Ramadhan di Islandia: Puasa 20 Jam di Negeri Matahari Tak Terbenam
albadarpost.com, LIFESTYLE – Puasa 20 Jam Islandia menjadi fenomena nyata setiap Ramadhan di negara Nordik tersebut. Ramadhan di Islandia identik dengan puasa hampir 20 jam, bahkan di beberapa tahun bisa mendekati 21 jam ketika musim panas tiba. Durasi puasa ekstrem di Islandia terjadi karena posisi geografisnya yang dekat Lingkar Arktik sehingga matahari bersinar sangat lama.
Menurut data astronomi, pada bulan Juni, waktu siang di Reykjavik dapat berlangsung sekitar 21 jam. Sementara itu, populasi Muslim di Islandia diperkirakan lebih dari 1.500 jiwa dari total penduduk sekitar 380 ribu orang. Walaupun jumlahnya kecil, komunitas Muslim tetap menjalankan ibadah puasa dengan penuh kesungguhan.
Karena itu, puasa hampir 20 jam di Islandia bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, melainkan juga bentuk keteguhan iman.
Fenomena Matahari Tengah Malam dan Dampaknya pada Ibadah
Islandia mengalami fenomena “midnight sun” atau matahari tengah malam. Akibatnya, matahari nyaris tidak tenggelam selama musim panas. Sebaliknya, pada musim dingin, durasi siang sangat singkat.
Kondisi ini memengaruhi jadwal shalat dan puasa. Umat Islam di sana harus menentukan waktu imsak dan berbuka dengan perhitungan yang cermat. Sebagian besar Muslim mengikuti jadwal terbit dan terbenam matahari setempat. Namun demikian, sebagian lainnya mengikuti fatwa ulama yang memperbolehkan penyesuaian waktu.
Baca juga: Audit Bongkar Dugaan Korupsi BOS Tasikmalaya
Allah SWT berfirman:
“Makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (QS. Al-Baqarah: 187)
Ayat ini menjadi dasar utama pelaksanaan puasa. Namun, ulama membahas kondisi wilayah ekstrem secara khusus.
Pandangan Ulama tentang Puasa di Wilayah Ekstrem
Para ulama kontemporer memberi perhatian serius terhadap persoalan ini. Syaikh Yusuf al-Qaradawi menjelaskan bahwa Muslim di daerah dengan siang sangat panjang boleh mengikuti waktu negara terdekat yang memiliki siklus normal apabila durasi puasa membahayakan kesehatan.
Selain itu, Lembaga Fikih di bawah Organisasi Kerja Sama Islam juga memperbolehkan penyesuaian waktu demi menjaga keselamatan jiwa. Prinsip ini selaras dengan kaidah fikih:
“Al-masyaqqah tajlibut taisir” (Kesulitan mendatangkan kemudahan).
Imam An-Nawawi menegaskan bahwa syariat bertujuan menghadirkan kemaslahatan dan menolak mudarat. Karena itu, Islam memberi solusi tanpa menghilangkan esensi ibadah.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Sesungguhnya agama itu mudah”. (HR. Sahih Bukhari)
Hadis tersebut menegaskan bahwa kemudahan menjadi bagian dari prinsip syariat.
Keteguhan Muslim Minoritas di Islandia
Walaupun Muslim di Islandia tergolong minoritas, mereka tetap membangun kehidupan beragama secara aktif. Masjid Raya Reykjavik menjadi pusat kegiatan Ramadhan. Di sana, umat Islam berbuka bersama dan melaksanakan tarawih.
Baca juga: ART Indonesia–AS RI, Apa Dampaknya bagi Ekspor dan UMKM?
Selain itu, komunitas Muslim saling mendukung agar mampu menjalani puasa 20 jam Islandia dengan optimal. Mereka mengatur pola makan sahur secara bergizi dan menjaga hidrasi dengan baik. Dengan strategi tersebut, tubuh tetap kuat menjalani aktivitas harian.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian.” (HR. Sunan Tirmidzi)
Karena itu, banyak Muslim di sana memaknai puasa panjang sebagai ladang pahala yang besar. Mereka tidak melihatnya sebagai beban, melainkan kesempatan mendekatkan diri kepada Allah.
Hikmah Spiritual di Balik Puasa Hampir 20 Jam
Puasa hampir 20 jam di Islandia menghadirkan refleksi mendalam. Pertama, umat Islam belajar mengelola kesabaran dalam kondisi ekstrem. Kedua, mereka merasakan nikmat berbuka secara lebih intens. Ketiga, solidaritas komunitas semakin kuat karena mereka menghadapi tantangan bersama.
Selain itu, pengalaman Ramadhan di Islandia menunjukkan bahwa Islam relevan di setiap lintang bumi. Syariat tidak terbatas pada wilayah mayoritas Muslim saja. Justru di negeri minoritas, semangat beribadah sering terasa lebih hidup.
Dengan demikian, puasa 20 jam Islandia bukan sekadar catatan geografis, melainkan bukti universalitas Islam. Ketika niat lurus dan usaha maksimal, Allah akan memberikan kekuatan. (ARR)




