Tugu Koperasi Tasikmalaya Bersiap Menjadi Ikon Baru
- account_circle redaktur
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

Menteri Koperasi Ferry Juliantono, Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Wali Kota Tasikmalaya menghadiri pencanangan revitalisasi Kawasan Tugu Koperasi dan Gedung Kongres Koperasi 1947 di Tasikmalaya, Minggu (26/7/2026). (Foto: Kemenkop).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Selama bertahun-tahun, Tugu Koperasi Tasikmalaya lebih dikenal sebagai penanda sejarah perjalanan koperasi Indonesia. Banyak masyarakat melewati kawasan tersebut setiap hari, tetapi belum banyak yang mengetahui bahwa tempat itu menyimpan jejak penting lahirnya gerakan koperasi nasional setelah Indonesia merdeka. Kini, kawasan bersejarah itu memasuki babak baru. Pemerintah ingin menghidupkannya kembali, bukan hanya sebagai monumen, melainkan sebagai ruang publik yang aktif, pusat edukasi, destinasi wisata sejarah, sekaligus penggerak ekonomi rakyat.
Komitmen tersebut ditandai melalui Pencanangan Revitalisasi Kawasan Tugu Koperasi dan Gedung Kongres Koperasi 1947 yang digelar Kementerian Koperasi bersama Kementerian Kebudayaan, Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin), Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan Pemerintah Kota Tasikmalaya, Minggu (26/7/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Hari Koperasi Nasional ke-79.
Jejak Kongres Koperasi yang Membentuk Sejarah Indonesia
Kawasan Tugu Koperasi bukan sekadar ruang terbuka di tengah Kota Tasikmalaya.
Di lokasi inilah berdiri Gedung Kongres Koperasi 1947, tempat berlangsungnya Kongres Koperasi Indonesia pada masa awal kemerdekaan. Kongres tersebut menjadi salah satu tonggak penting yang memperkuat arah gerakan koperasi sebagai bagian dari pembangunan ekonomi nasional.
Karena nilai sejarahnya yang tinggi, kawasan ini tidak hanya penting bagi masyarakat Tasikmalaya, tetapi juga memiliki arti strategis dalam perjalanan koperasi Indonesia.
Kesadaran terhadap nilai sejarah inilah yang melatarbelakangi upaya revitalisasi kawasan agar tetap hidup dan relevan bagi generasi masa kini.
Bukan Hanya Dirawat, Tetapi Dihidupkan Kembali
Menteri Koperasi Dr. Ferry Juliantono, S.E., Ak., M.Si. menegaskan bahwa revitalisasi tidak berhenti pada penataan fisik kawasan.
Menurutnya, pemerintah ingin menghadirkan ruang publik yang mampu mempertemukan sejarah, budaya, pendidikan, ekonomi kreatif, dan aktivitas masyarakat.
“Kita berharap, Kawasan Tugu Koperasi dapat menjadi ikon baru di Kota Tasikmalaya, sekaligus menjadi landmark serta ruang publik bagi masyarakat, khususnya anak-anak muda, Gen Z, dan milenial,” ujar Ferry Juliantono.
Konsep tersebut diharapkan membuat generasi muda tidak hanya mengenal sejarah koperasi melalui buku pelajaran, tetapi juga melalui pengalaman langsung ketika berkunjung dan beraktivitas di kawasan tersebut.
Dengan demikian, sejarah tidak berhenti menjadi cerita masa lalu, melainkan hadir sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.
Fadli Zon Dorong Penetapan Sebagai Cagar Budaya Nasional
Dukungan terhadap revitalisasi juga datang dari Menteri Kebudayaan Fadli Zon.
Ia menyebut Kawasan Tugu Koperasi sebagai titik nol gerakan koperasi Indonesia pada masa kemerdekaan yang memiliki nilai historis tinggi.
Karena itu, Kementerian Kebudayaan mendukung proses penetapan kawasan tersebut sebagai cagar budaya nasional.
Menurut Fadli Zon, kawasan ini layak dikembangkan sebagai living heritage atau situs budaya yang hidup.
Artinya, pelestarian tidak hanya menjaga bangunan bersejarah, tetapi juga menghidupkan aktivitas budaya, edukasi, dan ekonomi sehingga masyarakat dapat merasakan manfaatnya secara langsung.
Membuka Peluang Baru bagi Pariwisata dan UMKM Tasikmalaya
Revitalisasi kawasan juga diproyeksikan membawa dampak ekonomi bagi Kota Tasikmalaya.
Dengan konsep ruang publik yang aktif, kawasan Tugu Koperasi berpeluang berkembang menjadi destinasi wisata sejarah sekaligus pusat kegiatan budaya dan ekonomi kreatif.
Kehadiran wisatawan diperkirakan akan memberikan peluang bagi pelaku UMKM, pedagang lokal, pengrajin, komunitas seni, hingga sektor jasa di sekitar kawasan.
Bagi masyarakat Tasikmalaya, revitalisasi ini juga menjadi kesempatan memperkuat identitas kota sebagai salah satu daerah yang memiliki kontribusi penting dalam sejarah koperasi Indonesia.
Apabila pengelolaannya dilakukan secara berkelanjutan, kawasan tersebut berpotensi menjadi landmark baru yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga menggerakkan ekonomi rakyat.
Merawat Masa Lalu untuk Membangun Masa Depan
Revitalisasi Tugu Koperasi menunjukkan bahwa pelestarian sejarah tidak harus berhenti pada konservasi bangunan.
Sebaliknya, sejarah dapat menjadi fondasi untuk menciptakan ruang publik yang produktif, edukatif, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, Dekopin, dan berbagai pemangku kepentingan menjadi langkah awal untuk mewujudkan tujuan tersebut.
Kini, tantangan berikutnya adalah memastikan kawasan ini benar-benar hidup, ramai dikunjungi, dan menjadi ruang yang mampu menghubungkan sejarah dengan masa depan.
Monumen hanya akan menjadi batu yang diam jika tidak diberi kehidupan. Namun, ketika sejarah bertemu dengan ruang publik, pendidikan, budaya, dan ekonomi rakyat, sebuah kawasan dapat berubah menjadi simbol kebangkitan. Revitalisasi Tugu Koperasi Tasikmalaya bukan sekadar merawat warisan masa lalu, tetapi membuka jalan bagi lahirnya masa depan yang lebih bernilai bagi generasi berikutnya. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar