapi juga generasi yang tahu kapan harus berhenti, berpikir, memeriksa, dan memilih yang benar. Jika Dasa Darma mampu hidup di layar yang kita genggam setiap hari, maka Pramuka bukan sekadar warisan masa lalu—ia masih menjadi kompas untuk masa depan. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • pelantikan pejabat tasikmalaya

    262 ASN Dilantik Sekaligus, Langkah Berani Bupati Tasikmalaya

    • calendar_month Rabu, 18 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 194
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Sebanyak 262 pejabat berdiri, mengucap sumpah, lalu resmi dilantik dalam satu waktu. Sekilas terlihat megah. Terlihat serius. Bahkan terasa penuh harapan. Namun di balik itu semua, muncul pertanyaan yang tidak semua orang berani ucapkan:apakah pelantikan pejabat Tasikmalaya ini benar-benar membawa perubahan, atau hanya rutinitas birokrasi yang diulang kembali? Fenomena Besar yang […]

  • Perlindungan anak

    Hari Anak Nasional 2026: Anak Indonesia Masih Belum Aman

    • calendar_month Rabu, 22 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 88
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Indonesia kembali memperingati Hari Anak Nasional 2026. Namun, di balik berbagai kegiatan seremonial, lomba, dan kampanye bertema anak, muncul satu pertanyaan yang belum juga menemukan jawaban tuntas: mengapa perlindungan anak masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Indonesia? Pertanyaan itu bukan sekadar renungan. Hampir setiap pekan masyarakat masih disuguhi kabar tentang kekerasan terhadap […]

  • kabut asap

    Kabut Asap Kalimantan Terpantau ke Sarawak, 591 Sekolah Ditutup

    • calendar_month Sabtu, 22 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 23
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Kabut asap Kalimantan kini menjadi perhatian di kawasan Borneo setelah asap lintas batas terpantau bergerak menuju Sarawak, Malaysia. Di tengah memburuknya kabut asap dan kualitas udara, 591 sekolah di Sarawak ditutup dan 197.323 siswa terdampak. Pada saat yang sama, data yang dikutip otoritas lingkungan Sarawak menunjukkan terdapat 7.286 titik panas di […]

  • layanan keimigrasian

    Paspor Nomor Tunggal Ujian Negara Benahi Layanan Keimigrasian

    • calendar_month Senin, 12 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 173
    • 0Komentar

    Paspor satu nomor seumur hidup menguji reformasi layanan keimigrasian dan kepastian identitas warga Indonesia. albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Pemerintah berencana menerapkan paspor satu nomor seumur hidup bagi seluruh warga negara. Kebijakan ini terlihat teknis, tetapi dampaknya langsung menyentuh urusan paling konkret: layanan keimigrasian yang selama ini sering merepotkan warga dalam perjalanan lintas negara. Selama bertahun-tahun, […]

  • puding merah putih

    Puding Merah Putih 2 Lapis, Simpel untuk 17 Agustus

    • calendar_month Sabtu, 15 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 63
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Puding merah putih bisa menjadi pilihan sajian sederhana untuk memeriahkan 17 Agustus. Dengan dua lapisan yang kontras, resep puding merah putih ini tidak membutuhkan banyak bahan dan dapat dibuat untuk keluarga, arisan RT, pengajian, hingga acara Agustusan. Tidak perlu membuat tumpeng besar atau menyiapkan dessert dengan banyak hiasan. Cukup gunakan agar-agar, susu, […]

  • Bobotoh Persib

    Persib di Ambang Juara, Polres Ciamis Ingatkan Bobotoh

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 160
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Atmosfer pertandingan Persib vs Persijap mulai terasa panas menjelang laga terakhir Super League 2025/2026 yang akan berlangsung di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), 23 Mei 2026. Di tengah peluang besar Persib Bandung mengunci gelar juara, Polres Ciamis mengeluarkan imbauan khusus kepada para Bobotoh Persib agar tetap menjaga keamanan, ketertiban, dan […]

expand_less