Daging Kurban Menumpuk? Begini Rahasia Membuat Abon yang Enak
- account_circle redaktur
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi Proses membuat abon sapi dari daging kurban.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, LIFESTYLE – Suara spatula yang beradu dengan wajan mulai terdengar sejak pagi dari dapur rumah. Di atas meja, potongan daging sapi kurban masih tersimpan dalam plastik bening yang sedikit berembun karena baru keluar dari kulkas. Aroma bawang putih goreng perlahan memenuhi ruangan, bercampur dengan wangi santan yang mulai mendidih di atas kompor.
Sebagian ibu-ibu mulai sibuk mencari cara mengolah daging kurban agar tidak cepat bosan. Sebab setelah sate, gulai, dan sop habis dimasak di hari pertama Idul Adha, pertanyaan yang biasanya muncul mulai sama:
“Daging sebanyak ini enaknya diapakan lagi?”
Di antara banyak pilihan olahan, abon sapi menjadi salah satu yang paling dicari. Selain gurih dan tahan lama, abon dari daging sapi kurban juga praktis dijadikan lauk beberapa hari ke depan.
Namun ternyata tidak sedikit orang gagal membuat abon. Ada yang terlalu keras. Ada yang berminyak. Dan ada pula yang masih meninggalkan bau khas sapi.
Padahal rahasianya justru sering tersembunyi di detail kecil yang kelihatannya sederhana.
Pilih Daging yang Tepat agar Abon Tidak Keras
Salah satu kesalahan paling umum saat membuat abon sapi adalah memilih bagian daging yang terlalu banyak lemak atau terlalu alot.
Untuk hasil abon yang lembut dan mudah disuwir, gunakan:
- daging paha,
- has luar,
- atau sandung lamur secukupnya.
Rebus daging bersama:
- daun salam,
- serai,
- jahe,
- dan sedikit garam.
Di beberapa dapur rumah, tutup panci rebusan kadang bergetar kecil karena air mendidih terlalu lama. Uap panas naik memenuhi kaca jendela dapur. Sementara di dekat kompor, bumbu halus mulai ditumpuk di cobek batu yang warnanya sudah mulai menghitam karena sering dipakai bertahun-tahun.
Agar abon tidak bau, banyak orang juga menambahkan sedikit perasan jeruk nipis sebelum proses perebusan dimulai.
Langkah kecil itu sering membuat aroma daging jauh lebih segar.
Rahasia Abon Sapi Gurih dan Tidak Berminyak
Setelah daging empuk, suwir daging setipis mungkin menggunakan garpu atau ulekan kayu. Semakin halus suwiran daging, biasanya tekstur abon akan semakin lembut.
Bumbu abon umumnya terdiri dari:
- bawang merah,
- bawang putih,
- ketumbar,
- lengkuas,
- gula merah,
- santan,
- dan sedikit asam jawa.
Kemudian tumis bumbu hingga benar-benar harum sebelum mencampurkan daging.
Di tahap ini, suara spatula yang terus mengaduk abon mulai terdengar ritmis dari dapur. “Tak… tak… tak…” pelan mengenai sisi wajan besar yang mulai kecokelatan karena panas. Kadang percikan santan mengenai pinggir kompor sampai meninggalkan noda hitam kecil yang sulit dibersihkan.
Aroma rempah biasanya mulai menyebar sampai ruang tamu.
Dan biasanya, mulai ada yang tidak sabar.
Kadang ada anak kecil yang diam-diam mengambil abon panas langsung dari nampan lalu meniup-niup jarinya sendiri karena kepanasan. Ada pula ibu-ibu yang mencicipi sedikit abon dari ujung spatula sambil meniup pelan karena masih terlalu panas.
Hal-hal kecil seperti itu justru sering membuat suasana dapur Idul Adha terasa lebih hidup.
Namun ada satu rahasia penting yang sering terlupa:
gunakan api kecil.
Abon membutuhkan proses memasak perlahan agar bumbu meresap sempurna dan teksturnya benar-benar kering. Jika api terlalu besar, abon cepat gosong di luar tetapi masih lembap di bagian dalam.
Akibatnya abon mudah basi.
Cara Membuat Abon Lebih Awet dan Tahan Lama
Setelah warna abon berubah cokelat keemasan dan teksturnya mulai ringan, tiriskan minyak menggunakan saringan atau tisu dapur.
Pastikan abon benar-benar dingin sebelum dimasukkan ke dalam wadah tertutup.
Jika proses pengeringannya tepat, abon sapi bisa bertahan:
- hingga beberapa minggu di suhu ruang,
- bahkan lebih lama jika disimpan di kulkas.
Sebagian orang juga menambahkan bawang goreng di tahap akhir agar aroma abon semakin kuat dan gurih.
Di beberapa rumah kampung, abon biasanya disimpan dalam toples besar bekas biskuit kaleng yang tutupnya berbunyi cukup keras ketika dibuka. Kadang baru dua hari disimpan, isinya sudah mulai berkurang karena diam-diam diambil untuk lauk sarapan.
Praktis. Sederhana. Tetapi hampir selalu disukai semua anggota keluarga.
Kenapa Abon Jadi Favorit Saat Idul Adha?
Saat Idul Adha, stok daging di rumah biasanya meningkat drastis. Karena itu, banyak keluarga mulai mencari cara agar daging tidak cepat habis atau terasa monoton.
Abon menjadi pilihan favorit karena:
- tahan lama,
- mudah disimpan,
- dan cocok dimakan dengan apa saja.
Selain itu, abon juga praktis dibawa bepergian atau dijadikan stok makanan anak kos, pekerja, hingga santri.
Di beberapa rumah, proses membuat abon bahkan berlangsung sampai malam. Ada yang mengaduk sambil duduk di kursi plastik dekat dapur. Ada pula yang sesekali membuka tutup wajan hanya untuk memastikan aroma rempahnya sudah pas.
Mungkin memang begitu.
Karena daging kurban bukan hanya tentang pembagian dan penyembelihan.
Kadang kebersamaan justru tumbuh pelan dari dapur yang hangat dan suara spatula yang terus bergerak tanpa henti.
Tips Tambahan agar Abon Makin Enak
Agar hasil abon lebih maksimal:
- gunakan santan secukupnya,
- aduk terus saat proses pengeringan,
- jangan menyimpan abon ketika masih hangat,
- dan gunakan wadah kedap udara.
Selain itu, pilih daging yang benar-benar segar agar rasa abon lebih gurih alami tanpa terlalu banyak penyedap tambahan.
Sebab abon sapi yang enak biasanya tidak hanya terasa gurih.
Tetapi juga punya aroma rempah yang membuat orang tanpa sadar kembali menambah nasi.
Kadang kebahagiaan Idul Adha bukan cuma datang dari banyaknya daging yang dibawa pulang, tetapi dari aroma abon hangat di dapur yang diam-diam membuat satu rumah duduk bersama lebih lama tanpa ingin cepat beranjak. (ARR)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar