Humaniora

BNPB Lanjutkan Operasi Pencarian Longsor di Cilacap untuk Percepat Penemuan Korban

BNPB kembali melanjutkan operasi pencarian longsor di Cilacap demi mempercepat penemuan korban hilang.operasi pencarian longsor di Cilacap demi mempercepat penemuan korban hilang.


Operasi Pencarian Longsor Kembali Dikebut

albadarpost.com, HUMANIORA – BNPB kembali mengaktifkan operasi pencarian longsor di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, pada Sabtu pagi. Keputusan ini diambil setelah seluruh aktivitas penyelamatan pada Jumat sore terpaksa dihentikan akibat hujan deras yang memicu risiko longsor susulan. Langkah itu dianggap krusial karena belasan warga masih belum ditemukan dan kondisi lapangan terus berubah.

Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB, Mayjen TNI Budi Irawan, mengatakan penghentian sementara pada Jumat pukul 16.30 WIB dilakukan demi keselamatan tim. Curah hujan tinggi membuat lereng tidak stabil dan menghambat pergerakan alat berat. “Risiko longsor susulan cukup tinggi. Karena itu operasi kami lanjutkan pada Sabtu ketika kondisi memungkinkan,” ujarnya.

Pemulihan pencarian sejak pagi menandai penegasan bahwa situasi di Majenang masih berada pada tahap kritis. Setiap jam dianggap berharga untuk menemukan korban yang kemungkinan tertimbun material setinggi beberapa meter.

Material Setinggi 8 Meter Menghambat Proses Evakuasi

Hambatan terbesar dalam operasi pencarian longsor berada di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang. Tebal material mencapai 8 meter, membuat pergerakan tim SAR berjalan lambat selama beberapa hari terakhir. Kondisi ini memaksa BNPB menambah jumlah alat berat secara bertahap.

Budi menjelaskan bahwa awalnya hanya dua unit excavator yang bekerja di lapangan. Jumlah itu kemudian bertambah menjadi empat, lalu tujuh. Bantuan berikutnya datang dari Kementerian Pekerjaan Umum, yang menjanjikan total 12 unit agar proses pengerukan bisa berlangsung paralel. “Penambahan alat berat menjadi kunci mempercepat pencarian, terutama di sektor yang materialnya paling tebal,” katanya.

Sebelumnya, BNPB juga melaporkan kenaikan jumlah alat berat dari empat menjadi delapan unit. Namun medan yang tertutup lumpur dan batang pohon membuat kecepatan pengerjaan tidak bisa maksimal. Situasi ini pula yang membuat pembagian zona pencarian dilakukan lebih ketat.

Korban Meninggal Bertambah, Belasan Masih Hilang

Hingga hari ketiga setelah bencana, enam korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Dua puluh orang sebelumnya masuk daftar pencarian, namun jumlah itu berkurang menjadi 17 setelah penemuan terbaru pada Jumat pagi. Temuan pada pukul 10.56 WIB itu menjadi salah satu sedikit perkembangan setelah cuaca memburuk selama dua hari berturut-turut.

Baca juga: Skrining TBC Digelar di Karawang untuk Percepat Deteksi dan Pengobatan

Basarnas sebagai komando pencarian membagi pekerjaan ke dalam tiga zona. Tiap lokasi dikerjakan dua kelompok dengan dukungan satu anjing pelacak dari unit K9 Kantor SAR Semarang. Strategi itu digunakan untuk memperluas jangkauan pencarian pada sektor yang sulit dijangkau alat berat.

Cuaca masih menjadi faktor yang membayangi operasi. Prakiraan menunjukkan hujan ringan hingga sedang akan turun merata di Majenang sampai Minggu. Lereng di wilayah itu berbentuk cekungan sehingga rawan menahan air. BNPB meminta warga sekitar tetap waspada. “Jika hujan lebih dari satu jam dengan intensitas tinggi, warga diminta melakukan evakuasi mandiri,” ujar Budi.

Kebutuhan Dasar Warga Terpenuhi

Di luar pencarian, pemerintah memastikan kebutuhan dasar warga terdampak tetap tersedia. BNPB menyatakan distribusi logistik berjalan tanpa hambatan. Bantuan yang dibagikan meliputi bahan makanan, selimut, matras, serta tenda untuk pengungsian.

Menurut Budi, seluruh kebutuhan dasar korban dan penyintas telah mencukupi. Pemerintah daerah dan pusat bekerja beriringan untuk menjaga ketersediaan logistik hingga operasi pencarian selesai. Informasi ini dianggap penting untuk menenangkan warga yang rumahnya rusak dan harus bertahan di pengungsian beberapa hari ke depan.

Analisis dan Konteks: Risiko Belum Usai

Cilacap merupakan salah satu daerah dengan tingkat kerawanan longsor tinggi di Jawa Tengah. Kontur yang berundak dan curah hujan musiman membuat potensi bencana serupa selalu ada. Operasi pencarian longsor kali ini memperlihatkan tantangan lama yang terus berulang: material besar, keterbatasan alat berat, dan cuaca yang tidak menentu.

Penambahan alat berat yang masif menunjukkan bahwa mitigasi darurat kini lebih terstruktur. Namun percepatan pencarian tetap bergantung pada stabilitas cuaca dan kondisi medan. Pemerintah menekankan bahwa seluruh operasi berfokus pada penemuan korban sembari menjaga keselamatan petugas.

Operasi pencarian longsor di Cilacap terus dipercepat untuk menemukan korban hilang dan menjaga keselamatan warga. (Red)


T

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button