Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » Mengapa Gempa Sukabumi Terus Terjadi? Ini Penjelasan BMKG

Mengapa Gempa Sukabumi Terus Terjadi? Ini Penjelasan BMKG

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
  • visibility 106
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA DAERAHGempa Sukabumi kembali menjadi perhatian setelah guncangan berkekuatan magnitudo 4,8 terjadi pada Minggu (19/7/2026). Peristiwa ini kembali memunculkan pertanyaan yang sering muncul setiap kali bumi berguncang: mengapa wilayah Sukabumi begitu sering mengalami gempa? Apakah penyebabnya hanya Sesar Cimandiri, atau ada faktor lain yang membuat kawasan ini termasuk daerah rawan aktivitas seismik?

Berdasarkan analisis BMKG, jawabannya tidak sesederhana satu jalur patahan. Sukabumi berada di kawasan yang dipengaruhi beberapa sumber gempa sekaligus. Kondisi geografis inilah yang membuat wilayah tersebut berkali-kali merasakan guncangan, baik yang berasal dari laut maupun daratan.

Sukabumi Berada di Persimpangan Dua Sumber Gempa

Di selatan Pulau Jawa, Lempeng Indo-Australia terus bergerak dan menyusup ke bawah Lempeng Eurasia. Proses yang berlangsung sangat lambat ini menyimpan energi besar yang sewaktu-waktu dilepaskan dalam bentuk gempa bumi.

Namun, ancaman bagi Sukabumi tidak hanya berasal dari zona subduksi di Samudra Hindia. Di daratan, terdapat Sesar Cimandiri, salah satu sesar aktif di Jawa Barat yang membentang dari kawasan Teluk Palabuhanratu hingga ke arah timur.

Karena berada di antara dua sistem tektonik tersebut, Sukabumi dapat merasakan guncangan dari berbagai jenis gempa. Ada yang berasal dari dasar laut, ada pula yang muncul akibat aktivitas sesar di daratan.

BMKG menjelaskan bahwa gempa yang terjadi pada 19 Juli 2026 bukan merupakan gempa megathrust. Gempa tersebut dipicu deformasi batuan di dasar laut dengan mekanisme gerakan miring atau oblique thrust. Selain itu, hasil pemodelan menunjukkan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.

Magnitudo Besar Belum Tentu Paling Merusak

Banyak masyarakat menganggap semakin besar magnitudo, semakin besar pula kerusakan yang ditimbulkan. Faktanya, anggapan itu tidak selalu benar.

Kerusakan akibat gempa dipengaruhi banyak faktor, seperti kedalaman pusat gempa, jarak dari permukiman, kondisi tanah, kualitas bangunan, hingga karakter gelombang yang merambat ke permukaan.

Sebagai contoh, gempa darat berkekuatan M3,8 yang mengguncang Sukabumi pada September 2025 memang lebih kecil dibandingkan gempa M4,8 pada Juli 2026. Meski begitu, dampaknya justru lebih besar terhadap permukiman karena sumber gempanya berada sangat dekat dengan kawasan berpenduduk.

Ratusan rumah saat itu mengalami kerusakan dengan ratusan warga terdampak. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa lokasi sumber gempa sering kali lebih menentukan dibanding angka magnitudonya.

Bangunan Menjadi Penentu Besar Kecilnya Dampak

Selain karakter gempa, kualitas bangunan memiliki peran yang sangat penting.

Rumah dengan struktur yang tidak memenuhi standar ketahanan gempa lebih mudah mengalami kerusakan meski diguncang gempa berkekuatan sedang. Sebaliknya, bangunan yang dirancang sesuai standar konstruksi tahan gempa memiliki peluang lebih besar untuk tetap berdiri saat terjadi guncangan.

Kondisi tanah juga ikut memengaruhi kekuatan getaran. Di sejumlah lokasi, lapisan tanah lunak mampu memperkuat gelombang gempa sehingga guncangan terasa lebih keras dibandingkan kawasan yang berada di atas batuan keras.

Sementara itu, wilayah perbukitan menghadapi ancaman tambahan berupa longsor setelah gempa terjadi, terutama ketika hujan turun dalam waktu berdekatan.

Risiko Gempa Sukabumi Masih Tergolong Tinggi

Dokumen Kajian Risiko Bencana Kabupaten Sukabumi menempatkan gempa bumi sebagai salah satu ancaman utama di wilayah tersebut.

Model risiko menunjukkan jutaan penduduk berpotensi terpapar apabila terjadi gempa besar. Meski angka tersebut bukan prediksi korban pada satu kejadian tertentu, data itu menjadi dasar pemerintah dalam menyusun strategi mitigasi, penataan ruang, hingga peningkatan kesiapsiagaan masyarakat.

Karena itu, warga tidak cukup hanya mengetahui lokasi sesar atau pusat gempa. Kesiapan keluarga, kualitas bangunan, serta pemahaman terhadap jalur evakuasi justru menjadi faktor yang paling menentukan saat bencana benar-benar terjadi.

Jangan Percaya Prediksi Gempa yang Beredar

BMKG berulang kali menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada teknologi yang mampu memprediksi secara tepat waktu, lokasi, maupun kekuatan gempa bumi.

Oleh sebab itu, masyarakat sebaiknya mengabaikan pesan berantai yang mengklaim mengetahui tanggal terjadinya gempa berikutnya.

Sebaliknya, fokuslah pada langkah mitigasi. Pastikan lemari dan benda berat terpasang kuat, siapkan tas siaga bencana, kenali titik kumpul keluarga, serta biasakan melakukan simulasi penyelamatan.

Saat gempa terjadi, lakukan langkah Drop, Cover, and Hold On, lalu segera keluar menuju area aman setelah guncangan berhenti. Bagi masyarakat pesisir, segera menuju tempat yang lebih tinggi apabila merasakan guncangan kuat atau berlangsung lama tanpa menunggu informasi tambahan.

Gempa Tidak Bisa Dicegah, Tetapi Dampaknya Bisa Dikurangi

Sukabumi akan tetap menjadi salah satu wilayah aktif secara tektonik karena posisinya berada di antara zona subduksi selatan Jawa dan jaringan sesar aktif di daratan. Kondisi alam tersebut tidak dapat diubah.

Namun, besarnya dampak bencana masih bisa ditekan melalui bangunan yang lebih aman, edukasi kebencanaan, jalur evakuasi yang jelas, serta disiplin mengikuti informasi resmi dari BMKG. Pada akhirnya, yang menentukan keselamatan bukan seberapa sering gempa terjadi, melainkan seberapa siap masyarakat menghadapinya.

Gempa memang datang tanpa undangan. Namun, korban bukanlah takdir. Di Sukabumi, kesiapsiagaan selalu menjadi pertahanan pertama sebelum bumi kembali berguncang. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pengamanan Nataru Jawa Barat

    Amanakan Nataru, Polda Jabar Siagakan 25.000 Personel

    • calendar_month Sabtu, 20 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 245
    • 0Komentar

    Polda Jabar kerahkan 25.000 personel untuk pengamanan Nataru Jawa Barat demi kelancaran arus mudik dan wisata. albadarpost.com, FOKUS – Kepolisian Daerah Jawa Barat menyiagakan sedikitnya 25.000 personel gabungan untuk mengawal pergerakan warga selama periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Langkah ini diambil sebagai respons atas proyeksi lonjakan mobilitas masyarakat yang diperkirakan mencapai titik tertinggi […]

  • Ilustrasi seseorang merenung dan berdoa untuk menghindari penyakit hati seperti iri, dengki, dan gelisah

    Doa Memohon Ampunan: Diam-Diam Mengubah Hidup

    • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 200
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Pernah merasa hidup terasa berat, hati gelisah, dan doa seperti belum menemukan jawaban? Bisa jadi, ada satu amalan yang sering terlewat: doa ampunan. Doa memohon ampunan, istighfar, dan permohonan penghapus dosa bukan sekadar ritual, melainkan kunci untuk membuka ketenangan dan keberkahan hidup. Banyak orang mencari doa ampunan dosa saat menghadapi masalah. Namun, […]

  • ATCS Tasikmalaya

    Teknologi Ini Diam-Diam Mengatur Jalanan Tasikmalaya Setiap Hari

    • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 196
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Area Traffic Control System (ATCS) Kota Tasikmalaya kini menjadi teknologi yang bekerja hampir di setiap perjalanan warga, meski banyak orang belum menyadarinya. Sistem lalu lintas pintar ini mengatur ritme kendaraan melalui jaringan CCTV dan kontrol lampu otomatis sehingga arus kendaraan tetap bergerak stabil di berbagai persimpangan utama. Dalam konsep sistem lalu […]

  • pelaku anak kriminal

    Ketika Anak Menjadi Pelaku Kriminal

    • calendar_month Kamis, 15 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 217
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Siang hari yang biasanya identik dengan aktivitas aman berubah menjadi ruang cemas ketika kasus pelaku anak kriminal terungkap di kawasan perkotaan. Aksi kekerasan seksual yang melibatkan anak sebagai pelaku dan menyasar anak serta remaja sebagai korban ini menimbulkan pertanyaan serius: seberapa aman ruang publik bagi generasi muda? Kepolisian bergerak cepat setelah laporan […]

  • Ilustrasi seseorang merenung dan berdoa untuk menghindari penyakit hati seperti iri, dengki, dan gelisah

    Hati Sering Gelisah? Ini Doa Agar Terhindar dari Penyakit Hati

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 212
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Penyakit hati sering datang tanpa suara. Ia tidak terlihat, tidak terasa di awal, tetapi perlahan mengubah cara seseorang berpikir dan merasakan. Banyak orang menganggap penyakit hati seperti iri, dengki, sombong, dan gelisah sebagai hal biasa, padahal dampaknya merusak ketenangan hidup.. Banyak orang tampak baik-baik saja di luar. Mereka tersenyum, bekerja, dan menjalani […]

  • Uang Mainan Pangandaran

    Beli Motor Pakai Uang Mainan, Polisi Pangandaran Kembangkan Kasus

    • calendar_month Jumat, 31 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 194
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Sebuah transaksi jual beli sepeda motor di Kabupaten Pangandaran yang semula tampak biasa berubah menjadi perkara hukum setelah pembayaran diduga menggunakan uang mainan. Peristiwa ini tidak hanya berujung pada penangkapan seorang terduga pelaku, tetapi juga membuka penyelidikan baru untuk mengungkap asal-usul uang yang dipakai dalam transaksi tersebut. Kasus uang mainan Pangandaran […]

expand_less