UMKM Tasikmalaya dan Tantangan Daya Saing di Jawa Barat
Analisis kebijakan pembinaan UMKM Tasikmalaya dibandingkan Bandung dan Bekasi dalam memperkuat daya saing ekonomi daerah.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – KADIN Kota Tasikmalaya menggelar Business Summit 2025 sebagai bagian dari strategi memperkuat kapasitas pelaku usaha lokal. Namun, di tengah persaingan antardaerah di Jawa Barat, pertanyaan yang lebih mendasar muncul: sejauh mana model pembinaan UMKM Tasikmalaya mampu mengejar praktik terbaik yang telah lebih dulu diterapkan di kota lain seperti Bandung dan Bekasi?
Forum bisnis semacam ini penting, tetapi dampaknya bergantung pada desain kebijakan lanjutan. Tanpa integrasi dengan kebijakan daerah dan indikator kinerja yang terukur, penguatan UMKM berisiko berhenti pada level wacana.
Model Pembinaan UMKM Tasikmalaya: Berbasis Forum dan Jejaring
Business Summit 2025 yang digelar di Hotel Harmoni Tasikmalaya, Sabtu, 13 Desember 2025, memperlihatkan pendekatan pembinaan UMKM yang masih bertumpu pada forum motivasi, jejaring, dan peningkatan kapasitas individu. KADIN Tasikmalaya melalui Academy Center menempatkan pelatihan dan inspirasi sebagai pintu masuk pengembangan usaha.
Model ini memiliki keunggulan pada aspek mobilisasi pelaku usaha. Ratusan UMKM terlibat dalam satu ruang dialog yang sama. Pemerintah daerah juga hadir, menandakan dukungan politik terhadap penguatan ekonomi lokal.
Namun, pendekatan ini cenderung bersifat episodik. Tanpa pendampingan berkelanjutan, transfer pengetahuan dari forum semacam Business Summit sering kali tidak bertransformasi menjadi perubahan praktik bisnis yang signifikan.
Bandung: Integrasi Pembinaan dengan Ekosistem Inovasi
Berbeda dengan Tasikmalaya, Kota Bandung mengembangkan model pembinaan UMKM yang lebih terintegrasi. Pelatihan kewirausahaan dipadukan dengan inkubasi bisnis, akses riset, serta kolaborasi dengan perguruan tinggi dan komunitas kreatif.
UMKM di Bandung tidak hanya dilatih, tetapi juga ditempatkan dalam ekosistem inovasi. Pemerintah kota berperan sebagai orkestrator, bukan sekadar fasilitator acara. Program pembinaan diukur melalui indikator jelas: kenaikan omzet, perluasan pasar, dan keberlanjutan usaha.
Pendekatan ini membuat UMKM Bandung lebih siap masuk ke rantai nilai nasional, bahkan global. Tantangannya, model ini membutuhkan kapasitas birokrasi dan anggaran yang tidak kecil.
Bekasi: Pendekatan Industri dan Akses Pasar
Kota Bekasi menempuh jalur berbeda. Pembinaan UMKM diarahkan agar terhubung langsung dengan kawasan industri dan rantai pasok manufaktur. Fokusnya bukan hanya kreativitas, tetapi kepastian pasar.
Pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan industri sekitar, mulai dari standar produksi hingga sertifikasi. Pemerintah daerah berperan aktif membuka akses kemitraan antara UMKM dan perusahaan besar.
Model ini relatif efektif meningkatkan skala usaha UMKM, meski kurang ramah bagi sektor informal dan usaha mikro yang belum siap masuk pasar industri.
Di Mana Posisi Tasikmalaya?
Dibandingkan Bandung dan Bekasi, pembinaan UMKM Tasikmalaya masih berada pada tahap awal penguatan kapasitas dasar. Business Summit 2025 menunjukkan kesadaran akan pentingnya adaptasi dan inovasi, tetapi belum sepenuhnya terhubung dengan kebijakan ekonomi daerah yang lebih sistemik.
Tasikmalaya memiliki keunggulan pada sektor ekonomi berbasis komunitas dan budaya lokal. Namun, keunggulan ini belum diterjemahkan menjadi model pembinaan yang khas dan terukur. Tanpa diferensiasi strategi, UMKM Tasikmalaya berisiko kalah bersaing dalam perebutan pasar regional.
Implikasi Kebijakan: Dari Event ke Sistem
Agar lebih kompetitif, pembinaan UMKM di Tasikmalaya perlu bergeser dari pendekatan berbasis event menuju sistem pembinaan berkelanjutan. Business Summit seharusnya menjadi pintu masuk, bukan tujuan akhir.
Baca juga: Business Summit 2025 Jadi Strategi KADIN Perkuat UMKM Tasikmalaya
Pemerintah daerah dapat mengambil pelajaran dari Bandung dalam hal integrasi ekosistem, serta dari Bekasi dalam membuka akses pasar. Penyesuaian tentu diperlukan agar selaras dengan karakter ekonomi lokal Tasikmalaya.
Tanpa pembaruan kebijakan, forum-forum bisnis berisiko menjadi agenda rutin tanpa dampak struktural.
Tantangan dan Arah Baru
Business Summit 2025 menandai niat baik KADIN dan Pemerintah Kota Tasikmalaya dalam memperkuat UMKM. Namun, dibandingkan kota lain di Jawa Barat, model pembinaan yang ada masih membutuhkan penguatan desain kebijakan dan indikator kinerja yang jelas.
Jika Tasikmalaya ingin meningkatkan daya saing UMKM di level regional dan nasional, pembinaan harus melampaui forum inspiratif dan bergerak menuju sistem yang terintegrasi dengan kebijakan ekonomi daerah.
Pembinaan UMKM Tasikmalaya perlu bertransformasi agar mampu bersaing dengan kota lain di Jawa Barat. (Red/Asep Chandra)




