Prabowo Buka KUII VIII, 87 Ormas Bersatu
- account_circle redaktur
- calendar_month Rabu, 22 Jul 2026
- visibility 33
- comment 0 komentar
- print Cetak

Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI, KH Marsudi Syuhud. (Foto: IG Dr. KH.Marsudi Syuhud, MM.).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA NASIONAL – KUII VIII atau Kongres Umat Islam Indonesia VIII akan menjadi salah satu forum kebangsaan terbesar pada 2026. Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan membuka kongres tersebut pada 24 Juli 2026 di Hotel Bidakara, Jakarta. Tidak sekadar menjadi agenda lima tahunan Majelis Ulama Indonesia (MUI), forum ini akan mempertemukan sekitar 87 organisasi Islam dari seluruh Indonesia untuk merumuskan rekomendasi strategis mengenai demokrasi, pembangunan nasional, ketahanan pangan, energi, ekonomi, pendidikan, hingga geopolitik global.
Mengusung tema “Umat Bersatu, Bangsa Berdaulat, Negara Kuat”, KUII VIII berlangsung selama tiga hari, mulai 24 hingga 26 Juli 2026. Forum ini diharapkan menjadi ruang dialog yang memperkuat sinergi antara umat Islam, pemerintah, akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan dalam menghadapi tantangan bangsa.
Presiden Prabowo Dijadwalkan Membuka KUII VIII
Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI, KH Marsudi Syuhud, memastikan Presiden Prabowo akan membuka KUII VIII pada hari pertama pelaksanaan kongres.
“Acara ini akan dibuka oleh Presiden, yaitu pada tanggal 24 Juli kira-kira jam 16.00. Setelah itu dilanjutkan dengan sidang pleno-pleno,” ujar KH Marsudi Syuhud dalam konferensi pers di Kantor Pusat MUI, Jakarta Pusat, Selasa (21/7/2026).
Setelah pembukaan, peserta akan langsung mengikuti rangkaian sidang pleno yang membahas berbagai isu strategis nasional bersama menteri, pimpinan lembaga negara, aparat penegak hukum, akademisi, dan para pakar sesuai bidang masing-masing.
Bukan Sekadar Kongres, tetapi Forum Mencari Solusi Bangsa
Menurut KH Marsudi Syuhud, Kongres Umat Islam Indonesia bukan hanya agenda organisasi yang digelar setiap lima tahun sekali. Lebih dari itu, forum tersebut menjadi wadah musyawarah bagi organisasi-organisasi Islam untuk menyampaikan gagasan, kritik, dan rekomendasi kepada pemerintah.
Ia menegaskan bahwa membangun bangsa merupakan tanggung jawab bersama. Oleh karena itu, berbagai masukan yang muncul dalam forum merupakan bagian dari upaya memperkuat kualitas kebijakan nasional.
“Membangun bangsa adalah sebuah keharusan. Maka kritik itu biasa jika nanti di dalam kongres ini ada masukan-masukan terhadap pemerintah,” katanya.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa KUII VIII diarahkan sebagai ruang dialog yang terbuka, konstruktif, dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.
MUI Satukan 87 Organisasi Islam dalam Satu Forum
KH Marsudi menjelaskan bahwa MUI memiliki peran sebagai rumah besar yang menghimpun berbagai organisasi Islam di Indonesia. Karena itu, MUI memfasilitasi pelaksanaan KUII VIII agar aspirasi dari berbagai organisasi dapat dirumuskan menjadi rekomendasi bersama.
Sebanyak 87 organisasi Islam dijadwalkan mengikuti kongres tersebut. Kehadiran mereka mencerminkan luasnya representasi umat Islam dalam membahas isu-isu strategis yang berkaitan dengan masa depan bangsa.
Selain organisasi Islam, MUI juga mengundang tokoh lintas agama, unsur pemerintah, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya pada acara pembukaan. Langkah ini diharapkan memperkaya perspektif sekaligus memperkuat semangat kebangsaan dalam setiap pembahasan.
Demokrasi, Ekonomi hingga Ketahanan Pangan Masuk Agenda Pembahasan
Selama tiga hari pelaksanaan, peserta akan membahas berbagai persoalan yang dinilai memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
Beberapa isu utama yang masuk dalam agenda KUII VIII meliputi penguatan demokrasi, pembangunan nasional, politik dan keamanan, kekuasaan kehakiman, ketahanan pangan, pertahanan nasional, energi, ekonomi, pendidikan, pembinaan akhlak bangsa, hingga dinamika geopolitik global.
Hasil pembahasan tersebut selanjutnya diharapkan melahirkan rekomendasi yang dapat menjadi masukan bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan pembangunan nasional.
Bagi MUI, rekomendasi itu bukan sekadar dokumen hasil sidang. Lebih jauh, rekomendasi tersebut diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi penguatan persatuan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Mengapa KUII VIII Menjadi Penting?
Di tengah dinamika sosial, ekonomi, dan geopolitik yang terus berubah, forum seperti KUII VIII memiliki posisi strategis. Pertemuan puluhan organisasi Islam dalam satu wadah memungkinkan lahirnya pandangan bersama mengenai berbagai persoalan bangsa.
Karena itu, perhatian publik terhadap KUII VIII tidak hanya tertuju pada kehadiran Presiden Prabowo sebagai pembuka acara. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana hasil kongres tersebut mampu melahirkan rekomendasi yang relevan, aplikatif, dan memberikan manfaat bagi pembangunan Indonesia.
Sebagaimana disampaikan KH Marsudi Syuhud, tujuan utama kongres tetap berorientasi pada kemaslahatan bangsa dan seluruh rakyat Indonesia.
KUII VIII bukan sekadar pertemuan lima tahunan. Forum ini menjadi momentum ketika puluhan organisasi Islam duduk dalam satu meja, menyatukan gagasan, dan menawarkan arah bagi Indonesia yang lebih kuat, lebih adil, dan lebih berdaya menghadapi tantangan zaman. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar