Sepertiga Warga Tasikmalaya Mengalami Keluhan Kesehatan pada 2025
- account_circle redaktur
- calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
- visibility 32
- comment 0 komentar
- print Cetak

Suasana antrian pengambilan obat di RSUD dr. Soekardjo, Kota Tasikmalaya.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, PERSPEKTIF – Bagaimana jika satu dari tiga warga di kota Anda mengaku mengalami gangguan kesehatan dalam sebulan terakhir? Pertanyaan itu mungkin terdengar mengkhawatirkan. Namun, itulah gambaran yang muncul dari data terbaru mengenai keluhan kesehatan Tasikmalaya. Menariknya, kondisi tersebut terjadi ketika usia harapan hidup masyarakat juga terus meningkat. Dua fakta ini menghadirkan sebuah paradoks yang layak dicermati.
Publikasi Kota Tasikmalaya Dalam Angka 2026 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 33,29 persen penduduk Kota Tasikmalaya mengalami keluhan kesehatan selama sebulan sebelum survei pada 2025. Angka itu meningkat dibandingkan 30,61 persen pada 2024.
Kenaikan tersebut memang tidak melonjak tajam. Namun, ketika hampir sepertiga penduduk merasakan gangguan kesehatan dalam waktu yang relatif singkat, data itu layak dibaca lebih dalam daripada sekadar deretan angka statistik.
Keluhan Kesehatan Warga Kembali Meningkat
Jika melihat perjalanan delapan tahun terakhir, kondisi kesehatan masyarakat Kota Tasikmalaya menunjukkan pola yang dinamis.
Pada 2018, persentase penduduk yang mengalami keluhan kesehatan mencapai 32,43 persen. Angka itu kemudian turun menjadi 30,88 persen pada 2019 dan 28,41 persen pada 2020. Tahun 2021 bahkan menjadi titik terendah dengan 18,37 persen.
Setelah itu, persentasenya melonjak menjadi 39,65 persen pada 2022, lalu turun menjadi 29,05 persen pada 2023 dan 30,61 persen pada 2024. Kini, pada 2025, angkanya kembali meningkat menjadi 33,29 persen.
Fluktuasi tersebut menunjukkan bahwa kondisi kesehatan masyarakat belum sepenuhnya stabil. Selain dipengaruhi penyakit infeksi, perubahan pola hidup, meningkatnya penyakit tidak menular, hingga faktor lingkungan juga dapat memengaruhi banyaknya warga yang mengalami keluhan kesehatan.
Hipertensi Menjadi Penyakit yang Paling Banyak Ditangani
Data BPS yang bersumber dari Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya juga memperlihatkan pola penyakit yang ditangani fasilitas kesehatan sepanjang 2025.
Hipertensi menempati posisi pertama dengan 65.478 kasus. Selanjutnya terdapat nasofaringitis akut atau flu sebanyak 49.381 kasus, kemudian infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) sebanyak 35.216 kasus.
Selain itu, dispepsia atau gangguan lambung mencapai 31.101 kasus, mialgia sebanyak 24.714 kasus, diabetes melitus noninsulin 15.186 kasus, serta diare dan gastroenteritis 10.285 kasus.
Data tersebut belum menunjukkan hubungan sebab-akibat dengan meningkatnya keluhan kesehatan masyarakat. Namun, pola itu memberikan gambaran bahwa penyakit tidak menular kini semakin mendominasi layanan kesehatan di Kota Tasikmalaya.
Di Balik Angka, Ada Perubahan Pola Hidup Masyarakat
Pemandangan warga yang berjalan kaki di ruang terbuka, berolahraga ringan pada pagi hari, atau memeriksa tekanan darah secara berkala kini semakin mudah ditemui di berbagai sudut Kota Tasikmalaya. Di sisi lain, fasilitas kesehatan juga terus mengingatkan pentingnya deteksi dini terhadap penyakit tidak menular.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa masyarakat semakin sadar menjaga kesehatan. Namun, pada saat yang sama, tantangan kesehatan juga berubah.
Keluhan kesehatan saat ini tidak selalu berkaitan dengan penyakit menular. Tekanan darah tinggi, gangguan metabolik, hingga pola hidup yang kurang aktif menjadi tantangan baru yang memerlukan perhatian bersama.
Karena itu, meningkatnya angka keluhan kesehatan tidak semestinya dipandang sebagai alasan untuk panik, melainkan sebagai pengingat bahwa upaya pencegahan harus semakin diperkuat.
Apa yang Bisa Dilakukan Warga?
Langkah menjaga kesehatan tidak selalu harus dimulai dari tindakan besar.
Masyarakat dapat memulainya dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, mengurangi asupan gula, garam, dan lemak berlebih, memperbanyak aktivitas fisik, menjaga kualitas tidur, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Selain itu, lingkungan yang bersih, ruang publik yang mendukung aktivitas fisik, dan edukasi kesehatan yang berkelanjutan juga berperan penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Dengan demikian, setiap orang memiliki kesempatan untuk menekan risiko penyakit sejak dini.
Data Menjadi Alarm, Bukan Alasan untuk Takut
Statistik kesehatan tidak pernah sekadar berbicara tentang angka. Di balik setiap persentase terdapat cerita mengenai kualitas hidup ribuan keluarga.
Data BPS menunjukkan bahwa Kota Tasikmalaya terus berkembang. Namun, pembangunan kesehatan tidak cukup diukur dari banyaknya fasilitas atau panjangnya usia harapan hidup. Yang jauh lebih penting ialah memastikan masyarakat tetap sehat, produktif, dan mampu menikmati kehidupan sehari-hari.
Karena itu, data tentang keluhan kesehatan Tasikmalaya seharusnya menjadi dasar untuk memperkuat budaya hidup sehat, bukan sekadar menjadi bahan diskusi sesaat.
“Ketika satu dari tiga warga pernah mengalami keluhan kesehatan dalam sebulan, itu bukan alarm untuk menakut-nakuti masyarakat. Justru itulah pengingat bahwa kesehatan adalah investasi yang harus dijaga setiap hari, sebelum angka-angka itu berubah menjadi kenyataan yang lebih berat.” (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar