Berita Daerah

Pemerintah Tasikmalaya Gelar Kontes Sapi Potong untuk Naikkan Nilai Ternak

Kontes sapi potong di RPH Indihiang Tasikmalaya fokus peningkatan nilai jual ternak dan edukasi peternak.

albadarpost.com, LENSAKontes sapi potong yang digelar Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Tasikmalaya di Rumah Potong Hewan (RPH) Indihiang menghadirkan 50 peternak dari wilayah Priangan Timur hingga Bandung. Agenda ini bertujuan meningkatkan nilai jual ternak, memberi edukasi bagi calon peternak, dan mempromosikan komoditas unggulan daerah. Panitia melakukan pemeriksaan kondisi gigi bagi sapi peserta sebagai indikator kesehatan, umur, serta potensi bobot karkas.

Pemeriksaan kesehatan gigi sapi dipandang sebagai prosedur standar untuk menentukan kualitas ternak sebelum dilepas ke pasar. Langkah ini membuat proses penilaian kontes tidak sekadar berbasis tampilan fisik, tetapi berbasis indikator objektif yang bisa diterapkan pada peternakan modern.

Arah Kebijakan Dinas dan Fungsi Peningkatan Nilai

Kepala bidang peternakan di Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Tasikmalaya menjelaskan bahwa kegiatan tahunan ini merupakan instrumen kebijakan daerah berbasis pemberdayaan peternak. Kontes dan bursa sapi menjadi sarana edukatif berbasis praktik langsung di lapangan, bukan sekadar sosialisasi. Melalui kontes sapi potong, peternak belajar membentuk siklus produksi yang sehat: pakan terukur, sanitasi kandang, dan kepatuhan terhadap standar dokter hewan.

Model edukasi lapangan dianggap lebih efektif ketimbang seminar. Peternak melihat langsung hasil kerja rekan-rekannya. Mereka juga memanfaatkan forum untuk bertukar metode pemberian pakan, vitamin, hingga teknik pemuliaan yang berdampak terhadap bobot karkas. Kontes ini sengaja memprioritaskan penilaian berbasis performa ternak agar peternak memahami bahwa nilai jual tidak bersandar pada faktor musim atau tengkulak, tetapi pada kualitas hewan.

Dinas mulai mendorong penggunaan catatan rekam kesehatan ternak. Langkah ini berpotensi menjadi infrastruktur data peternakan jangka panjang. Jika diintegrasikan dengan sistem distribusi pasar, pemerintah daerah dapat mengurangi praktik perantara yang merugikan peternak kecil. Model ini pernah diterapkan di beberapa sentra peternakan di Jawa Tengah dan menunjukkan kenaikan harga jual sapi hingga 8–12 persen tanpa subsidi langsung.

Komoditas Unggulan dan Promosi Berbasis Pasar

Kontes di RPH Indihiang juga berfungsi sebagai pasar langsung. Calon pembeli dari bandar daging, pedagang grosir, hingga pemilik rumah potong hadir mencari ternak berkualitas. Mekanisme ini menciptakan ruang kompetisi yang transparan. Kontes sapi potong menjadi titik temu antara kualitas peternakan dan kebutuhan pasar.

Menurut panitia, komoditas unggulan daerah berjalan seiring dengan promosi. Tasikmalaya memiliki jenis sapi yang adaptif terhadap iklim dataran menengah. Kelebihan ini meningkatkan produktivitas pakan dan efisiensi biaya pemeliharaan. Ketika sapi-sapi terbaik dipamerkan dalam kontes, daerah membawa identitas ekonomi yang jelas: Tasikmalaya bukan sekadar wilayah transit ternak, tetapi produsen yang kompeten.

Penguatan Edukasi Calon Peternak

Salah satu agenda utama kegiatan adalah pembinaan calon peternak. Peserta muda diajak mengamati proses pemeriksaan gigi, penimbangan bobot, hingga sesi tanya jawab mengenai formula pemberian pakan. Dinas berharap efek jangka panjangnya muncul pada konsistensi budidaya. Edukasi berbasis praktik lapangan mencegah kesalahan umum seperti pakan berlebih, penggunaan obat tanpa pengawasan dokter, atau manipulasi bobot yang berisiko kesehatan.

Baca juga: Reintroduksi Banteng Jawa: Mandat Negara, Regulasi Konservasi, dan Celah Pertanggungjawaban

Metode ini mempertimbangkan konteks sosial peternak di Priangan Timur. Banyak peternak berada pada skala rumah tangga dengan keterbatasan modal. Mereka membutuhkan orientasi bisnis, bukan sekadar bantuan barang. Dengan pendekatan kontes, peserta memahami cara memproduksi sapi yang berdaya saing tinggi. Kontes sapi potong diulang minimal tiga kali agar menjadi pola, bukan acara simbolik.

Dampak Ekonomi Lokal

Kontes ternak berperan sebagai katalis ekonomi mikro. Rantai pasok bergerak lebih cepat karena pembeli mendapatkan akses langsung tanpa broker berlebihan. Harga ternak premium melonjak saat kualitas nyata terbukti di depan publik. Ketika peternak kecil mendapat akses seperti ini, kesejahteraan meningkat tanpa perlu program subsidi berat.

RPH Indihiang menjadi simpul. Lokasinya strategis untuk mobilitas ternak dari Tasikmalaya, Garut, Ciamis, dan wilayah Priangan Timur lainnya. Aktivitas kontes memperkuat fungsi RPH bukan hanya sebagai titik pemotongan, tetapi sebagai pusat informasi dan agregasi ternak hidup.


Standar Kesehatan Hewan dan Keberlanjutan

Pemeriksaan kesehatan gigi yang diterapkan panitia menjadi model standar minimal. Pemerintah daerah mendorong pemeriksaan rutin oleh dokter hewan. Kebijakan ini diharapkan mengurangi risiko penyakit seperti ngorok, demam tiga hari, atau parasit gastrointestinal. Ketika kontes mengharuskan pemeriksaan terbuka, praktik kesehatan hewan menjadi budaya baru, bukan sanksi teknis.

Jika standar kesehatan ini diperluas ke jalur distribusi, Tasikmalaya dapat membangun branding peternakan berbasis mutu. Peternak yang patuh pada standar memiliki peluang distribusi lebih besar, termasuk ke rumah potong modern yang membutuhkan sertifikasi. Bagian penting dari kebijakan ini adalah integrasi data hasil kontes dengan program pendampingan peternak—agar bukan sekadar seremoni tahunan.

Kontes sapi potong Tasikmalaya membuka akses pasar, meningkatkan edukasi peternak, serta memperkuat rantai pasok ternak lokal berbasis kualitas. (Red/Asep Chandra)


Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button