Opini

Ramadhan Pergi, Kita Sibuk Apa? Sindiran Halus yang Menyentil

albadarpost.com, OPINIPerpisahan Ramadhan selalu datang dengan cara yang ironis. Di awal bulan, kita menyambutnya seperti tamu agung. Kita berburu jadwal imsak, menyiapkan target ibadah, bahkan berjanji akan khatam Al-Qur’an. Namun, saat Ramadhan hampir pergi, suasana berubah. Ramadhan sebagai tamu mulia, bulan penuh berkah, dan waktu terbaik beribadah justru kita lepas dalam keadaan setengah hati.

Lucunya, kita sering lebih siap menyambut Lebaran daripada memuliakan detik terakhir Ramadhan. Padahal, justru di penghujung inilah nilai ibadah mencapai puncaknya.

Tamu Mulia yang Disambut Meriah, Dilepas Biasa Saja

Di hari pertama Ramadhan, masjid penuh. Saf rapat, suara tilawah terdengar di mana-mana. Bahkan, media sosial ikut ramai dengan konten religi.

Namun demikian, memasuki hari ke-20, suasana mulai berubah. Jamaah berkurang. Al-Qur’an mulai jarang dibuka. Notifikasi diskon Lebaran justru lebih menarik perhatian.

Padahal, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila datang sepuluh malam terakhir, beliau mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, Nabi justru meningkatkan ibadah saat kita mulai mengendur. Di sinilah ironi itu terasa.

Ketika Lailatul Qadar Datang, Kita Justru Sibuk

Semua orang ingin mendapatkan Lailatul Qadar. Malam yang lebih baik dari seribu bulan itu sering disebut dalam ceramah, bahkan menjadi target utama ibadah.

Allah SWT berfirman:
“Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)

Namun, kenyataannya sering berbeda. Saat peluang itu datang, sebagian orang justru sibuk memilih baju baru, mengejar diskon, atau memikirkan menu Lebaran.

Selain itu, waktu malam yang seharusnya diisi dengan doa malah habis untuk hal yang tidak mendesak. Dengan kata lain, kita mengejar dunia saat akhirat sedang terbuka lebar.

Ibadah Musiman atau Kesadaran yang Sementara?

Perpisahan Ramadhan seharusnya menjadi momen refleksi. Apakah ibadah kita benar-benar tulus, atau hanya mengikuti suasana?

Jika sejak awal kita semangat, tetapi di akhir justru melemah, maka ada yang perlu dipertanyakan. Apakah kita mencintai Ramadhan, atau hanya menikmati euforianya?

Selain itu, Allah SWT mengingatkan:
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. Al-Hijr: 99)

Ayat ini menegaskan bahwa ibadah tidak mengenal musim. Namun, dalam praktiknya, banyak orang menjadikan Ramadhan sebagai satu-satunya waktu serius beribadah.

Zakat, Istighfar, dan Hal Penting yang Sering Ditunda

Menjelang akhir Ramadhan, ada beberapa amalan yang sering dianggap sepele. Padahal, nilainya sangat besar.

Pertama, zakat fitrah. Banyak orang menundanya hingga detik terakhir, bahkan lupa. Padahal, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa…” (HR. Abu Dawud)

Kedua, istighfar. Di penghujung Ramadhan, seharusnya kita lebih banyak memohon ampun. Namun, sebagian justru merasa “cukup” dengan ibadah yang sudah dilakukan.

Selain itu, doa sering terlupakan. Padahal, waktu-waktu terakhir Ramadhan termasuk momen mustajab.

Saat Ramadhan Pergi, Apa yang Tersisa?

Ketika takbir mulai berkumandang, suasana berubah menjadi haru. Namun, pertanyaan penting muncul: apa yang benar-benar kita bawa dari Ramadhan?

Apakah hanya lapar dan haus? Atau ada perubahan nyata dalam diri?

Jika setelah Ramadhan kita kembali pada kebiasaan lama, maka perpisahan ini menjadi sekadar rutinitas tahunan. Namun, jika ada peningkatan iman, maka Ramadhan telah meninggalkan jejak.


Jangan Biarkan Ramadhan Pergi Sendirian

Perpisahan Ramadhan bukan hanya tentang waktu yang berlalu. Ini tentang kesempatan yang mungkin tidak akan terulang.

Oleh karena itu, manfaatkan sisa waktu dengan maksimal. Perbanyak doa, istighfar, dan amal kebaikan. Jangan sampai kita sibuk dengan hal kecil, sementara peluang besar terlewat.

Akhirnya, Ramadhan akan pergi. Namun, pilihan ada di tangan kita: melepasnya dengan penyesalan, atau dengan rasa syukur dan harapan.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Penuis: Diki Samani (Pemimpin Redaksi AlbadarPost)


Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button