Pemberdayaan Kelompok Peternak Jangkrik di Desa Margaharja Melalui Peningkatan Kualitas Produksi dan Digital Marketing Untuk Peningkatan Pendapatan Masyarakat
- account_circle redaktur
- calendar_month Kamis, 20 Agt 2026
- visibility 41
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ketua Tim PKM, Dr. Maman Herman, M.Pd. bersama peternak jangkrik di Desa Margaharja, Ciamis dalam peningkatan produksi menggunakan teknologi tepat guna dan digital marketing.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, OPINI | Jurnal Ilmiah.
PEMBERDAYAAN KELOMPOK PETERNAK JANGKRIK DI DESA MARGAHARJA
MELALUI PENINGKATAN KUALITAS PRODUKSI DAN DIGITAL MARKETING
UNTUK PENINGKATAN PENDAPATAN MASYARAKAT
Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat
Ruang Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat
Oleh:
Maman Herman*, Iwan Setiawan, Eva Faridah, Rizky Eka Maulana, Rendi Ramdani, Wendry Galih Bahtiar, Fadilah Nurdin
Tim PKM Universitas Galuh Ciamis
Jl. R. E. Martadinata No. 150 Ciamis
Alamat korespondensi
Terimakasih atas Pendanaan Dari: Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Direktorat Jendral Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Tahun 2026
PENDAHULUAN
Pengembangan ekonomi produktif berbasis potensi lokal merupakan strategi penting dalam meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat perdesaan. Salah satu potensi yang prospektif adalah usaha peternakan jangkrik yang didukung oleh teknik budidaya relatif sederhana, kebutuhan modal yang terjangkau, serta permintaan pasar yang cukup tinggi dan stabil (Pramono D. & Setyawan H., 2024). Dalam konteks tersebut kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada Kelompok Peternak Jangkrik yang merupakan salah satu kelompok UMKM dengan jumlah anggota sebanyak 13 orang, berlokasi di Dusun Desa, Desa Margaharja, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Ciamis, memiliki jarak sekitar 13 km dari Universitas Galuh. Kelompok mitra berada di lingkungan RT 07 RW 02 Desa Margaharja, merupakan wilayah desa berkarakter agraris, dengan struktur pemerintahan desa yang lengkap, demografi yang heterogen, serta ekonomi yang berlandaskan sektor pertanian, peternakan dan usaha kecil lainnya.
Potensi desa ini cukup besar, namun juga menghadapi tantangan dalam bidang pengembangan sumber daya manusia dan infrastruktur, sehingga diperlukan pemberdayaan pada ekonomi produktif, salah satunya pengelolaan usaha peternakan jangkrik. Lokasi budidaya jangkrik berada pada kondisi lingkungan yang tenang dan teduh dengan sirkulasi udara yang cukup baik, jauh dari sumber kebisingan seperti pasar dan jalan raya, tidak terpapar sinar matahari secara langsung atau berlebihan, serta relatif aman dari gangguan predator. Selain itu, lokasi kandang juga jauh dari kandang ayam sehingga dapat meminimalkan risiko stres dan penyakit pada jangkrik. Kondisi lingkungan tersebut mendukung tingkat keberhasilan budidaya jangkrik cukup tinggi dan membuka peluang pengembangan usaha secara berkelanjutan. Di sisi lain, permintaan pasar terhadap jangkrik sebagai pakan burung, ikan, dan reptil tergolong tinggi dan stabil, sehingga usaha peternakan jangkrik memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan terutama bagi masyarakat pedesaan (Nasrullah, N., & Shodiq A., 2023). Budidaya jangkrik cukup dengan modal yang relatif kecil dengan teknik budidaya yang sederhana, sehingga peternak dapat meraih pendapatan yang menjanjikan (Saputra, D. D. (2020).
Berdasarkan hasil analisis kondisi eksisting melalui identifikasi dan pemetaan masalah sebelum adanya intervensi program PKM pada kelompok peternak Jangkrik diperoleh data bahwa kelompok peternak jangkrik memiliki waktu rata-rata panen 37 hari, dengan rata-rata pendapatan Rp.41.621, sebagaimana disajikan pada tabel 1 sebagai berikut:
Tabel 1 Pendapatan, Volume Produksi dan Waktu Panen Tahun 2025
| Rata-Rata Volume Produksi/ 1 kali panen | Harga Rata-Rata Penjualan Konvensional / Kilogram | Pendapatan | Waktu Panen |
| 572 kilogram | Rp. 35.000 | Rp. 20.020.000 | 37 hari |
Data produksi dan kinerja keuangan pada tabel merepresentasikan capaian budidaya Kelompok Peternak Jangkrik dalam satu siklus panen berdurasi 37 hari, dengan volume produksi rata-rata sebesar 572 kilogram jangkrik siap jual dan harga rata-rata penjualan konvensional Rp35.000 per kilogram, sehingga menghasilkan pendapatan kotor kelompok (gross revenue) sebesar Rp20.020.000 per siklus. Tingkat produktivitas kelompok mencapai 15,46 kg per hari, dengan kontribusi produksi per anggota sekitar 44 kg per siklus (1,19 kg per hari per orang). Jika pendapatan tersebut didistribusikan secara merata kepada 13 anggota yang masing-masing mengelola 4 kandang dengan ukuran 244x122x61 cm per kandang, diperoleh pendapatan kotor per kapita sebesar Rp1.540.000 per siklus, atau setara Rp41.621 per hari per orang. Hal ini menunjukan bahwa manfaat ekonomi individu masih berada di bawah standar upah minimum harian regional di banyak kabupaten/kota di Indonesia (Rp70.000–Rp120.000 per hari). Meskipun model usaha kolektif berbasis gotong royong efektif menurunkan hambatan modal individu, temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan kesejahteraan per anggota, sehingga adopsi teknologi digital, efisiensi operasional, perluasan pasar, dan hilirisasi produk menjadi intervensi kunci untuk meningkatkan margin laba bersih per kapita, mempercepat perputaran modal melalui siklus panen berganda, dan memperkuat keberlanjutan usaha agar kontribusi ekonomi budidaya jangkrik berdampak lebih signifikan, terukur, dan berkelanjutan bagi kesejahteraan anggota. (Anwar, S. & Hidayat R., 2022)
Melalui penerapan teknologi tepat guna, kegiatan PKM ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas produksi, strategi pemasaran (digital marketing) dan daya saing usaha peternak jangkrik serta memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat (Aditya, R., & Wahyuni, S. (2023). Kegiatan proses pengelolaan ternak jangkrik seperti pada gambar di bawah ini:

Gambar 1. Proses Budidaya Jangkrik
Tujuan kegiatan pengabdian ini adalah menyelesaikan permasalahan yang dihadapi mitra melalui peningkatan kualitas produksi dan digital marketing untuk peningkatan pendapatan peternak jangkrik. Kegiatan pengabdian ini diharapkan dapat memberikan dampak nyata bagi mitra melalui peningkatan kualitas produksi dan perluasan pasar berbasis pemasaran digital yang lebih profesional. Bagi tim pengusul dan mahasiswa, kegiatan ini menjadi sarana penerapan iptek sekaligus penguatan kompetensi sosial di masyarakat. Melalui program pendampingan ini, mitra diharapkan mampu mencapai kemandirian usaha yang berkelanjutan (sustainable) dan peningkatan pendapatan yang signifikan, sehingga dapat menjadi model percontohan bagi pelaku usaha peternakan jangkrik lainnya.
METODE KEGIATAN, PERMASALAHAN, DAN SOLUSI
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan mulai bulan April s.d Agustus 2026 pada Kelompok Peternak Jangkrik Boss yang merupakan salah satu kelompok UMKM dengan jumlah anggota sebanyak 13 orang, berlokasi di Dusun Desa, Desa Margaharja, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Ciamis, memiliki jarak sekitar 13 km dari universitas pengusul. Kelompok mitra berada di lingkungan RT 07 RW 02 Desa Margaharja merupakan wilayah desa berkarakter agraris, dengan struktur pemerintahan desa yang lengkap, demografi yang heterogen, serta ekonomi yang berlandaskan sektor pertanian, peternakan dan usaha kecil lainnya.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan metode/pendekatan partisipatif, dengan melibatkan mitra sasaran sebagai pihak utama dalam seluruh aspek kegiatan, sebagaimana disajikan pada tabel di bawah ini.
Tabel 2 Tahapan dan Solusi untuk Mengatasi Permasalahan Mitra
| Tahapan | Solusi | Indikator Capaian (Output) |
|---|---|---|
|
|
Peta permasalahan peternak jangkrik dan baseline pendapatan serta produksi |
|
|
Penurunan tingkat kematian jangkrik, peningkatan hasil panen dan kualitas produk |
|
|
Akses pasar lebih luas dan harga jual lebih stabil dan menguntungkan |
|
|
Peningkatan pendapatan dan program berkelanjutan dan kemandirian peternak |
|
Pembentukan kelompok baru/jejaring peternak jangkrik | Membangun pondasi pengembangan usaha yang lebih mandiri, produktif, dan berkelanjutan. |
Permasalahan yang menjadi prioritas utama yang akan diselesaikan melalui penerapan teknologi tepat guna pada aspek produksi dan pengembangan strategi pemasaran berbasis digital (5). Penanganan permasalahan ini diharapkan mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas produksi melalui waktu panen yang ideal, penerapan digital marketing, peningkatan lapangan kerja baru serta meningkatkan pendapatan dan kemandirian Kelompok Peternak Jangkrik secara berkelanjutan.
Tabel 3 Permasalahan Mitra, Solusi dan Indikator Capaian PKM
| No | Permasalahan Mitra | Solusi yang ditawarkan kepada
Mitra |
Indikator Capaian |
|---|---|---|---|
| 1 | Aspek Produksi | Penerapan teknologi tepat guna budidaya jangkrik meliputi: penyediaan alat pendukung kandang (egg tray), pengukur suhu ruangan (thermostat), mesin pencacah multiguna untuk tambahan pakan, jaring kasa halus, semprotan digital/alat steam, dan SOP budidaya jangkrik.
(Mesin Pencacah Multiguna)
(Egg Tray)
(Thermostat digital)
(Jaring kasa halus)
(Semprotan digital/Alat steam) |
Waktu panen berkurang menjadi ≤31 hari; kualitas produksi meningkat minimal 20% dalam 3 bulan. |
| 2 | Aspek Pemasaran |
Pelatihan pemasaran digital, branding produk, dan pendampingan pemasaran daring |
Produk memiliki identitas usaha & packaging yang menarik; peningkatan penjualan minimal 40% dalam 6 bulan; jangkauan pasar meluas tidak hanya lokal tapi bisa menjangkau ke luar wilayah kabupaten Ciamis. |
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil kegiatan pengabdian ini melalui tahapan sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi dan inovasi, pendampingan dan evaluasi, serta keberlanjutan program menunjukkan bahwa hasil pelaksanaan kegiatan dan pemantauan terhadap perkembangan usaha mitra selama empat bulan pada tahun 2026, diperoleh data mengenai volume produksi, harga rata-rata penjualan, pendapatan, serta waktu panen usaha peternakan jangkrik. Data tersebut menggambarkan kondisi produktivitas dan kinerja ekonomi mitra setelah pelaksanaan program pengabdian, baik melalui pola penjualan konvensional maupun pemanfaatan digital marketing. Secara lebih rinci, hasil pengukuran tersebut disajikan pada Tabel 4 berikut:
Tabel 4 Pendapatan, Volume Produksi dan Waktu Panen selama 4 Bulan Tahun 2026
|
Rata-Rata Volume Produksi/ 1 kali panen |
Harga Rata-Rata Penjualan Konvensional dan Digital Marketing/ Kilogram |
Pendapatan |
Waktu Panen |
| 732,3 kilogram | Rp. 42.000 | Rp. 30.756.600 | 31 hari |
Berdasarkan data pada Tabel 5.1, rata-rata volume produksi jangkrik yang dihasilkan mitra dalam satu kali panen mencapai 732,3 kg, dengan harga rata-rata penjualan sebesar Rp42.000/kg melalui pemasaran konvensional dan digital marketing. Dengan volume produksi dan harga tersebut, pendapatan kelompok mencapai rata-rata Rp30.756.600 dalam satu kali periode panen. Dengan jumlah anggota kelompok sebanyak 13 orang, pendapatan tersebut secara rata-rata setara dengan Rp2.365.892 per peternak dalam satu periode panen. Apabila dihitung berdasarkan waktu panen selama 31 hari, maka rata-rata pendapatan tersebut setara dengan sekitar Rp2.365.892 per peternak per bulan atau sekitar Rp76.319 per peternak per hari. Sementara itu, waktu panen selama 31 hari menunjukkan bahwa siklus produksi jangkrik relatif singkat sehingga memungkinkan mitra melakukan beberapa siklus produksi dalam satu tahun (Afrianto E., & Lestari P., 2022). Hasil tersebut menunjukkan bahwa penerapan teknologi dan inovasi, peningkatan keterampilan, serta penguatan strategi pemasaran melalui kegiatan pengabdian memberikan kontribusi terhadap peningkatan produktivitas dan potensi pendapatan kelompok peternak jangkrik.
Selama pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat, tim PKM melakukan identifikasi dan evaluasi terhadap kondisi nyata yang dihadapi oleh mitra sasaran, yaitu kelompok peternak jangkrik. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa meskipun rangkaian kegiatan dapat terlaksana dengan baik dan teknologi serta inovasi telah diterapkan oleh mitra, masih terdapat beberapa permasalahan yang memerlukan penanganan dan pendampingan lebih lanjut. Permasalahan tersebut terutama berkaitan dengan aspek teknis pemeliharaan dan pengelolaan usaha. Oleh karena itu, tim PKM tidak hanya memberikan solusi terhadap permasalahan yang ditemukan, tetapi juga memberikan penguatan kapasitas mitra melalui pelatihan, pendampingan, dan penyusunan langkah tindak lanjut agar mitra mampu melakukan penanganan secara mandiri dan berkelanjutan (Suryono H. & Fatmawati E, 2021).
Salah satu kendala yang ditemukan dalam pelaksanaan kegiatan PKM adalah adanya satu kandang milik mitra yang mengalami serangan hama berupa tungau/kepik. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena keberadaan hama dapat mengganggu kenyamanan, kesehatan, pertumbuhan, dan kelangsungan hidup jangkrik serta berpotensi menyebar ke kandang lainnya apabila tidak ditangani secara tepat. Faktor pendukung dalam penanganan permasalahan tersebut adalah adanya pendampingan langsung dari tim PKM, keterbukaan mitra dalam menyampaikan kondisi kandang, serta tersedianya sarana pendukung sanitasi dan pemeliharaan kandang yang telah diberikan melalui program. Sebagai solusi, tim PKM memberikan pelatihan mitigasi hama kepada mitra yang mencakup tiga tahapan utama, yaitu pencegahan preventif, penanganan pada saat serangan hama berlangsung, dan tindakan pasca serangan hama (Harahap, R. A., & Sitepu, S. F., 2020).
Pelaksanaan kegiatan pada aspek digital marketing menunjukkan adanya peningkatan kapasitas mitra sasaran dalam memanfaatkan media digital sebagai sarana promosi dan pengembangan pemasaran produk jangkrik. Tim PKM mendorong Kelompok Peternak Jangkrik untuk tidak hanya mengandalkan pemasaran secara konvensional, tetapi mulai membangun identitas usaha, memperluas jangkauan promosi, serta mengembangkan kanal penjualan berbasis digital. Upaya tersebut dilakukan secara bertahap melalui pendampingan yang mencakup pengembangan branding, perbaikan kemasan, pengelolaan media sosial, produksi konten promosi, serta pemanfaatan marketplace atau kanal penjualan daring. Dengan pendekatan tersebut, mitra mulai memiliki instrumen pemasaran yang lebih terstruktur dan mampu memperkenalkan produk kepada calon konsumen secara lebih luas.
Keberhasilan pertama ditunjukkan melalui terbentuknya identitas usaha (branding) Kelompok Peternak Jangkrik yang mencakup penetapan nama usaha, pembuatan logo, dan pengembangan konsep visual produk. Identitas tersebut menjadi bagian penting dalam membangun citra dan daya kenal usaha di tengah persaingan pasar (Hakim M. P. et al, 2024).Selain itu, tim PKM mendampingi mitra dalam mengembangkan kemasan produk jangkrik yang lebih informatif dan memiliki nilai jual, sehingga produk tidak hanya berfungsi sebagai komoditas hasil peternakan, tetapi juga memiliki tampilan yang lebih profesional dan mampu memberikan informasi yang dibutuhkan konsumen. Perbaikan kemasan diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan konsumen sekaligus memperkuat identitas produk mitra (Widiastuti R. & Hartono, S., 2022)
Pada aspek promosi, tim PKM berhasil mendorong mitra untuk membuat dan mengelola minimal dua akun media sosial aktif, yaitu Instagram dan TikTok, sebagai media untuk memperkenalkan produk, aktivitas budidaya, proses produksi, serta informasi terkait produk jangkrik kepada masyarakat dan calon konsumen (Lestari D. P. & Setiawan A. (2024). Pemanfaatan kedua platform tersebut diperkuat melalui pembuatan minimal 10 konten promosi digital selama masa program yang berupa foto produk, video pendek, Reels, dan konten TikTok. Kegiatan ini tidak hanya menghasilkan materi promosi, tetapi juga memberikan pengalaman kepada mitra dalam menyusun materi komunikasi pemasaran yang menarik, informatif, dan sesuai dengan karakteristik media digital. Dengan demikian, mitra mulai memiliki kemampuan untuk melakukan promosi secara mandiri dan berkelanjutan melalui media sosial.
Selanjutnya, untuk memperkuat aspek penjualan, tim PKM memfasilitasi pembuatan dan pengelolaan minimal satu akun marketplace atau kanal penjualan daring yang dapat digunakan untuk menawarkan produk secara langsung kepada konsumen. Keberadaan kanal penjualan daring tersebut menjadi langkah penting dalam memperpendek rantai pemasaran dan membuka peluang bagi mitra untuk menjangkau konsumen di luar wilayah pemasaran konvensional. Secara keseluruhan, pelaksanaan kegiatan pada aspek digital marketing telah menghasilkan perubahan positif dalam pola pemasaran mitra, dari yang sebelumnya lebih berorientasi pada pemasaran konvensional menuju pemasaran yang memadukan pendekatan konvensional dengan kanal digital (Suryono H. & Fatmawati E., 2021). Hasil tersebut menunjukkan bahwa pendampingan yang dilakukan tim PKM telah membantu meningkatkan kesiapan mitra dalam membangun identitas usaha, mempromosikan produk, memperluas jangkauan pasar, dan mengembangkan sistem penjualan berbasis digital secara lebih terarah dan berkelanjutan.
Dalam pelaksanaan PKM, ditemukan permasalahan lain yaitu masih terbatasnya pemahaman mitra mengenai Nomor Induk Berusaha (NIB) dan manfaatnya bagi pengembangan usaha peternakan jangkrik. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aspek administrasi dan legalitas usaha masih memerlukan penguatan. Faktor pendukung dalam penyelesaian permasalahan ini adalah adanya pendampingan dari tim PKM serta antusiasme mitra untuk memperoleh pengetahuan mengenai aspek administrasi dan legalitas usaha (Yusuf M. & Rahmawati F., 2024). Sebagai solusi, tim PKM memberikan sosialisasi dan edukasi mengenai pengertian NIB, fungsi dan manfaat NIB bagi pelaku usaha, serta pentingnya legalitas usaha dalam mendukung pengembangan dan keberlanjutan usaha peternakan jangkrik. Penyampaian materi dilakukan secara sederhana dan kontekstual agar mudah dipahami oleh mitra serta dapat dikaitkan langsung dengan kondisi usaha yang sedang dijalankan.
Sebagai tindak lanjut, mitra diarahkan untuk mulai mempersiapkan data dan dokumen yang diperlukan dalam proses pengurusan NIB melalui sistem perizinan berusaha yang berlaku. Tim PKM memberikan arahan mengenai tahapan pengurusan dan mendorong mitra untuk menyelesaikan proses legalisasi usaha secara mandiri maupun dengan pendampingan apabila masih mengalami kendala. Dengan adanya pemahaman mengenai NIB, diharapkan kelompok peternak jangkrik tidak hanya mampu meningkatkan aspek teknis budidaya, tetapi juga memiliki kesadaran terhadap pentingnya administrasi dan legalitas usaha sebagai bagian dari pengembangan usaha yang berkelanjutan (Armansyah V et al, 2025).
Hasil wawancara dengan ketua kelompok peternak Jangkrik Boss yaitu Bapak Toni Rustandi pada tanggal 12 Agustus 2026 pukul 14.26 yang menyatakan bahwa:
Hibah lima jenis alat teknologi tepat guna sangat bermanfaat untuk kelompok peternak jangkrik dan memberikan dampak positif. Selanjutnya pendapatan peternak jangkrik dari Rp.41.600 menjadi Rp.76.300. Harga rata-rata penjualan jangkrik dari Rp.35.000/kg naik menjadi Rp.42.000/kg yang dijual secara konvensional dan digital marketing. Waktu panen jangkrik dalam satu siklus dari 37 – 40 hari menjadi 31 – 32 hari. Tingkat survival rate dari kisaran 70% – 80% naik menjadi kisaran 81% – 90%. Selanjutnya peternak jangkrik yang awalnya tidak memiliki NIB pada saat ini telah memiliki NIB.
Sejalan dengan pendapat hasil wawancara dari ketua kelompok peternak Jangkrik Boss diperkuat pula oleh ketua Tim PKM Dr. Maman Herman, M.Pd. dengan pendapat yang sama sesuai fakta empirik yang sebenarnya.
Secara umum, seluruh program kerja berhasil terealisasi dengan rincian capaian peningkatan level keberdayaan mitra di uraikan sebagai berikut:
- Aspek Produksi dan Ekonomi
- Modernisasi Sarana: Pemasangan alat pengukur suhu/kelembapan (thermostat), pengadaan media egg tray standar, serta jaring kasa pelindung predator berhasil diimplementasikan penuh pada 13 anggota mitra.
- Mekanisasi Pakan & Sanitasi: Pengadaan 3 unit mesin pencacah multiguna dan 13 unit alat semprotan digital berhasil diserahkan guna mengefisiensikan operasional harian.
- Optimalisasi Biologis: Siklus panen berhasil dipersingkat dari 37–40 hari menjadi 29–32 hari. Tingkat kelangsungan hidup (survival rate) meningkat ke angka 85–90% (mortalitas berkurang hingga 15%).
- Eskalasi Volume & Pendapatan: Volume produksi meningkat 28% dari 572 kg menjadi 732,3 kg. Hal ini mendorong kenaikan pendapatan harian peternak sebesar 54,54%, dari Rp41.621 menjadi Rp76.319 per hari.
- Regenerasi Anggota: Struktur keanggotaan kelompok meluas dari 13 orang menjadi 15 orang dengan penambahan tenaga kerja usia produktif.
- Aspek Pemasaran, Manajerial, dan Legalitas
- Digitalisasi Pemasaran: Kelompok mitra kini memiliki identitas usaha (branding), desain kemasan baru, 2 akun media sosial aktif (Instagram & TikTok) dengan luaran 10 konten kreatif, serta 1 akun marketplace.
- Restrukturisasi Rantai Pasok: Ketergantungan terhadap pengepul berhasil ditekan dari 60% menjadi 30%, di mana 70% penjualan saat ini dilakukan secara langsung ke konsumen akhir.
- Apresiasi Harga: Harga jual jangkrik konvensional yang semula Rp30.000–Rp35.000/kg meningkat menjadi rata-rata Rp42.000/kg (berkisar antara Rp40.000–Rp50.000/kg).
- Kapasitas & Legalitas: Penguatan kapasitas internal diwujudkan melalui pelaksanaan 4 sesi pelatihan standardisasi produksi serta pemenuhan aspek legalitas usaha berupa kepemilikan Nomor Induk Berusaha (NIB).
PENUTUP
Kesimpulan dari PKM ini bahwa Pemberdayaan pada Kelompok Peternak Jangkrik dilaksanakan secara partisipatif melalui lima tahapan utama, yaitu sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi dan inovasi, pendampingan dan evaluasi, serta keberlanjutan program. Kegiatan ini berfokus pada peningkatan kualitas produksi melalui penerapan teknologi tepat guna serta penguatan pemasaran berbasis digital untuk memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan daya saing produk. Hasil pelaksanaan menunjukkan bahwa integrasi teknologi produksi dan strategi digital marketing mampu meningkatkan efisiensi usaha, kapasitas produksi, serta potensi pemasaran mitra. Oleh karena itu, diperlukan pendampingan lanjutan untuk memperkuat optimalisasi teknologi, pengembangan pemasaran digital, manajemen usaha, serta penguatan legalitas usaha guna mendukung keberlanjutan dan daya saing usaha peternakan jangkrik.
Berdasarkan keberhasilan program pengabdian, disarankan untuk melaksanakan pendampingan berkelanjutan yang berfokus pada empat pilar strategis guna menjamin keberlanjutan (sustainability) dan daya saing usaha mitra. Pertama, optimalisasi dan pemeliharaan berkala teknologi tepat guna wajib ditingkatkan untuk menjaga konsistensi kapasitas serta efisiensi produksi. Kedua, penetrasi pasar perlu diperluas melalui diversifikasi saluran pemasaran digital dan pemanfaatan platform e-commerce secara agresif. Ketiga, fasilitasi legalitas formal usaha dan sertifikasi produk harus disegerakan guna meningkatkan kredibilitas mitra di pasar formal. Integrasi ketiga aspek ini diharapkan mampu mentransformasi kelompok peternak menjadi entitas usaha yang mandiri dan kompetitif.
UCAPAN TERIMA KASIH
Tim pelaksana pengabdian kepada masyarakat menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya atas dukungan, bantuan, serta kerja sama dalam pelaksanaan kegiatan ini kepada:
- Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Sainstek), atas dukungan pendanaan hibah pengabdian kepada masyarakat yang telah diberikan.
- Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, selaku instansi pembina dan pengarah program kerja tingkat nasional.
- Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, sebagai lembaga pengelola, pemantau, dan penjamin mutu pelaksanaan program hibah.
- Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV Jawa Barat dan Banten, atas fasilitas dan pengawasan administratif yang diberikan kepada tim PKM.
- Rektor Universitas Galuh, atas kebijakan, fasilitas kampus, dan dukungan penuh terhadap pelaksanaan pengabdian masyarakat ini.
- Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Galuh, atas bimbingan teknis, koordinasi, dan fasilitasi administratif dari awal pengusulan hingga pelaporan.
- Kepala Desa Margaharja, beserta jajaran perangkat desa atas izin wilayah, dukungan moral, dan fasilitas koordinasi di lapangan.
- Ketua dan Seluruh Anggota Kelompok Peternak Jangkrik Boss, atas komitmen luar biasa, partisipasi aktif, serta kerja sama yang solid dalam mengimplementasikan seluruh program intervensi kegiatan PKM.
Semoga kontribusi dan sinergi yang telah terjalin dengan baik di antara seluruh pihak dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan mitra, serta menjadi pemantik bagi pengembangan potensi ekonomi lokal secara lebih luas di Desa Margaharja bahkan bisa direplikasi di desa lain.
DAFTAR PUSTAKA
Aditya, R., & Wahyuni, S. (2023). Pelatihan Pemasaran Digital dan Penerapan Sistem Kontrol Suhu Otomatis pada Kelompok Mitra Peternak Jangkrik di Sektor UMKM. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (Indonesian Journal of Community Engagement), 9(2), 143-151.
Afrianto, E., & Lestari, P. (2022). Efisiensi Waktu dan Manajemen Siklus Produksi Pembesaran Jangkrik Kalung (Gryllus bimaculatus) Sebagai Strategi Pengoptimalan Lahan Terbatas. Jurnal Ilmiah Produksi Peternakan, 8(3), 142-149.
Anwar, S., & Hidayat, R. (2022). Penerapan Teknologi Internet of Things (IoT) pada Pengondisian Suhu Kandang Jangkrik untuk Meningkatkan Produktivitas Kelompok Tani Usaha Mikro. Jurnal Otomasi dan Teknologi Informasi, 5(2), 78-85.
Armansyah, V., et al. (2025). Budidaya Jangkrik untuk Meningkatkan Produktivitas dan Sumber Daya Manusia di Surobayan, Boyolali, Jawa Tengah. Jurnal Krida Cendekia, 1(2), 54-61.
Hakim, M. P. et al, (2024). Edukasi Keuangan dan Pemasaran untuk Peternak Jangkrik: Kunci Kesuksesan UMKM. JCRE: Journal of Community Research and Engagement, STIE Ganesha Jakarta, 1(1), 75-83
Harahap, R. A., & Sitepu, S. F. (2020). Pengendalian Hama Terpadu pada Budidaya Serangga Komersial: Penerapan Metode Preventif dan Kuratif Skala UMKM. Jurnal Proteksi Tanaman Tropis, 11(2), 85-93.
Kurniawan, A., & Setiawan, B. (2021). Kelembagaan Kelompok Tani dan Distribusi Pendapatan Anggota: Studi Kasus Usaha Bersama Peternakan di Pedesaan. Jurnal Penyuluhan dan Pengembangan Masyarakat, 9(3), 210-219.
Lestari, D. P., & Setiawan, A. (2024). Optimalisasi TikTok dan Instagram Reels sebagai Media Komunikasi Pemasaran Digital Satwa Harapan Komersial pada Kelompok Tani Pedesaan. Jurnal Komunikasi Pemberdayaan, 12(1), 45-56.
Nasrullah, N., & Shodiq, A. (2023). Analisis Potensi Ekonomi Budidaya Gryllus bimaculatus Sebagai Usaha Peternakan Berkelanjutan. Prosiding Seminar Nasional Pembangunan Pertanian, Politeknik Pembangunan Pertanian Manokwari, 4(1), 125-132.
Pramono, D., & Setyawan, H. (2024). Analisis Kelayakan Investasi dan Pendapatan Usaha Budidaya Jangkrik di Sektor UMKM Pedesaan. Jurnal Ekonomi, Manajemen dan Akuntansi (EMBA), Universitas Muhammadiyah Riau, 2(3), 89-98.
Saputra, D. D. (2020). Analisis Pendapatan Usaha Budidaya Jangkrik (Acheta Domesticus) di Kabupaten Rokan Hulu (Skripsi Sarjana, Program Studi Agribisnis). Repository Universitas Pasir Pengaraian.
Suryono, H., & Fatmawati, E. (2021). Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pedesaan Melalui Diversifikasi Produk dan Digital Marketing Budidaya Jangkrik Kalung. Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat (JPPM), 5(3), 290-298.
Suryono, H., & Fatmawati, E. (2021). Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pedesaan Melalui Diversifikasi Produk dan Digital Marketing Budidaya Jangkrik Kalung. Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat (JPPM), 5(3), 290-298.
Widiastuti, R., & Hartono, S. (2022). Pendampingan Desain Kemasan dan Label Pangan Ternak Guna Meningkatkan Daya Saing UMKM di Pasar Digital. Jurnal Pengabdian Sentra Inovasi, 10(2), 112-120.
Yusuf, M., & Rahmawati, F. (2024). Akselerasi Pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB) Melalui Sistem OSS sebagai Upaya Penguatan Legalitas Hukum Usaha Mikro di Pedesaan. Jurnal Pengabdian Hukum dan Masyarakat, 7(2), 132-141.
- Penulis: redaktur












Saat ini belum ada komentar