Mengantar Anak Sekolah Ternyata Bernilai Ibadah
- account_circle redaktur
- calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
- visibility 41
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi suasana haru saat orang tua mengantarkan anak di hari pertama sekolah.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HUMANIORA – Mengantar anak sekolah pada hari pertama masuk sekolah kembali menjadi perhatian setelah Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Rini Widyantini, mengimbau instansi pemerintah memberikan fleksibilitas kerja bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) yang ingin mendampingi putra-putrinya. Imbauan itu bertujuan mendukung penguatan ketahanan keluarga sekaligus sejalan dengan Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS), yang mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan sejak dini.
Kebijakan tersebut memang berkaitan dengan tata kelola kerja ASN. Namun, di balik itu tersimpan pesan yang lebih luas. Mengantar anak sekolah, peran ayah dalam Islam, dan pendidikan anak menurut Islam bukan sekadar urusan teknis atau rutinitas tahunan. Ketiganya menyentuh amanah orang tua dalam membentuk karakter, rasa aman, dan kepercayaan diri anak sejak langkah pertama mereka memasuki lingkungan pendidikan.
Di Gerbang Sekolah, Ada Pelajaran yang Tidak Tertulis di Buku
Pemandangan pada hari pertama sekolah hampir selalu sama. Sejumlah anak berjalan sambil menggenggam erat tangan ayah atau ibunya. Ada yang berlari penuh semangat menuju kelas baru, tetapi ada pula yang masih memeluk orang tuanya karena cemas menghadapi lingkungan yang belum dikenal.
Momen singkat itu sering dianggap biasa oleh orang dewasa. Padahal, bagi seorang anak, kehadiran orang tua pada hari pertama sekolah dapat menjadi kenangan yang tersimpan lama. Rasa tenang yang muncul karena ditemani orang yang paling dipercaya sering kali menjadi modal awal untuk beradaptasi dengan lingkungan baru.
Karena itu, waktu yang diluangkan orang tua pada hari tersebut bukan sekadar mengantar hingga gerbang sekolah. Lebih dari itu, mereka sedang menunjukkan bahwa anak tidak menghadapi langkah penting dalam hidupnya seorang diri.
Islam Mengajarkan Orang Tua Hadir, Bukan Hanya Memberi Nafkah
Islam memandang keluarga sebagai tempat pertama lahirnya pendidikan. Sebelum anak mengenal guru di sekolah, ia lebih dahulu belajar dari sikap, ucapan, dan teladan orang tuanya.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6).
Ayat ini dipahami para ulama sebagai perintah untuk membimbing keluarga menuju kebaikan melalui pendidikan, pembiasaan, dan keteladanan.
Rasulullah SAW juga dikenal sebagai sosok yang menunjukkan kasih sayang kepada anak-anak. Beliau menggendong cucunya, menyapa mereka dengan lembut, dan tidak segan memperlihatkan kasih sayang di hadapan para sahabat. Teladan tersebut menunjukkan bahwa kedekatan emosional bukan tanda kelemahan, melainkan bagian dari akhlak mulia.
Dalam kehidupan sehari-hari, kasih sayang itu dapat hadir melalui tindakan sederhana, termasuk meluangkan waktu mengantar anak ke sekolah ketika kesempatan memungkinkan.
Kehadiran Orang Tua Membentuk Kepercayaan Diri Anak
Anak belajar bukan hanya dari pelajaran di kelas, tetapi juga dari pengalaman yang ia rasakan bersama keluarganya.
Ketika ayah atau ibu hadir pada momen penting, anak menangkap pesan bahwa dirinya berharga dan mendapat dukungan penuh. Sebaliknya, jika kesibukan terus-menerus menghilangkan kebersamaan, hubungan emosional dapat perlahan merenggang.
Karena itu, keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga menjadi bagian penting dari amanah orang tua. Bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga merupakan tanggung jawab yang mulia. Namun, menyediakan waktu untuk hadir dalam momen penting anak juga memiliki nilai yang tidak kalah besar.
Imbauan pemerintah mengenai fleksibilitas kerja bagi ASN pada hari pertama sekolah dapat dipandang sebagai salah satu upaya memberi ruang agar tanggung jawab profesional berjalan seiring dengan tanggung jawab keluarga.
Madrasah Pertama Selalu Bernama Keluarga
Sekolah memiliki peran besar dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Namun, karakter, adab, dan kebiasaan baik umumnya mulai tumbuh dari rumah.
Sebuah pelukan sebelum anak memasuki gerbang sekolah, doa yang dipanjatkan bersama, atau senyuman yang menguatkan dapat menjadi bekal emosional yang tidak tercantum dalam buku pelajaran mana pun.
Karena itu, orang tua tidak perlu menunggu momen besar untuk mendidik anak. Langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan tulus sering kali menjadi pelajaran yang paling membekas.
Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang apa yang diajarkan, melainkan juga tentang siapa yang hadir ketika anak paling membutuhkan.
Hari pertama sekolah mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun, kehadiran orang tua pada hari itu dapat tinggal dalam ingatan anak selama bertahun-tahun. Dalam Islam, kasih sayang tidak cukup diucapkan. Ia hadir melalui waktu yang diluangkan, tangan yang menggenggam, doa yang dipanjatkan, dan langkah kecil yang mengantarkan anak menuju masa depannya. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar