Humaniora

Di Negeri Orang, Mereka Menangis Diam-Diam Saat Lebaran

albadarpost.com, HUMANIORA – Lebaran tanpa pulang bukan sekadar cerita, tetapi luka yang terus dipeluk diam-diam oleh para pekerja migran. Saat gema takbir menggema di kampung halaman, mereka justru terdiam di kamar sempit di negeri orang. Lebaran tanpa pulang, atau tidak mudik saat Lebaran, bukan pilihan ringan—ini adalah harga yang harus dibayar demi keluarga yang mereka cintai dari jauh.

Air Mata yang Disembunyikan di Balik Senyum Video Call

Di pagi hari raya, sebagian orang saling berpelukan. Namun di sudut lain dunia, seorang pekerja migran hanya menatap layar ponsel. Ia tersenyum, mencoba terlihat kuat, meski air mata hampir jatuh saat melihat wajah ibu yang menua.

Setelah itu, panggilan berakhir. Sunyi kembali datang. Tidak ada suara tawa, tidak ada aroma masakan khas Lebaran. Hanya ada ruang sepi dan dada yang terasa penuh.

Namun demikian, mereka tetap bertahan. Mereka memilih menyembunyikan kesedihan agar keluarga di rumah tidak ikut merasa hancur.

Rindu yang Ditahan Demi Sepiring Nasi di Rumah

Tidak mudik saat Lebaran sering kali berarti menahan rindu yang tak terucap. Para pekerja migran memahami betul bahwa kepulangan mereka mungkin membawa kebahagiaan sesaat, tetapi kepergian mereka kembali bekerja adalah yang menjaga dapur tetap menyala.

Karena itu, mereka menukar momen berharga dengan penghasilan. Mereka mengirim uang, pakaian baru, dan harapan. Sementara itu, mereka sendiri merayakan Lebaran dengan sederhana, bahkan sering kali tanpa siapa pun di sisi mereka.

Lebih dari itu, ada yang sudah bertahun-tahun tidak pulang. Mereka melewatkan banyak hal: kelahiran, pernikahan, bahkan kepergian orang tercinta.

Lebaran yang Hanya Tinggal Kenangan

Bagi sebagian pekerja migran, Lebaran kini hanya hidup dalam ingatan. Mereka mengingat suara takbir di masjid kampung, tangan ibu yang menyuapi, dan hangatnya kebersamaan yang dulu terasa biasa.

Kini, semua itu terasa begitu jauh. Bahkan untuk sekadar mencium tangan orang tua, mereka harus menunggu waktu yang belum pasti.

Sementara itu, dunia di sekitar mereka tetap berjalan seperti hari biasa. Tidak ada suasana hari raya. Tidak ada yang benar-benar mengerti betapa beratnya menahan rindu di hari yang seharusnya penuh bahagia.

Kesunyian yang Tidak Terlihat

Lebaran tanpa pulang menyimpan kesunyian yang sering diabaikan. Dari luar, mereka terlihat kuat. Namun di dalam, ada perasaan yang terus bergolak—antara ingin pulang dan harus bertahan.

Selain itu, tekanan mental juga tidak kecil. Rasa bersalah karena tidak bisa bersama keluarga sering kali menghantui. Tetapi mereka tetap melangkah, karena menyerah bukan pilihan.

Di titik ini, Lebaran berubah menjadi ujian paling sunyi.

Pulang yang Selalu Ditunda

Setiap tahun, mereka berkata, “tahun depan pasti pulang.” Namun kenyataan tidak selalu sejalan dengan harapan. Biaya, kontrak kerja, dan kebutuhan hidup membuat rencana itu terus tertunda.

Meski begitu, harapan tidak pernah benar-benar padam. Mereka terus bekerja, terus bertahan, dan terus bermimpi tentang satu hal sederhana: pulang.

Karena pada akhirnya, Lebaran bukan hanya tentang hari raya. Lebaran adalah tentang rumah—dan bagi mereka, rumah adalah rindu yang belum selesai. (Red)


Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button