Breaking News
light_mode
Beranda » Humaniora » Konflik Rumah Tangga Tak Selalu Buruk, Ini Penjelasan Kemenag

Konflik Rumah Tangga Tak Selalu Buruk, Ini Penjelasan Kemenag

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
  • visibility 25
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HUMANIORA — Tidak sedikit pasangan menganggap rumah tangga yang bahagia adalah rumah tangga yang tidak pernah bertengkar. Padahal, konflik rumah tangga, konflik dalam pernikahan, dan perbedaan pendapat merupakan bagian yang hampir selalu hadir dalam kehidupan suami istri. Yang membedakan setiap pasangan bukan ada atau tidaknya konflik, melainkan cara mereka mengelolanya.

Pandangan tersebut sejalan dengan materi yang disampaikan dalam Modul Psikologi Keluarga Bimbingan Perkawinan Kementerian Agama. Modul tersebut menjelaskan bahwa konflik tidak harus dihindari sepenuhnya. Sebaliknya, konflik dapat menjadi ruang belajar bagi pasangan untuk memperkuat komunikasi, membangun saling pengertian, dan menemukan solusi bersama.

Artinya, pernikahan yang sehat bukan diukur dari seberapa jarang terjadi perbedaan pendapat, tetapi dari kemampuan suami dan istri menghadapi perbedaan dengan kepala dingin.

Mengapa Konflik Rumah Tangga Sulit Dihindari?

Dalam kehidupan sehari-hari, perdebatan kecil sering muncul dari hal-hal yang tampak sederhana. Ada pasangan yang berbeda pandangan soal pengelolaan keuangan, pembagian pekerjaan rumah, pola asuh anak, hingga cara berkomunikasi dengan keluarga besar.

Di sisi lain, tekanan pekerjaan, kondisi ekonomi, kelelahan fisik, dan tuntutan kehidupan modern juga dapat memengaruhi emosi seseorang. Akibatnya, persoalan kecil yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan baik justru berkembang menjadi konflik yang lebih besar.

Berdasarkan Modul Psikologi Keluarga Bimbingan Perkawinan Kemenag, beberapa penyebab konflik dalam rumah tangga antara lain:

  • Perbedaan status, posisi, atau cara pandang.
  • Kebutuhan pasangan yang belum terpenuhi.
  • Perbedaan kebiasaan dan budaya keluarga.
  • Perbedaan peran serta tanggung jawab.

Perbedaan tersebut bukan untuk dipertentangkan. Sebaliknya, pasangan perlu memahaminya sebagai bagian dari proses saling mengenal sepanjang perjalanan pernikahan.

Komunikasi Menentukan Arah Konflik

Banyak konflik sebenarnya tidak muncul karena persoalan yang besar, melainkan karena cara menyampaikan pendapat.

Seseorang mungkin merasa sedang menjelaskan sesuatu. Namun, pasangan justru merasa dihakimi. Ada pula yang memilih diam karena takut suasana semakin memanas. Akibatnya, persoalan yang sederhana berubah menjadi beban yang terus menumpuk.

Modul Psikologi Keluarga Bimbingan Perkawinan Kemenag menggambarkan empat tingkatan komunikasi saat konflik.

Tahap pertama adalah Talking Nice, yaitu komunikasi yang masih sebatas basa-basi sehingga persoalan inti belum benar-benar dibahas.

Berikutnya adalah Talking Tough, ketika masing-masing mulai mempertahankan pendapatnya. Pada tahap ini, emosi sering lebih dominan dibanding upaya memahami pasangan.

Komunikasi kemudian berkembang menjadi Reflective Dialogue, yaitu ketika suami dan istri mulai saling mendengar, memahami sudut pandang satu sama lain, dan tidak lagi terburu-buru menyimpulkan.

Tahap yang paling ideal ialah Generative Dialogue. Dalam fase ini, pasangan tidak lagi fokus mencari siapa yang salah, melainkan bersama-sama mencari solusi terbaik.

Semakin berkualitas dialog yang dibangun, semakin besar pula peluang konflik berakhir dengan saling memahami.

Tiga Racun Komunikasi yang Perlu Dihindari

Modul tersebut juga mengingatkan adanya tiga pola komunikasi yang dapat memperburuk hubungan apabila terus dipelihara.

Pertama adalah Voice of Judgment atau suara penghakiman. Ketika seseorang lebih cepat menyalahkan daripada mendengarkan, pasangan akan merasa tidak dihargai. Penawarnya ialah Open Mind, yakni membuka pikiran untuk mendengar secara utuh sebelum memberikan penilaian.

Kedua ialah Voice of Cynicism atau sikap sinis. Sindiran, ejekan, atau ucapan yang meremehkan memang terkadang dianggap bercanda. Namun, jika terus berulang, sikap tersebut dapat mengikis rasa hormat dalam hubungan. Karena itu, pasangan perlu membangun Open Heart, yaitu hati yang penuh empati dan penghargaan.

Sementara itu, racun ketiga adalah Voice of Fear. Tidak sedikit pasangan memilih memendam perasaan karena takut konflik semakin besar. Padahal, diam terlalu lama justru dapat memperlebar jarak emosional. Penawarnya adalah Open Will, yaitu keberanian membangun komitmen untuk menyelesaikan masalah bersama.

Cara Mengelola Konflik Rumah Tangga dengan Bijak

Konflik tidak selalu harus berakhir dengan pertengkaran. Ada sejumlah langkah sederhana yang dapat diterapkan agar perbedaan menjadi kekuatan dalam hubungan.

Pertama, lihat setiap perbedaan sebagai kesempatan untuk saling melengkapi, bukan sebagai ancaman.

Selanjutnya, usahakan mencari solusi yang menguntungkan kedua belah pihak atau win-win solution, bukan kemenangan sepihak.

Selain itu, biasakan memahami pasangan sebelum berharap dipahami. Sikap ini akan membantu menurunkan ketegangan saat berdiskusi.

Pasangan juga perlu membangun kerja sama, bukan saling menyalahkan. Kemudian, biasakan berdiskusi, bernegosiasi, dan berkompromi dalam mengambil keputusan.

Apabila konflik terasa sulit diselesaikan, melibatkan pihak ketiga yang dipercaya, seperti konselor atau mediator, dapat menjadi pilihan untuk membantu menemukan jalan keluar.

Rumah Tangga Harmonis Bukan Rumah Tangga Tanpa Konflik

Konflik bukanlah musuh dalam sebuah pernikahan. Justru, cara pasangan menyikapi perbedaan akan menentukan kualitas hubungan mereka di masa depan.

Ketika komunikasi dibangun dengan empati, pikiran terbuka, dan komitmen untuk mencari solusi, konflik tidak lagi menjadi ancaman. Sebaliknya, konflik berubah menjadi proses pendewasaan yang memperkuat ikatan suami istri.

Sebagaimana dijelaskan dalam Modul Psikologi Keluarga Bimbingan Perkawinan Kementerian Agama, perbedaan bukan untuk dipermasalahkan, melainkan dipahami bersama. Dari situlah rumah tangga yang harmonis bertumbuh, bukan karena selalu sepakat, tetapi karena selalu bersedia belajar saling mengerti.

Rumah tangga yang kokoh bukan dibangun oleh pasangan yang tidak pernah berbeda pendapat, melainkan oleh dua hati yang tetap memilih saling mendengar ketika perbedaan itu datang. Sebab, cinta yang dewasa bukan lahir dari kesempurnaan, tetapi dari keberanian untuk terus belajar memahami. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Rumah Tidak Layak Huni

    Prabowo Targetkan 400 Ribu Rumah Tidak Layak Huni Direhabilitasi pada 2026

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 236
    • 0Komentar

    Prabowo targetkan 400 ribu rumah tidak layak huni direhabilitasi pada 2026 lewat program BSPS. albadarpost.com, LENSA – Presiden Prabowo Subianto menetapkan target ambisius: sebanyak 400 ribu unit rumah tidak layak huni akan direhabilitasi melalui program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) pada 2026. Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar pemerintah untuk menekan angka masyarakat yang […]

  • Ilustrasi kemacetan jalan raya dengan banyak kendaraan sebagai metafora kehidupan yang penuh tekanan dan pentingnya makna syukur

    Bukan Kurang Nikmat, Tapi Kurang Syukur: Ini Faktanya

    • calendar_month Minggu, 22 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 151
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Makna syukur sering kita ucapkan, tetapi jarang kita rasakan sepenuhnya. Banyak orang memahami syukur sebagai sekadar ucapan “terima kasih,” padahal arti syukur, esensi bersyukur, dan nilai rasa cukup jauh lebih dalam dari itu. Ironisnya, di tengah hidup yang serba cepat, kita justru makin jauh dari makna syukur yang sebenarnya. Padahal, syukur bukan […]

  • ayam masak kecap

    Ayam Masak Kecap, Menu Hemat Bunda

    • calendar_month Sabtu, 24 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 155
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Di tengah tekanan harga bahan pangan yang fluktuatif, warga memilih strategi sederhana untuk menjaga dapur tetap mengepul. Salah satunya dengan mengandalkan ayam masak kecap sebagai menu harian keluarga. Olahan ini dinilai efisien, mudah dibuat, dan mampu memenuhi kebutuhan gizi empat porsi dalam satu kali masak. Data resep menunjukkan, dengan 300 gram ayam […]

  • kasus perundungan Tangsel

    Dinas Pendidikan Tangsel Evaluasi Kasus Perundungan yang Berujung Kematian Siswa

    • calendar_month Minggu, 16 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 97
    • 0Komentar

    Siswa SMPN 19 Tangsel meninggal setelah dugaan perundungan. Dinas Pendidikan evaluasi dan polisi selidiki kasus. albadarpost.com, HUMANIORA – Dugaan kasus perundungan Tangsel kembali mencuat setelah MH, 13 tahun, siswa kelas I SMPN 19 Tangerang Selatan, meninggal di ruang ICU RSUP Fatmawati, Jakarta Selatan, Minggu pagi 16 November 2025. Ia wafat setelah hampir sebulan merawat luka […]

  • Kebakaran Rumah Inabah

    Kebakaran Saat Zikir, Inabah di Panumbangan Ludes Terbakar

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 142
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Suasana khusyuk zikir mendadak berubah menjadi kepanikan di Dusun Warudoyong, RT 02 RW 03, Desa Sindangherang, Kecamatan Panumbangan, Kabupaten Ciamis, Jumat (29/5/2026) sore. Saat para penghuni sedang melaksanakan kegiatan zikir, asap tiba-tiba terlihat keluar dari salah satu kamar di rumah yang digunakan sebagai Inabah 5 Putra. Tidak lama kemudian, api membesar […]

  • Revitalisasi Tugu Koperasi

    Revitalisasi Tugu Koperasi, Tasikmalaya Hidupkan Jejak Kongres 1947

    • calendar_month 16 jam yang lalu
    • account_circle redaktur
    • visibility 22
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Revitalisasi Tugu Koperasi di Kota Tasikmalaya resmi memasuki tahap pencanangan sebagai upaya merawat jejak Kongres Koperasi Indonesia Pertama Tahun 1947 sekaligus mengembangkan kawasan tersebut menjadi ruang edukasi, budaya, dan penguatan ekonomi masyarakat. Program yang digagas Kementerian Koperasi bersama DEKOPIN dan Pemerintah Kota Tasikmalaya ini akan dilaksanakan pada Minggu, 26 Juli 2026, […]

expand_less